“Feelings come and go like clouds in a windy sky. Conscious breathing is my anchor.” — Thich Nhat Hang, Stepping into Freedom: An Introduction to Buddhist Monastic Training
Mentari pagi baru mulai menghangatkan bumi ketika satu per satu warga mulai datang ke Pendopo Balai Dusun Kalirejo. Sebagian datang dengan langkah santai, sebagian lainnya mungkin masih membawa kesibukan rumah tangga yang belum sepenuhnya selesai. Namun, pagi itu ada satu kesamaan di antara mereka, yaitu keinginan untuk mengetahui lebih jauh tentang kondisi paru-paru mereka.
Di bawah kanopi area parkir Poskesdes Kalirejo, meja pendaftaran sudah siap. Nama demi nama diverifikasi. Setelah itu, warga dipersilakan menunggu hingga panggilan pemeriksaan berikutnya terdengar.
Sabtu (29/08) menjadi hari kedua pelaksanaan pemeriksaan spirometri di Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan yang merupakan kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi ini kembali mempertemukan warga dengan tenaga kesehatan untuk melihat sesuatu yang selama ini kerap luput dari perhatian, yakni bagaimana paru-paru bekerja.

Sebab, bernapas adalah sesuatu yang terlalu biasa untuk kita pikirkan. Setiap hari, manusia menarik dan mengembuskan napas tanpa perlu mengingatnya. Napas datang secara otomatis, mengikuti ritme tubuh. Namun, justru karena berlangsung tanpa disadari, kesehatan paru-paru sering baru mendapat perhatian ketika muncul keluhan – napas terasa pendek, mudah lelah, atau aktivitas sederhana mulai terasa berat.
Padahal, paru-paru memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan tubuh. Kondisinya berkaitan dengan kemampuan beraktivitas, kualitas tidur, energi, hingga kesejahteraan sehari-hari.
Seorang penulis dan penyair Vietnam, Thích Nhất Hạnh, pernah berujar dalam Stepping into Freedom: An Introduction to Buddhist Monastic Training (1997):
“Perasaan datang dan pergi bagaikan awan di langit yang berangin. Pernapasan sadar adalah jangkar saya.”
Kutipan tersebut seolah mengingatkan bahwa napas bukan sekadar proses biologis. Ia adalah bagian paling mendasar dari kehidupan, yaitu sesuatu yang terus hadir bahkan ketika kita tidak menyadarinya.

Dari Pendaftaran hingga Hembusan Napas
Pagi itu, dua enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Kaliploso, Rahmanurraudhotul Amin, SKM dan Rafini Aminatul Hidayah, S.Tr.Gz., telah berada di lokasi bersama lima kader setempat, yaitu Harum Wijayanti, Rio Dita Wibawa, Sri Hidayati, Sundari, dan Sutiyani Eka Rahayu.
Sebanyak 32 responden diundang berdasarkan hasil pre-screening. Kehadiran mereka disambut Rahman bersama para kader sebelum diarahkan menuju meja registrasi. Rafini dan sejumlah kader lainnya kemudian melakukan pendaftaran serta verifikasi data.
Setelah menunggu giliran, responden dipanggil menuju meja pemeriksaan. Perawat Dwi Warta Sukses Abadi, S.Kep.Ners., terlebih dahulu melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital (TTV), termasuk tekanan darah dan oksimetri.
Berikutnya, Bidan Fath Syu’araanisa, A.Md.Keb., melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth. Melalui percakapan tersebut, informasi mengenai keluhan, riwayat penyakit, dan kondisi kesehatan responden digali sebelum pemeriksaan paru dilakukan.
Barulah kemudian responden sampai pada tahapan yang ditunggu, yaitu spirometri. Pemeriksaan ini pada dasarnya mengukur kemampuan paru-paru dalam menghirup dan mengembuskan udara. Beberapa ukuran penting yang dihasilkan antara lain kapasitas vital paksa (FVC), volume udara yang dapat dihembuskan dalam satu detik (FEV1), serta perbandingan keduanya.

Bagi warga yang menjalaninya, proses tersebut mungkin terlihat sederhana. Tarik napas sedalam-dalamnya, lalu embuskan sekuat dan secepat mungkin ke dalam alat. Namun, di balik satu hembusan napas itu, terdapat informasi penting mengenai fungsi paru-paru.
Pemeriksaan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama merupakan spirometri pre-salbutamol untuk melihat kondisi awal fungsi paru. Setelah itu, Perawat Joenhiga Widyanita M., S.Kep.Ners., memberikan semprotan salbutamol sebagai bronkodilator.
Warga kemudian diminta beristirahat sekitar 20 menit. Setelahnya, pemeriksaan dilanjutkan dengan spirometri post-salbutamol. Perawat Joenhiga memandu jalannya tes spirometri, dan Perawat Lavinia Agustina, S.Kep.Ners., mengoperasikan alat MIR SpiroLab untuk melihat perubahan fungsi paru setelah pemberian bronkodilator.
Di lokasi, proses pemeriksaan berjalan dengan dukungan berbagai pihak. Selain Field Facilitator NIHR UB, hadir pula Manajer CEI Serius Miliyani Dwi Putri, S.K.M., M.Ked.Trop., serta staf administrasi NIHR UB Hilda Irawati, S.Stat.

Tiga Puluh Napas yang Diperiksa
Hingga kegiatan berakhir pukul 13.28 WIB, sebanyak 30 responden yang diundang hasil pre-screening berhasil menjalani pemeriksaan.
Dua orang tidak dapat hadir. Salah satunya baru saja menjalani operasi katarak. Sementara seorang lainnya lupa dengan jadwal pemeriksaan. Ketika enumerator datang menjemput, ia sudah terlanjur berkeliling berjualan cilok.
Ada pula responden yang sebelumnya melakukan penjadwalan ulang dan akhirnya tetap mendapatkan kesempatan untuk menjalani pemeriksaan.
Setelah menyelesaikan spirometri, warga kembali menuju meja pendaftaran. Di sana mereka menerima konsumsi, gift, dan subsidi transportasi sebelum meninggalkan lokasi.
Hari itu, Pendopo Balai Dusun Kalirejo menjadi saksi bahwa kesehatan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang rumit.

Kadang, ia dimulai dari kesediaan untuk berhenti sejenak.
Menarik napas.
Mengembuskannya.
Lalu bertanya kepada diri sendiri: Sehatkah paru-paruku?
Pertanyaan sederhana itu menjadi semakin penting karena tidak semua gangguan fungsi paru-paru langsung terasa. Pemeriksaan seperti spirometri memberikan kesempatan untuk mengenali kondisi paru-paru secara lebih terukur.
Di Kaliploso, 30 warga telah mengambil langkah tersebut. Mereka mungkin datang dengan berbagai kesibukan, cerita, dan alasan masing-masing. Tetapi selama beberapa jam pada Sabtu pagi itu, mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu mengenali tubuhnya sendiri, satu tarikan dan hembusan napas pada satu waktu.
Karena pada akhirnya, napas adalah sesuatu yang paling sering kita terima begitu saja, hingga suatu hari kita menyadari betapa berharganya ia. *** [310826]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo