“COPD is a thief. It steals your breath, your ability to move, and your ability to live.” – Unknown
Tiga pohon kelapa genjah entok yang berbuah lebat berjajar di halaman samping rumah. Di bawahnya, warga satu per satu berdatangan. Pagi itu, rumah kader Posyandu Siti Bariyah di Jalan Pahlawan, Dusun Cempoksari RT 02 RW 03, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, berubah menjadi tempat pemeriksaan spirometri.
Jumat (14/08) menjadi hari kedua pelaksanaan pemeriksaan spirometri di Desa Sarimulyo. Sebanyak 41 warga yang sebelumnya terindikasi memiliki risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) melalui proses pre-screening, diundang untuk mengikuti pemeriksaan.
Jumlah tersebut lebih banyak dibanding pemeriksaan sebelumnya. Ada imbauan untuk menambah kuota, sementara pihak Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi juga menghendaki seluruh warga yang diundang hadir pada pagi hari agar tenaga kesehatan dapat memberikan penjelasan bersama mengenai alur pemeriksaan.

“Dihadirkan pagi-pagi saja agar tenaga kesehatan NU bisa mengajari bareng terlebih dahulu alur pemeriksaannya,” jelas perawat Yofi Agung Prastyawan.
Undangan untuk 41 warga itu sebelumnya diantarkan oleh tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) – Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep., Istifani Shafira, SKM., dan Triana Rahmah, S.AB. – bersama para kamituwo yang senantiasa mendampingi kegiatan di masyarakat.
Pukul 08.00 WIB, pemeriksaan dimulai. Warga terlebih dahulu menuju loket 1. Di sana, enumerator Istifani dan Triana melakukan pendaftaran dengan mencocokkan nomor NIK dengan nomor ID secara teliti. Ketelitian menjadi penting agar setiap data warga tercatat dengan benar.

Setelah mendaftar, warga menunggu giliran. Empat tenaga kesehatan RS NU – Umi Pasiroh, S.Keb., Siti Nur Indah Sari, S.Kep.Ns., Lavinia Agustin, S.Kep.Ns., dan Warta Dwi, S.Kep.Ns.- bersiap melakukan pemeriksaan. Mereka semula didampingi teknisi Bariroh Izzatul, S.Tr.Kes., staf dokumentasi Ardi Choisal Muhar, S.Sos., serta pengemudi Pendi.
Pemeriksaan berlangsung bertahap. Warga dipanggil menuju meja perawat Siti Nur Indah untuk menjalani pengukuran tekanan darah dan berat badan. Selanjutnya dilakukan anamnesis, dengan jawaban warga diinput oleh bidan Umi Pasiroh.
Tahap berikutnya adalah pemeriksaan spirometri. Pasien diminta melakukan manuver pernapasan menggunakan alat untuk mengukur fungsi paru-paru. Setelah pemeriksaan pertama, warga mendapatkan semprotan Salbutamol sulfate dan menunggu beberapa menit sebelum menjalani pemeriksaan lanjutan.

Bagi sebagian warga, meniup alat spirometri mungkin tampak sederhana. Namun, di balik hembusan napas itu ada upaya untuk mengetahui seberapa baik paru-paru bekerja.
“PPOK adalah pencuri. Penyakit ini mencuri napas Anda, kemampuan Anda untuk bergerak, dan kemampuan Anda untuk menjalani hidup.”
Ungkapan tersebut menggambarkan mengapa pemeriksaan fungsi paru tidak semata-mata penting untuk menghasilkan angka diagnostik. Pemeriksaan spirometri juga dapat menjadi pintu bagi seseorang untuk mengenali kondisi tubuhnya, memahami keterbatasan akibat sesak napas, serta mulai menerima kondisi kesehatan yang dialami. Kesadaran tersebut pada akhirnya dapat menjadi langkah awal menuju perubahan perilaku dan gaya hidup yang lebih sehat.
Di rumah kader Siti Bariyah, proses itu berlangsung dalam suasana gotong royong. Kepala Desa Budi Susilo, S.T., tiga kamituwo, dua kader kesehatan, Research Fellow, enumerator baseline survey dari Desa Tamanagung dan Kaliploso, serta Field Facilitator NIHR UB turut hadir mendukung kegiatan.

Pemeriksaan sebenarnya berjalan lancar, namun jumlah tenaga kesehatan yang terbatas membuat antrean berlangsung hingga sore. Berdasarkan pengamatan Field Facilitator NIHR UB, satu alat spirometri idealnya digunakan untuk sekitar 25 pasien.
Setelah salat Jumat, RS NU kemudian mengirimkan tambahan alat spirometri Easy on-PC dengan OrderID 2700-3. Namun, tambahan alat tersebut belum diikuti penambahan tenaga kesehatan.
Di sela pemeriksaan, enumerator Istifani turut membantu warga memahami cara meniup dan mengeluarkan napas dengan benar. Sementara itu, beberapa warga yang belum datang setelah salat Jumat dijemput oleh enumerator Triana bersama kamituwo Cempokosari Rudy Hartoyo, S.E., menggunakan mobil operasional layanan kesehatan Pemerintah Desa Sarimulyo.

Hingga pemeriksaan berakhir sekitar pukul 17.00 WIB, sebanyak 36 warga berhasil diperiksa. Dua hasil pemeriksaan tidak terbaca, sedangkan tiga warga yang sempat hadir harus meninggalkan lokasi sebelum pemeriksaan selesai karena harus kembali bekerja.
Bagi warga yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian pemeriksaan, perjalanan mereka berakhir di loket 2. Enumerator Kiki Antikawati menyampaikan terima kasih atas partisipasi mereka, mendoakan agar selalu sehat, lalu menyerahkan kotak konsumsi dan “subsidi transportasi”.
Di halaman rumah kader Posyandu itu, tiga pohon kelapa tetap berdiri dan berbuah lebat. Sementara para warga pulang membawa sesuatu yang lebih penting dari sekadar hasil pemeriksaan: kesempatan untuk mengenal kondisi paru-paru mereka dan, mungkin, mulai lebih menghargai setiap tarikan napas. *** [150826]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo