“Great is the art of beginning, but greater is the art of ending.” — Henry Wadsworth Longfellow
Rabu pagi (07/01) di Pendopo Sasana Manggala Praja Desa Bakalan terasa berbeda. Sejak pukul 09.00 WIB, warga berdatangan, bukan hanya untuk memeriksakan kesehatan, tetapi juga untuk berpamitan. Hari itu menjadi penanda berakhirnya tugas lapangan Tim Enumerator Pre-Screening NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) di Desa Bakalan, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang.
Perpisahan (farewell) antara Tim Enumerator – Ikrima Dwi Anjani, SKM; Dian Fiqi Amaliah, A.Md.Gz.; Ahmad Ashim Muttaqin, A.Sos.; Handykha Bayangkara, S.T.; dan Arief Budi Santoso, S.Ak. – dengan perangkat desa serta komunitas setempat dikemas dalam kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis yang terbuka bagi seluruh warga. Suasana hangat dan akrab mencerminkan hubungan yang telah terjalin hampir dua bulan sejak tim pertama kali turun lapangan pada 3 November 2025.

Menurut Ikrima Dwi Anjani, selaku Field Supervisor Tim Enumerator, kegiatan pemeriksaan gratis ini memiliki dua makna. “Selain memanfaatkan sisa Bahan Medis Habis Pakai (BMHP), kegiatan ini juga menjadi momen berpamitan kami dengan perangkat desa dan warga yang selama ini sangat kooperatif,” ujarnya.
Selama masa pre-screening, Tim Enumerator Desa Bakalan memiliki target sasaran 1.817 individu berdasarkan hasil Household Listing (HH Listing). Dari jumlah tersebut, tim berhasil mengunjungi 1.320 individu.
Dalam prosesnya, tim menghadapi berbagai dinamika lapangan, mulai dari data ganda, responden yang telah meninggal dunia, pindah alamat ke luar desa, hingga kendala salah input saat HH Listing yang menyulitkan pelacakan meski telah dikonfirmasi ke sejumlah Ketua RT setempat.

Pemeriksaan gratis ini sekaligus menjadi strategi untuk menjaring responden yang sebelumnya sulit ditemui saat kunjungan door to door, namun masih berkenan hadir memenuhi undangan.
Bagi warga yang belum pernah diwawancarai, Tim Enumerator tetap melakukan wawancara bersamaan dengan pemeriksaan kesehatan. Sementara itu, bagi warga yang telah didatangi sebelumnya, mereka cukup mengikuti cek kesehatan saja.
Dalam pelaksanaannya, Tim Enumerator berbagi peran secara sistematis. Ada yang bertugas melakukan pengukuran antropometri, tekanan darah, oksimetri, pemeriksaan gula darah, kolesterol, hingga asam urat.

Antusiasme terlihat tidak hanya dari warga, tetapi juga dari perangkat desa dan kamituwo yang turut berpartisipasi. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari staf magang desa serta anggota Dharma Wanita setempat, yang membantu kelancaran jalannya pemeriksaan.
Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB) yang mendampingi kegiatan ini mencatat hasil capaian pemeriksaan. Dari target sekitar 60 orang, tercatat 33 warga melakukan cek gula darah, 20 orang menjalani cek kolesterol, dan 37 orang memeriksakan asam urat.
Selain menyaksikan pemeriksaan Kesehatan gratis, momen ini juga dimanfaatkan oleh Field Facilitator NIHR UB untuk bersilaturahmi kembali dengan perangkat desa yang selama ini telah terjalin hubungan yang erat.

Acara berakhir sekitar pukul 11.00 WIB, ditutup dengan obrolan ringan, senyum, dan saling mengucapkan terima kasih. Perpisahan ini menjadi penegas bahwa kerja lapangan bukan sekadar soal data, tetapi juga tentang relasi, kepercayaan, dan kebersamaan.
Seperti yang pernah dikatakan Henry Wadsworth Longfellow (1807-1882), seorang penyair Amerika:
“Seni memulai itu hebat, tetapi seni mengakhiri itu lebih hebat lagi.”
Kalimat tersebut terasa relevan menggambarkan penutupan perjalanan Tim Enumerator Pre-Screening NIHR-GHRC NCDs & EC di Desa Bakalan – mengakhiri tugas dengan kepedulian, manfaat nyata, dan kesan yang baik bagi komunitas yang telah hampir dua bulan mereka dampingi. *** [070126]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo