“It’s all to do with the training: you can do a lot if you’re properly trained.” — Queen Elizabeth II
Ini kisah tentang kesabaran, ketelitian, dan pentingnya pelatihan yang tepat yanbg terkemas dalam pelaksanaan pemeriksaan spirometri kelima kalinya di Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi.
Rabu (02/09), Balai Dusun Glowong di RT 02 RW 02 kembali menjadi saksi hidup dari komitmen panjang tim enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC).
Untuk kelima kalinya, Muhammad Wisnu Nafiri, S.E.; Maharany Triastuti Januarizki, S.ST; dan Winda Cahyani, S.Tr.Gz.RD, atau yang akrab disapa dengan Wisnu, Rany, dan Winda, mengelola implementasi pemeriksaan spirometri bersama kader kesehatan setempat.

Beberapa hari sebelumnya, mereka sudah berkeliling dari rumah ke rumah, mengantarkan undangan kepada responden hasil pre-screening yang memiliki faktor risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).
Bukan sekadar membagikan kertas undangan, enumerator juga dengan sabar menjelaskan jam pemeriksaan yang telah dijadwalkan. Tujuannya sederhana namun krusial, yakni menghindari antrean menumpuk yang bisa membuat responden bosan atau bahkan melewatkan jam-jam penting mereka.
“Penentuan jam ini tidaklah mudah,” aku Koordinator enumerator Desa Wringinagung. Berdasarkan karakteristik dan kebiasaan responden – ada yang harus ke sawah pagi, ada yang mengantar anak ke sekolah – tim akhirnya menentukan slot waktu yang paling memungkinkan. Namun, seperti rencana lain dalam hidup, kadang semuanya tidak berjalan sesuai skenario.
Personel dari Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi baru tiba pada pukul 08.41 WIB, lebih dari 40 menit dari jadwal yang diharapkan. Pemeriksaan baru benar-benar siap dimulai sekitar pukul 09.08 WIB. Tapi bukan itu yang membuat hari itu berkesan, melainkan bagaimana semua pihak tetap tenang dan melanjutkan alur yang sudah mereka kuasai.

Begitu responden yang diundang datang, mereka disambut hangat oleh enumerator dan kader kesehatan. Lalu dipandu menuju meja pendaftaran di sisi tenggara Balai Dusun Glowong. Di sana, enumerator Rany dan Winda secara bergantian melakukan registrasi dan verifikasi bersama dua kader kesehatan – Lasmi dan Riski Rahayu. Sistemnya efisien, yakni ketika satu enumerator menjemput pasien, enumerator lainnya yang mengerjakan pendaftaran, begitu pula dengan kader.
Dari meja pendaftaran, responden dipersilakan duduk di kursi antrean sambil menunggu panggilan dari tenaga kesehatan RS Yasmin. Ada empat perawat yang bertugas hari itu – Yenni Rachmawati, Windi Nurrohini, Tria Firnasari, dan Rizki Indrawani – dipimpin oleh dr. Dewangga Sakti Satria.
Sambil menunggu, enumerator Wisnu dengan sabar mengajari ulang teknik penarikan napas dan penyembulannya. Ini bukan pertama kalinya ia melakukan itu. Meski saat mengantar undangan enumerator sudah memberikan video tutorial dari RS Yasmin, pengulangan tetap diperlukan.
“Spirometri itu tes sederhana, tapi butuh teknik yang benar,” begitu kira-kira pesan yang selalu Wisnu sampaikan. Dan ia benar. Spirometri adalah tes medis untuk menilai fungsi paru-paru dengan mengukur volume udara yang dihirup dan dihembuskan, serta kecepatan aliran udara. Hasilnya bisa menentukan apakah seseorang berisiko PPOK atau tidak.

Begitu mendapat panggilan, responden menuju meja panjang di sisi timur. Di sana, Perawat Yenni memeriksa Tanda-Tanda Vital (TTV) seperti tekanan darah dan oksimetri. Ini penting untuk memastikan kondisi tubuh responden aman dan stabil sebelum melakukan manuver napas yang cukup kuat.
Lalu, dr. Dewangga melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik menggunakan stetoskop pada punggung dan dada. Ia juga mengetuk-ngetuk dada responden dengan jari, sebuah teknik perkusi klasik untuk mendeteksi ada tidaknya kelainan.
Setelah itu, responden dipanggil lagi ke meja di sisi barat, yaitu meja spirometri. Perawat Windi melakukan tes spirometri tahap 1 atau pre-nebulasi, didampingi Perawat Rizki yang mengoperasikan laptop terhubung dengan alat spirometri.
Usai tes tahap 1, responden bergeser lagi ke meja panjang untuk menerima nebulasi dari Perawat Tria. Nebulasi adalah pemberian obat melalui uap yang dihirup, bertujuan membuka saluran napas sebelum tes kedua dilakukan.

Setelah gilirannya, responden dipanggil kembali untuk tes spirometri tahap 2 atau post-nebulasi. Caranya sama dengan tahap 1, yaitu tarik napas dalam-dalam, tutup mulut rapat-rapat di sekitar mouthpiece, lalu embuskan sekuat dan secepat mungkin. Proses ini diulang beberapa kali untuk memastikan hasil yang konsisten dan akurat.
Hari itu, pada pukul 10.59 WIB, dua responden tunarungu hadir. Biarpun diberi aba-aba sekeras apa pun, mereka tidak mendengar. Field Facilitator NIHR UB yang memantau jalannya pemeriksaan akhirnya menyarankan untuk mengecualikan (exclude) kedua responden tersebut agar pemeriksaan berikutnya tidak terhambat.
Ini bukan soal diskriminasi, melainkan pragmatisme dalam keterbatasan waktu dan sumber daya. Dalam pemeriksaan massal seperti ini, setiap menit sangat berharga.
Selain itu, pemeriksaan kali ini juga diwarnai kehadiran sejumlah responden lansia dan yang pernah mendapatkan pengobatan TBC. Perawat yang bertugas terlihat ekstra hati-hati dalam melayani, terkadang didampingi enumerator yang paham betul karakteristik responden.

Di sinilah letak perbedaan antara perawat yang telah mendapatkan pelatihan spirometri dengan baik dan yang tidak, terutama dalam menghadapi beragam jenis responden. Studi terbaru menyimpulkan bahwa pelatihan spirometri yang dilakukan oleh perawat secara signifikan meningkatkan tingkat kepercayaan diri serta ketepatan teknik pasien.
Temuan ini menyoroti peran krusial perawat dalam mengedukasi pasien, serta pentingnya demonstrasi yang terencana dengan baik dalam upaya meningkatkan kualitas layanan pada praktik perawatan pernapasan (Tasha et al., 2025).
Field Facilitator NIHR UB yang memantau beberapa kali kegiatan spirometri mencatat bahwa setiap kegiatan memiliki teknik penanganan dan pelayanan yang berbeda, meski dalam satu institusi. Perawat yang berbeda, serta beragam pendekatan edukasi yang dipimpin oleh perawat, memiliki dampak yang dapat diukur terhadap akurasi spirometri maupun kepercayaan diri pasien.
Ratu Elizabeth II (1926-2022) dari Britania Raya, pernah berkata:
“Semuanya bergantung pada pelatihan: Anda bisa melakukan banyak hal jika mendapatkan pelatihan yang tepat.”

Kata-kata ini seolah menjadi mantra yang menggema di Balai Dusun Glowong pagi itu. Setiap gerakan dan instruksi perawat, serta setiap tarikan napas responden, semuanya adalah buah dari pelatihan yang tepat dan berulang.
Pemeriksaan spirometri kelima kalinya di Desa Wringinagung yand dihadiri oleh 24 responden dari 25 yang diundang tersebut, bukan sekadar ritual administratif dalam sebuah studi kesehatan. Ia adalah bukti bahwa di balik data dan angka, perlu ada sumber daya manusia yang mendapatkan pelatihan terlebih dahulu.
Dan ketika Ratu Elizabeth II berkata bahwa semuanya bergantung pada pelatihan, pagi itu di Dusun Glowong menjadi saksi bisu bahwa kata-kata itu bukan sekadar retorika, melainkan kenyataan yang hidup dalam setiap embusan napas yang tercatat di layar spirometer. Jika perawat tidak pro-aktif dan sabar, hasilnya pasti tidak maksimal yang ujung-ujungnya hasilnya malah tak bisa terbaca. *** [030926]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo