“Refuse what you do not need; reduce what you do need; reuse what you consume; recycle what you cannot refuse, reduce, or reuse; and rot (compost) the rest.” — Bea Johnson, Zero Waste Home: The Ultimate Guide to Simplifying Your Life
Di tengah hiruk-pikuk tugas lapangan di Banyuwangi, ada satu pemandangan yang bikin terngiang-ngiang, yaitu sebuah “pabrik” bersih yang justru mengolah sampah, bukan menimbunnya. Itulah TPS Balak, wajah baru pengelolaan sampah modern di ujung timur Jawa yang membuktikan bahwa sampah bisa jadi berkah, bukan beban.
Sekilas TPS Balak: Dari Nama hingga Skala Layanan
TPS Balak – singkatan dari Tempat Pengolahan Sampah di Desa Balak – bukan sekadar tempat buang sampah. Fasilitas ini dirancang sebagai TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) berkapasitas 84 ton per hari, berdiri di atas lahan sekitar 1,5 hektar di Dusun Derwono, Desa Balak, Kecamatan Songgon.
Resmi beroperasi sejak 16 September 2023, TPS ini melayani puluhan ribu rumah tangga di 37 desa yang tersebar di enam kecamatan: Songgon, Sempu, Genteng, Singojuruh, Rogojampi, dan Kabat.
Dalam skema Program Banyuwangi Hijau, TPS Balak berperan sebagai “stasiun” pengolahan sampah sirkular: memilah, mengolah, dan mengembalikan material ke siklus ekonomi sebelum akhirnya residu minimal dikirim ke TPA.
Pertama Kali Melangkah ke Gerbang: Impresi yang Mengubah Cara Lihat Sampah
Kunjungan Field Facilitator NIHR UB pada Kamis (03/09) berlangsung di sela tugas lapangan, diantar enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Disease and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Wringinagung, Muhammad Wisnu Nafiri, S.E. yang baru selesai pemeriksaan spirometri kelima kalinya sehari sebelumnya.
Begitu tiba, kesan pertama langsung muncul: area depan gerbang rapi, halaman dipenuhi motor pengangkut sampah yang sudah didesain agar sampah dari rumah tangga terpilah – organik dan anorganik – sejak dari sumbernya.
Ada pos satpam di gerbang dan lagi di jalur menuju area pengolahan. Petugas menyambut dengan baik, meski kunjungan spontan itu belum bisa masuk ke ruang mesin pengolahan karena belum ada surat izin ke UPT Pengelolaan Persampahan DLH Kabupaten Banyuwangi. Namun, dari luar saja sudah terlihat, bahwa tempat ini bukan TPS yang bau dan kumuh, melainkan fasilitas terstruktur dengan alur kerja jelas.

Mengapa “Pengolahan”, Bukan “Pembuangan”?
Sesuai namanya, TPS Balak mengolah sampah. Prinsipnya 3R: Reduce (mengurangi timbulan sampah), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (mendaur ulang). Urutan ini pentingnya, sebelum memikirkan daur ulang, langkah pertama adalah menekan jumlah sampah yang muncul, lalu memberi “kehidupan kedua” pada material, baru akhirnya memproses apa yang tak bisa dihindari.
Di lapangan, konsep ini diterjemahkan menjadi rantai kerja yang terukur, yakni sampah yang sudah terpilah dari rumah diangkut, ditampung, dipilah lagi berdasarkan jenis plastik dan material, lalu diarahkan ke jalur yang tepat – kompos untuk organik, bahan daur ulang untuk plastik, dan bahan bakar alternatif RDF (Refuse Derived Fuel) untuk fraksi tertentu. Hasilnya? Residu yang benar-benar harus dibuang ke TPA jadi jauh lebih sedikit.
Teknologi, Kapasitas, dan Dampak Nyata
TPS Balak dilengkapi teknologi pengolahan modern sehingga mampu menangani hingga 84 ton sampah per hari, setara dengan kebutuhan sekitar 250 ribu penduduk atau lebih dari 55 ribu rumah tangga. Sampah organik diolah menjadi kompos berkualitas, sementara sampah anorganik dipilah menjadi plastik daur ulang. Sebagian material bahkan diolah menjadi RDF, bahan bakar alternatif yang bisa mensubstitusi sebagian kebutuhan energi industri.
Dampaknya tidak hanya lingkungan. Karena semua pekerja TPS Balak adalah warga sekitar, fasilitas ini juga membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi lokal. Dalam narasi ekonomi sirkular, “sampah” berputar menjadi sumber daya: ada plastik daur ulang yang kembali ke pasar, ada kompos yang menyuburkan lahan, ada RDF yang memberi nilai energi.

Banyuwangi Hijau: Dari Proyek Menjadi Model
TPS Balak adalah implementasi nyata Program Banyuwangi Hijau, inisiatif Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyuwangi untuk menciptakan lingkungan lebih bersih dan berkelanjutan lewat pengelolaan sampah sirkular. Pembangunan fasilitas ini melibatkan PT Systemiq Lestari Indonesia dan mendapat dukungan Pemerintah Norwegia, Borealis, USAID, serta lembaga pendonor lain.
Sejak 2023, Program Banyuwangi Hijau memperkuat pendekatan “pilah–olah–manfaatkan” untuk menggeser pola lama “kumpul–angkut–buang”. TPS Balak, bersama jaringan TPS3R lain, menjadi tulang punggung strategi ini, yaitu mengurangi residu, meningkatkan pemanfaatan material, dan menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk memilah sejak dari rumah.
Kutipan Penutup: Prinsip Zero Waste yang Selaras dengan TPS Balak
Semangat TPS Balak sejalan dengan prinsip zero waste yang populer digaungkan Bea Johnson dalam Zero Waste Home: The Ultimate Guide to Simplifying Your Life by Reducing Your Waste (2013):
“Tolak apa yang tidak Anda butuhkan; kurangi apa yang Anda butuhkan; gunakan kembali apa yang Anda konsumsi; daur ulang apa yang tidak bisa Anda tolak, kurangi, atau gunakan kembali; dan biarkan sisanya membusuk (menjadi kompos).”
Di Balak, prinsip itu tidak hanya jadi slogan – ia dijalankan lewat infrastruktur, alur kerja, dan partisipasi warga, sehingga sampah benar-benar dikelola, bukan sekadar dipindahkan. *** [040926]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo