Spirometri Ketiga Desa Sarimulyo: Dari Rumah Kepala Dusun, Warga Mengukur Kesehatan Paru

It’s important to educate yourself now versus later. Knowledge is power, and having all the knowledge at the start will make the rest of the journey that much easier to deal with.” – Unknown

Sabtu (15/08) pagi, rumah Kepala Dusun (Kamituwo) Sempu, Muhammad Hudhori, di Dusun Sempu RT 03 RW 02, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, tampak lebih ramai dari biasanya. Kursi-kursi tertata di bawah kanopi galvanis di halaman depan. Empat meja bertaplak biru telah disiapkan. Hari itu, rumah yang juga dikenal sebagai “Omah Berembug” berubah menjadi ruang pelayanan kesehatan.

Sejak pukul 08.00 WIB, warga yang telah menerima undangan datang bergantian. Mereka merupakan warga yang sebelumnya terindikasi memiliki kemungkinan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) berdasarkan pre-screening oleh enumerator NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC). Pemeriksaan spirometri ini menjadi pelaksanaan yang ketiga di Desa Sarimulyo.

Spirometri Ketiga Desa Sarimulyo: Dari Rumah Kepala Dusun, Warga Mengukur Kesehatan Paru
Lambaian umbul-umbul merah putih menyambut warga dalam pemeriksaan spirometri di rumah Kepala Dusun atau Kamituwo Sempu di Dusun Sempu, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Begitu tiba, warga diarahkan ke dua meja pertama. Di loket satu, enumerator baseline survey, Istifani Shafira, SKM, memeriksa undangan dan mencocokkannya dengan daftar peserta dalam aplikasi SMARThealth. Warga kemudian memperoleh penjelasan melalui video panduan pemeriksaan spirometri yang dibuat Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi yang dilakukan oleh enumerator baseline survey Istifani maupun Triana Rahmah, S.AB. Untuk peserta lanjut usia, penjelasan disampaikan kembali dengan bahasa yang lebih akrab agar mudah dipahami.

Setelah itu, warga menunggu giliran dipanggil tenaga kesehatan RS NU Banyuwangi. Empat nakes – Joenhiga, Marni Erlina, Dewi, dan Evi Faiza – bertugas dalam pemeriksaan hari itu.

Tahapan awal dimulai dengan pengukuran berat badan, tekanan darah, dan kadar oksigen. Setelah itu, nakes menjelaskan cara melakukan spirometri. Pasien diminta duduk tegak, memasang penjepit hidung, menarik napas sedalam mungkin, lalu mengembuskannya melalui corong dengan kuat dan selama mungkin.

Suasana pemeriksaan spirometri di rumah kamituwo Sempu

Bagi sebagian warga, prosedur tersebut sempat terasa menegangkan. Namun, setelah menjalaninya, kekhawatiran itu berubah menjadi kelegaan.

“Awalnya saya kira pemeriksaannya sakit. Ternyata hanya perlu mengatur napas dan meniup alat,” ujar seorang pasien perempuan yang datang bersama suaminya.

Spirometri memang bukan pemeriksaan yang rumit. Tes ini mengukur volume dan kecepatan udara yang dapat dihirup dan diembuskan seseorang. Hasilnya membantu tenaga kesehatan menilai fungsi paru serta melihat kemungkinan gangguan seperti asma atau PPOK.

Dua enumerator baseline survey di loket 1, selain mendaftar juga memberikan panduan spirometri dengan video bikinan RS NU Banyuwangi sebelum mereka memulai pemeriksaan

Sebelum meniup alat, peserta juga diwawancarai mengenai keluhan pernapasan, kebiasaan merokok, riwayat penyakit, dan obat yang dikonsumsi melalui aplikasi SMARThealth. Tinggi badan diukur dan peserta dipastikan memahami instruksi. Manuver pernapasan biasanya dilakukan beberapa kali agar hasil pemeriksaan dapat dinilai dengan lebih baik.

Bagi warga yang kerap mengalami sesak napas, batuk berkepanjangan, mudah lelah, memiliki kebiasaan merokok, atau terpapar asap pembakaran sampah, tungku rumah tangga, maupun kendaraan, pemeriksaan seperti ini menjadi langkah penting untuk mengenali kondisi paru lebih dini.

Hasil spirometri pun tidak ditentukan hanya oleh satu angka. Tenaga kesehatan mempertimbangkan sejumlah parameter, antara lain FVC, FEV1, serta rasio FEV1/FVC. Angka-angka tersebut perlu ditafsirkan dengan melihat usia, jenis kelamin, tinggi badan, keluhan, dan riwayat kesehatan peserta. Jika terdapat hasil yang perlu ditindaklanjuti, warga dapat diarahkan ke puskesmas atau dokter.

Nakes di bagian anamnesa berikan pandua praktis cara meniup dan melepaskan napas sebelum mereka mengikuti pemeriksaan spirometri

Kamituwo Hudhori menyambut baik rumahnya yang sementara berubah fungsi menjadi tempat pelayanan kesehatan. Baginya, Omah Berembug tidak hanya menjadi tempat warga berkumpul dan bermusyawarah, tetapi juga dapat menjadi ruang edukasi dan pelayanan kesehatan.

“Dengan pemeriksaan seperti ini, warga menjadi lebih sadar bahwa kesehatan paru perlu diperiksa, bukan hanya ketika sudah mengalami sakit berat,” katanya yang sembari didampingi Kamituwo Rejomulyo Atim Suhainik.

Di tengah antrean, M. Taufiq Dwi Saputo, seorang warga yang masih aktif merokok dan gemar minum kopi tersebut, mengaku baru pertama kali menjalani spirometri. Ia berharap hasil pemeriksaan menjadi pengingat untuk mengurangi kebiasaan merokok.

Pemeriksaan spirometri oleh nakes RS NU Banyuwangi dalam NIHR-GHRC NCDs & EC

Semangat pemeriksaan itu sejalan dengan sebuah pesan sederhana dari seseorang yang tidak diketahui namanya (unknown):

“Penting untuk membekali diri dengan pengetahuan sejak awal, bukan nanti. Pengetahuan adalah kekuatan, dan memiliki bekal pengetahuan lengkap sejak permulaan akan membuat perjalanan selanjutnya jauh lebih mudah untuk dilalui.”

Pengetahuan memang menjadi bagian penting dari pemeriksaan. Warga bukan sekadar datang, meniup alat, lalu membawa pulang hasil. Mereka juga belajar memahami kondisi tubuh dan pentingnya menjaga kesehatan paru.

Kegiatan yang diselenggarakan NIHR Universitas Brawijaya (UB) bersama RS NU Banyuwangi sebagai bagian dari NIHR-GHRC NCDs & EC itu turut dihadiri Kepala Desa Sarimulyo Budi Susilo, S.T., dua kamituwo, Field Facilitator NIHR UB, Research Fellow serta sejumlah enumerator baseline survey dari desa lain.

Kades Sarimulyo selalu aktif menyapa wargaya dalam pemeriksaan spirometri

Hingga berakhir pukul 14.40 WIB, sebanyak 34 dari 40 undangan warga Dusun Sempu  dan Dusun Rejomulyo telah menjalani pemeriksaan. Di luar 40 undangan pemeriksaan spirometry yang ketiga ini, dua pasien reschedule dari pemeriksaan sebelumnya juga berhasil dilayani.

Sementara itu, enam warga yang tidak hadir berhalangan dalam pemeriksaan spirometri yang ketiga ini, karena mereka bekerja, berada di luar kota, atau mendampingi anak yang akan melahirkan di rumah sakit. Warga yang sebelumnya tidak dapat datang maupun meminta pemeriksaan lebih awal tetap diupayakan untuk dilayani.

Dibandingkan pemeriksaan kedua, pelaksanaan kali ini juga berlangsung lebih cepat. Dari proses yang diamati Field Facilitator NIHR UB, komunikasi nakes dengan pasien menjadi salah satu kuncinya. Penjelasan diberikan sebelum pemeriksaan, instruksi disampaikan dengan sabar, dan warga diberi kesempatan memahami setiap tahapan. Kolaborasi antara nakes dan enumerator di lapangan membuat pasien lebih siap menghadapi pemeriksaan.

Enumerator baseline survey siap antar jemput bagi pasien yang memerlukannya

Usai rampung pemeriksaan, pasien sebelum meninggalkan tempat harus menuju ke loket 2. Loket 2 yang dilayani oleh enumerator baseline survey Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep. akan mencocokan ulang dengan list yang ada di aplikasi SMARThealth, lalu ia akan mengucapkan terima kasih atas partisipasinya dan berharap pasien akan sehat selalu di kemudian hari.

Menjelang sore, halaman rumah Kamituwo Hudhori kembali perlahan lengang. Kursi dan meja masih tersusun, tetapi antrean telah berakhir. Warga pulang membawa hasil pemeriksaan sekaligus pengetahuan baru.

Dari sebuah rumah Kamituwo Sempu di tengah dusun, perhatian terhadap kesehatan pernapasan tumbuh perlahan di mana melalui satu tarikan napas, satu pemeriksaan, dan satu kesadaran baru untuk menjaga paru-paru. *** [160826]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment