Dari Hembusan Napas Warga Wringinrejo, Ada Harapan untuk Menjaga Kesehatan Paru

You can find your best life with COPD — a life with health, happiness, and hope.” – Jane Martin

“Tarik napas dalam-dalam. Tahan sebentar. Lalu embuskan sekuat dan secepat mungkin.” Begitulah satu per satu warga Desa Wringinrejo, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, mengikuti instruksi di sebuah rumah di Dusun Krajan, Sabtu (15/8) pagi. Di hadapan mereka bukan sekadar alat kesehatan, melainkan spirometer yang merekam kemampuan paru-paru bekerja. Ada yang sekali coba langsung berhasil, ada pula yang harus mengulang. Dari hembusan napas yang tampak sederhana itulah, sebuah ikhtiar untuk mengenali kesehatan paru dimulai.

Rumah Kepala Dusun atau Kamituwo Krajan, Muhammad Ali Mahkrus, di Dusun Krajan RT 03 RW 02, pagi itu berubah menjadi ruang pemeriksaan kesehatan. Sejak pukul 08.00 WIB, rumah tersebut dipadati aktivitas. Kursi-kursi ditata untuk warga yang menunggu giliran, meja pemeriksaan disiapkan, sementara sejumlah tenaga kesehatan dan tim lapangan mulai menjalankan perannya masing-masing.

Pemeriksaan spirometri di Wringinrejo merupakan hasil kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya dengan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi. Kegiatan tersebut dihadiri Research Fellow NIHR UB Fildzah Cindra Yunita, S.Kep., MPH, bersama sejumlah enumerator baseline survey dari desa lain.

Kader melayani bagian meja pendaftaran dengan meminta warga yang diundang mengisi daftar hadir

Sebelum warga datang, dua enumerator baseline survey Desa Wringinrejo, Yunita Pratiwi Suprapto, S.T. dan Firda Octa Vidyawati, S.M., bersama kader kesehatan Siti Mukholifah dan dibantu Kamituwo Muhammad Ali Mahkrus, telah lebih dahulu menyiapkan ruangan.

Semua dibuat agar alur pemeriksaan berjalan tertib. Warga yang datang disambut enumerator Yunita dan Firda, kemudian diarahkan menuju meja pendaftaran. Di sana, kader Siti Mukholifah mencatat kedatangan mereka sebelum mempersilakan warga duduk dan menunggu panggilan tenaga kesehatan RS Yasmin.

Bagi sebagian warga, mungkin ini merupakan pengalaman baru. Pemeriksaan paru yang selama ini terdengar seperti sesuatu yang rumit ternyata dimulai dari tahapan yang sederhana.

Pengukuran tekanan darah oleh nakes RS Yasmin Banyuwangi

Dari meja pertama menuju hembusan napas

Ketika tiba giliran, warga dipanggil menuju meja satu. Dua tenaga kesehatan RS Yasmin terlebih dahulu melakukan pemeriksaan awal berupa pengukuran berat badan, tekanan darah, oksimetri, serta anamnesa. Seluruh hasil pemeriksaan kemudian langsung dimasukkan ke dalam aplikasi SMARThealth.

Setelah itu, warga diarahkan menuju meja dua. Di sinilah spirometer menunggu. Spirometri merupakan pemeriksaan medis non-invasif menggunakan spirometer untuk mengukur jumlah atau volume udara yang dapat dihirup dan dihembuskan, sekaligus mengetahui kecepatan aliran udara dari paru-paru. Pemeriksaan ini relatif singkat, sekitar 15 menit, dan dapat membantu mendeteksi gangguan fungsi saluran pernapasan.

Di meja dua, dua tenaga kesehatan RS Yasmin menjalankan pemeriksaan dengan menggunakan spirometer MIR SpiroLab. Namun, sebelum warga meniup corong alat, mereka terlebih dahulu diberi penjelasan mengenai cara melakukannya.

“Tarik napas sedalam mungkin. Kemudian embuskan sekuat dan secepat mungkin.”

Pemeriksaan spirometri pertama oleh nakes RS Yasmin Banyuwangi

Instruksi tersebut terdengar sederhana. Namun dalam praktiknya, tidak semua orang langsung mampu melakukannya dengan benar. Karena itu, tenaga kesehatan tidak sekadar memasang alat dan menunggu hasil. Mereka menjelaskan, memberi contoh, dan membimbing warga sampai memahami apa yang harus dilakukan.

Empat tenaga kesehatan RS Yasmin – Ns. Fatima Harifatun Anisa, S.Kep.; Khusnul Hotimah, A.Md.Kep.; Ns. Ilfani Fitriyanti, S.Kep.; dan Ns. Yusi Ayu Permatasari, S.Kep. – bekerja di bawah pimpinan Medical Manager RS Yasmin, dr. Handri Irawan, MMRS.

Kesabaran mereka menjadi bagian penting dari pemeriksaan. Warga yang masih ragu diberi kesempatan untuk mencoba kembali. Mereka yang belum memahami teknik meniup diarahkan dengan perlahan. Tidak ada kesan terburu-buru.

Bahkan, petugas yang menjadi sopir RS Yasmin sesekali ikut membantu memperagakan cara meniup. Dengan sabar, ia memberikan aba-aba agar warga dapat mengikuti irama tarikan dan hembusan napas.

Sedotsedotsedotsebul.”

Kalimat itu berulang kali terdengar. Sederhana, tetapi justru membantu warga yang mungkin baru pertama kali berhadapan dengan pemeriksaan spirometri. Di balik alat dan prosedur medis, ada pendekatan yang sangat manusiawi: memberi waktu kepada pasien untuk memahami, mencoba, dan merasa nyaman.

Nebulasi, sebuah jeda sebelum pemeriksaan spiormetri yang kedua

Bukan sekadar meniup alat

Spirometri memang hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Namun, apa yang dilakukan warga di depan alat tersebut memiliki arti lebih panjang.

Pemeriksaan ini menjadi salah satu cara untuk melihat bagaimana paru-paru bekerja. Gangguan fungsi pernapasan tidak selalu datang dengan tanda yang mudah dikenali. Karena itu, pemeriksaan menjadi bagian penting dalam upaya mengetahui kondisi paru secara lebih terukur.

Bagi warga Wringinrejo, kesempatan mengikuti pemeriksaan ini juga berarti kesempatan untuk lebih mengenal kondisi tubuhnya sendiri.

Pemeriksaan spirometri yang kedua usai nebulasi

Tidak semua warga datang dengan kondisi yang sama. Ada yang datang sendiri. Ada pula yang membutuhkan bantuan.

Untuk warga yang tidak memiliki pengantar, salah seorang enumerator baseline survey siap menjemput dan mengantarkan mereka kembali setelah pemeriksaan selesai. Sementara enumerator lainnya memberikan konsumsi dan “subsidi transportasi” kepada warga yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian pemeriksaan.

Perhatian-perhatian kecil tersebut membuat kegiatan ini terasa lebih dari sekadar pemeriksaan medis. Ada kerja bersama agar warga dapat mengikuti seluruh proses dengan nyaman, sejak datang hingga kembali ke rumah.

21 warga datang, 20 menyelesaikan pemeriksaan

Hingga pemeriksaan spirometri berakhir pada pukul 14.20 WIB, sebanyak 21 dari 22 warga yang diundang hadir di lokasi. Dari 21 warga tersebut, 20 orang berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian pemeriksaan.

Satu warga lainnya harus menunda pemeriksaan. Kondisi fisiknya yang sudah sangat sepuh membuatnya gemetar dan kesulitan berjalan. Saat menunggu giliran, kondisi tubuhnya juga memburuk hingga mengalami muntah. Dengan mempertimbangkan kondisinya, pemeriksaan pun tidak dipaksakan.

Keputusan tersebut menunjukkan bahwa dalam pelayanan kesehatan, keselamatan dan kenyamanan pasien tetap menjadi pertimbangan utama. Target pemeriksaan bukan alasan untuk mengabaikan kondisi seseorang.

Di rumah Kamituwo Krajan itu, setiap warga diperlakukan bukan sebagai sekadar angka dalam daftar peserta, melainkan sebagai individu dengan kondisi tubuh dan kebutuhan yang berbeda.

Dari Hembusan Napas Warga Wringinrejo, Ada Harapan untuk Menjaga Kesehatan Paru
Medical Manager RS Yasmin turut mengawal dan menyaksikan jalannya pemeriksaan spirometri

Menjaga napas, menjaga harapan

Pemeriksaan spirometri di Wringinrejo merupakan salah satu kegiatan pemeriksaan yang berlangsung di Kabupaten Banyuwangi pada Sabtu (15/8). Pada hari yang sama, pemeriksaan spirometri ketiga juga dilaksanakan di Desa Sarimulyo.

Dari dua lokasi tersebut, ada satu pesan yang terasa sederhana tetapi penting, yaitu kesehatan paru perlu diperhatikan.

Sebab bernapas adalah aktivitas yang sering kali kita lakukan tanpa disadari. Tarik napas, embuskan. Berulang sepanjang hari, sepanjang tahun, bahkan sepanjang hidup. Karena terlalu biasa, kita sering baru menyadari betapa pentingnya paru-paru ketika kemampuan bernapas mulai terganggu.

Pemeriksaan seperti spirometri menjadi salah satu langkah untuk mengenali kondisi tersebut.

Lebih jauh, menjaga kesehatan paru bukan semata-mata tentang mendapatkan hasil pemeriksaan yang baik. Ini tentang mempertahankan kemampuan untuk menjalani kehidupan sehari-hari, seperti bekerja, berkumpul bersama keluarga, bergerak bebas, dan menikmati hari-hari yang masih panjang.

Enumerator dan kader melakukan pengecekan daftar hadir pemeriksaan dan rekapitulasi

Semangat itu sejalan dengan pesan Jane M. Martin tentang kehidupan bersama PPOK. Dalam Live Your Life with COPD – 52 Weeks of Health, Happiness, and Hope: Second Edition (2020), Martin menekankan bahwa diagnosis PPOK bukan berarti seseorang harus berhenti menjalani kehidupan yang bermakna. Ia menggambarkan kemungkinan untuk tetap menjalani best life with COPD, sebuah kehidupan yang tetap memiliki kesehatan, kebahagiaan, dan harapan.

“Anda dapat menjalani kehidupan terbaik meski mengidap PPOK — kehidupan yang penuh kesehatan, kebahagiaan, dan harapan.”

Kalimat tersebut terasa relevan dengan apa yang berlangsung di Wringinrejo pagi hingga siang itu. Pemeriksaan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan kesehatan. Justru, ia bisa menjadi awal, awal untuk mengetahui kondisi diri, mengambil langkah yang diperlukan, dan menjaga kualitas hidup.

Pada akhirnya, yang keluar dari corong spirometer bukan sekadar hembusan udara. Di sana ada ikhtiar untuk mengenali tubuh lebih dekat. Satu tarikan napas.

Satu hembusan, dan dari sana, harapan untuk terus menjalani kehidupan dengan paru-paru yang lebih sehat. *** [170826]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment