Pagi Jalan Sehat, Sore Kuat Puldat

Walking for health and fitness, the easiest way to get in shape and stay in shape.” — Frank Ring

Pagi belum sepenuhnya terang ketika lima enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) bersama Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB) beranjak dari basecamp di Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi.

Jarum jam menunjuk pukul 06.00 WIB. Dengan berboncengan menggunakan tiga sepeda motor, mereka menuju Desa Wringinagung – salah satu wilayah enumeration area NIHR UB di Kabupaten Banyuwangi.

Tujuan mereka bukan sekadar menghadiri sebuah kegiatan desa. Pagi itu, Ahad (30/08), Pemerintah Desa Wringinagung menggelar Jalan Sehat dalam rangka memperingati Dirgahayu Republik Indonesia.

Pagi Jalan Sehat, Sore Kuat Puldat
Enumerator baseline survey Desa Wringinagung dan Purwodadi serta Field Facilitator NIHR UB berpartisipasi dalam Jalan Sehat Dirgahayu Republik Indonesia yang diadakan oleh Pemerintah Desa Wringiagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi (Ahad, 30/08)

Para enumerator pun turut ambil bagian, membaur bersama perangkat desa, kader kesehatan, dan warga yang telah memadati Ruang Terbuka Hijau (RTH) di samping Balai Desa Wringinagung.

Suasana berlangsung meriah. Peserta terus berdatangan hingga memenuhi area kegiatan. Di tengah RTH, sebuah panggung hiburan menjadi pusat perhatian. Selain menjadi tempat hiburan, panggung tersebut nantinya digunakan untuk mengundi kupon jalan sehat. Beragam hadiah telah berjajar dan siap memancing keberuntungan peserta.

Puluhan minyak goreng, sejumlah kipas angin, sepeda gunung, mesin cuci dua tabung, kulkas dua pintu, hingga dua sepeda listrik menjadi daya tarik tersendiri. Namun, sebelum berharap membawa pulang hadiah, para peserta harus menuntaskan rute jalan sehat sepanjang kurang lebih 5 kilometer.

Kupon Jalan Sehat Dirgahayu Republik Indonesia Desa Wringinagung

Rute tersebut dimulai dari Jalan Sriwijaya, kemudian berbelok ke Jalan Singosari. Peserta lalu melanjutkan perjalanan menuju Jalan Ahmad Yani, melewati ruas Genteng Kulon–Jajag–Benculuk, sebelum akhirnya kembali berbelok ke Jalan Sriwijaya.

Di antara riuh warga dan langkah kaki yang beriringan, para enumerator menjalani aktivitas fisik yang sederhana, tetapi memiliki manfaat besar. Berjalan kaki merupakan salah satu bentuk olahraga yang paling mudah dilakukan. Gerakannya alami, intensitasnya sedang, dapat dilakukan dalam durasi panjang, dan memiliki risiko cedera yang relatif rendah.

Aktivitas ini juga berperan dalam menjaga kebugaran fisik secara menyeluruh. Kebugaran tidak hanya berkaitan dengan kemampuan tubuh bergerak, tetapi juga mencakup daya tahan jantung dan paru-paru, kekuatan serta daya tahan otot, fleksibilitas, dan komposisi tubuh.

Start Jalan Sehat Dirgahayu Republik Indonesia dari depan RTH Wringinagung, samping Pustu Wringinagung

Frank S. Ring, seorang penulis di bidang kebugaran, pelatih jalan kaki, pemandu siniar (podcaster), pembuat konten video, dan pensiunan pendidik yang berdedikasi untuk membantu orang meningkatkan kesehatan, memulihkan kekuatan, dan membangun momentum yang berkelanjutan melalui sistem yang sederhana dan praktis, pernah berujar:

“Berjalan kaki demi kesehatan dan kebugaran – cara termudah untuk mendapatkan dan menjaga kebugaran tubuh.”

Bagi para enumerator, jalan sehat pagi itu menjadi lebih dari sekadar agenda peringatan kemerdekaan. Kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk menjaga stamina sekaligus mempererat hubungan dengan masyarakat di wilayah kerja.

Partisipasi itu pun tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan tumbuh dari komunikasi yang baik antara enumerator, perangkat desa, dan kader kesehatan setempat dalam berbagai kegiatan NIHR UB di Desa Wringinagung.

Seorang peserta sedang memandangi kupon saat pengundian, sebuah percumbuan ritualistik antara keberuntungan dan angan-angan

Hubungan yang terjalin membuat kehadiran para enumerator diterima dengan hangat. Mereka tidak hanya datang untuk mengumpulkan data, tetapi juga berpartisipasi dalam kehidupan sosial masyarakat. Kebersamaan tersebut menjadi bagian penting dari proses kerja lapangan yang membutuhkan kepercayaan, komunikasi, dan kedekatan dengan warga.

Setelah menuntaskan jalan sehat, hari belum benar-benar selesai bagi para enumerator. Sore harinya, mereka kembali menjalankan tugas utama, yaitu pengumpulan data atau puldat. Tubuh yang telah digerakkan sejak pagi justru menjadi lebih siap untuk kembali bekerja.

Pagi itu mereka berjalan untuk menjaga kebugaran. Sore harinya, stamina yang terjaga mendukung pelaksanaan tugas di lapangan. Dari Desa Wringinagung, sebuah pesan sederhana pun terlihat nyata: pagi jalan sehat, sore kuat puldat. *** [310826]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment