Spirometri Keempat di Wringinagung: Untuk Hembusan Napas di Dalam Diri Kita

Your breathing determines whether you are at your best or whether you are at a disadvantage.” — Carla H. Speads

Pukul 08.30 WIB. Di Balai Dusun Glowong, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, suara napas menjadi pusat perhatian. Bukan suara napas yang terdengar saat seseorang sedang beristirahat, melainkan hembusan panjang yang dipaksakan keluar sekuat tenaga.

Sesekali terdengar suara penyemangat dari balik meja pemeriksaan. “Terus… terus… keluarkan!” Para perawat Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi memberikan dorongan agar responden tidak berhenti sebelum seluruh udara di paru-parunya benar-benar keluar.

Hari itu, Senin (31/08), pemeriksaan spirometri kembali digelar. Ini merupakan kali keempat pemeriksaan fungsi paru dalam rangkaian baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Wringinagung.

Kantor Balai Dusun Glowong di Dusun Glowong RT 02 RW 02 Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi

Tiga pemeriksaan sebelumnya dilaksanakan di Balai Dusun Sumberjo. Kali ini, layanan berpindah ke Balai Dusun Glowong melalui kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan RS Yasmin Banyuwangi.

Sejak pagi, tiga enumerator baseline survey – Muhammad Wisnu Nafiri, S.E., Maharany Triastuti Januarizki, S.ST., dan Winda Cahyani, S.Tr.Gz.RD. – bersama dua kader kesehatan setempat, Lasmi dan Mujiani, telah menata ruang pelayanan. Meja, kursi, dan perlengkapan disiapkan agar 26 responden yang telah melalui proses pre-screening dapat mengikuti pemeriksaan dengan tertib.

Sekitar pukul 08.19 WIB, tim Rumah Sakit Yasmin tiba. dr. Sapto Aji Nugroho, MARS, bersama empat perawat – Ns. Lifiani Fitriyanti, S.Kep., Ns. Nurul Maghfira, S.Kep., Ns. Imelda Arofah, S.Kep., dan Ns. Renny Krismila, S.Kep. – segera mempersiapkan perangkat pemeriksaan.

Namun, sebelum seseorang diminta mengembuskan napas sekuat-kuatnya, ada tahapan yang harus dilewati.

Spirometri Keempat di Wringinagung: Untuk Hembusan Napas di Dalam Diri Kita
Suasana pemeriksaan spirometri di Kantor Dusun Glowong

Setiap responden terlebih dahulu disambut enumerator dan kader, kemudian diarahkan ke meja registrasi di sisi tenggara balai dusun, dekat tanaman pucuk merah (Syzygium myrtifolium). Enumerator Maharany dan Winda melakukan registrasi dan verifikasi. Setelah itu, responden menunggu panggilan tenaga kesehatan.

Tahap berikutnya adalah pemeriksaan tanda-tanda vital atau TTV. Perawat Lifiani mengukur tekanan darah dan oksimetri, sementara dr. Sapto melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik menggunakan stetoskop pada dada dan punggung. Pemeriksaan awal ini penting untuk memastikan kondisi responden cukup stabil sebelum menjalani manuver pernapasan yang membutuhkan tenaga.

Barulah kemudian responden memasuki meja spirometri. Spirometri merupakan pemeriksaan fungsi paru yang dapat membantu tenaga kesehatan dalam penegakan diagnosis, pemantauan respons terhadap pengobatan, hingga pengambilan keputusan mengenai intervensi berikutnya. Pemeriksaan ini juga dapat mengukur berbagai volume paru, kecuali volume residu.

Pengukuran tekanan darah

Prosedurnya terdengar sederhana, yaitu tarik napas sedalam mungkin, lalu embuskan sekuat dan secepat mungkin secara terus-menerus. Dalam praktiknya, tidak selalu mudah.

Tiga perawat berbagi peran pada tahapan pemeriksaan. Perawat Imelda menangani spirometri tahap pertama atau pre-nebulasi. Setelah itu, responden mendapatkan nebulasi dari Perawat Lifiani. Selanjutnya, pemeriksaan dilanjutkan melalui spirometri tahap kedua atau post-nebulasi yang ditangani Perawat Renny. Perawat Nurul mengoperasikan laptop yang terhubung dengan alat spirometri.

Di sinilah suara para perawat kembali mengambil peran. Dorongan diberikan terutama ketika responden mulai kehabisan tenaga. Mereka diminta terus mengembuskan napas sampai tidak ada lagi udara yang keluar. Bagi sebagian responden, khususnya mereka yang memiliki gangguan obstruktif, mempertahankan hembusan hingga titik akhir merupakan tantangan tersendiri.

Anamnesis dan pemeriksaan fisik oleh dokter dari RS Yasmin Banyuwangi dalam pemeriksaan spirometri

Tetapi justru dari hembusan itulah informasi penting tentang fungsi paru dapat diperoleh. Spirometri menghasilkan sejumlah parameter, termasuk FEV1 (Forced Expiratory Volume in 1 Second) dan FVC (Forced Vital Capacity), yang kemudian menjadi bagian dari penilaian fungsi pernapasan.

Karena itu, spirometri sejatinya bukan sekadar meniup alat. Ia adalah sebuah upaya untuk memahami sesuatu yang setiap hari dilakukan manusia tanpa disadari, yaitu bernapas.

Carola H. Speads (yang namanya sering kali salah dieja sebagai Carla H. Speads) adalah murid terkemuka Elsa Gindler yang memiliki spesialisasi dalam kesadaran tubuh dan teknik pernapasan serta penulis buku “Ways to Better Breathing”, pernah berujar:

“Cara Anda bernapas menentukan apakah Anda berada dalam kondisi terbaik atau justru berada dalam posisi yang kurang menguntungkan.”

Nebulasi

Kalimat tersebut terasa relevan di Balai Dusun Glowong. Di tempat itu, napas bukan lagi sesuatu yang berlangsung begitu saja. Ia diukur, diamati, dan dipahami sebagai bagian dari gambaran kesehatan seseorang.

Hingga pemeriksaan berakhir pada pukul 14.40 WIB yang dihadiri oleh Field Facilitator NIHR UB dan enumerator baseline survey Desa Kaliploso, Rahmanurraudhotul Amin, SKM ini, sebanyak 24 dari 26 responden berhasil menjalani pemeriksaan. Dua responden tidak dapat mengikuti pemeriksaan. Satu di antaranya baru menjalani pengobatan TBC dalam satu minggu terakhir, sedangkan satu lainnya memilih untuk menolak pemeriksaan spirometri meski sudah dijemput oleh enumerator dan kader.

Bagi yang responden yang terperiksa akan meninggalkan Balai Dusun Glowong, usai menuju ke meja pendaftaraan lagi guna mendapatkan konsumsi, gift, dan subsidi transportasi dari kader Lasmi dan Mujiani dengan didampingi oleh dua enumerator.

Tes spirometri

Empat kali pemeriksaan telah dilakukan di Wringinagung. Dari Sumberjo hingga Glowong, dari satu responden ke responden lainnya, ada satu hal yang terus berulang, yakni menarik napas dan mengembuskannya.

Namun, di balik rutinitas sederhana itu, tersimpan sesuatu yang jauh lebih besar. Sebab napas adalah tanda kehidupan yang paling dekat dengan manusia, yang hadir setiap detik, tetapi sering kali luput diperhatikan.

Melalui spirometri, hembusan napas warga Wringinagung tidak sekadar menjadi udara yang dilepaskan, melainkan menjadi informasi penting untuk mengenali kondisi paru dan menjaga kesehatan di masa mendatang.

Di sebuah balai dusun, pada sebuah Senin yang sederhana, napas akhirnya berbicara. *** [010926]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment