Spirometri Ketiga di Wringinagung: Membaca Kembali Kesehatan Paru

You are where you need to be. Just take a deep breath.” — Lana Parrilla

Pagi baru saja beranjak ketika Pendopo Balai Dusun Sumberjo mulai dipenuhi aktivitas. Di tempat yang beralamat di Dusun Sumberjo RT 05 RW 01, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, sejumlah meja dan kursi ditata rapi. Peralatan medis disiapkan. Para petugas memastikan setiap kebutuhan pemeriksaan telah tersedia.

Sabtu (29/08) menjadi hari penting bagi 23 warga Desa Wringinagung. Mereka datang untuk mengikuti pemeriksaan spirometri yang diselenggarakan untuk ketiga kalinya. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi.

Sejak pagi, tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Wringinagung – Muhammad Wisnu Nafiri, S.E.; Maharany Triastuti Januarizki, S.ST.; dan Winda Cahyani, S.Tr.Gz.RD – telah bersiap di lokasi.

Spirometri Ketiga di Wringinagung: Membaca Kembali Kesehatan Paru
Suasana pemeriksaan spirometri untuk yang ketiga kalinya diadakan di Pendopo Balai Dusun Sumberjo, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran Kabupaten Banyuwangi

Mereka didukung oleh dua kader kesehatan setempat, Eva Hariana dan Siti Zulaihah. Bersama-sama, mereka menyiapkan alur pemeriksaan agar para responden dapat mengikuti setiap tahapan dengan tertib dan nyaman.

Kegiatan turut dihadiri Research Fellow Raissa Manika Purwaningtias, S.Keb., Bd., M.Sc., serta Field Facilitator NIHR UB. Pemeriksaan baru dimulai setelah tim tenaga kesehatan dari RS Yasmin Banyuwangi tiba di Pendopo Balai Dusun Sumberjo pada pukul 08.40 WIB.

Empat tenaga kesehatan – Tria Firna Sari, A.Md.Kep.; Mahendra, S.Kep.Ns; Ach. Zaenal, S.Kep.Ns; dan Yusi Ayu Permatasari, S.Kep.Ns – berada di bawah koordinasi dr. Handri Irawan, MMRS. Setelah menyiapkan berbagai perlengkapan pemeriksaan, mereka mulai melayani responden pada pukul 08.55 WIB.

Meja pendaftaran: registrasi dan verifikasi

Menelusuri Jejak Gangguan Pernapasan

Spirometri merupakan pemeriksaan medis standar untuk mengukur fungsi paru-paru. Pemeriksaan ini dapat membantu mendeteksi berbagai gangguan pernapasan, seperti Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), asma, dan penyakit paru restriktif. Spirometri juga penting untuk mengidentifikasi penurunan fungsi paru pada kelompok berisiko tinggi, termasuk perokok dan pekerja yang terpapar polusi.

Dalam pemeriksaan ini, kemampuan paru-paru diukur melalui dua parameter utama, yaitu Forced Vital Capacity (FVC) dan Forced Expiratory Volume in 1 Second (FEV1). Keduanya menggambarkan volume udara yang dapat dikeluarkan serta seberapa cepat udara tersebut diembuskan dalam satu detik.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan spirometri sebagai salah satu alat diagnostik utama dalam upaya mengendalikan penyakit pernapasan kronis. Namun, bagi warga yang menjalani pemeriksaan, kegiatan ini bukan sekadar angka-angka hasil pengukuran. Pemeriksaan menjadi kesempatan untuk lebih mengenali kondisi tubuh dan memahami pentingnya menjaga kesehatan paru-paru.

TTV dan anamnesis

Seperti pesan Lana Parrilla, seorang aktris Amerika:

“Kamu berada di tempat yang seharusnya. Tariklah napas dalam-dalam.”

Kalimat tersebut seolah menggambarkan suasana pemeriksaan hari itu, yaitu warga datang ke tempat yang tepat untuk memahami napas mereka, satu tarikan demi satu tarikan.

Research Fellow berikan trik dan tip dalam tes spirometri sebelum responden mendapat panggilan pemeriksaan spirometri

Dari Pendaftaran hingga Pemeriksaan

Setibanya di lokasi, responden disambut oleh enumerator dan diarahkan menuju meja pendaftaran di sisi tenggara pendopo. Dua kader kesehatan, didampingi dua enumerator, melakukan registrasi dan verifikasi data. Setelah itu, responden dipersilakan menunggu di kursi yang telah disediakan.

Pada saat itu, enumerator akan mengingatkan kembali perihal video alur pemeriksaan spirometri. Tak hanya itu, tampak Research Fellow Raissa memberikan trik dan tip dalam menjalani pemeriksaan spirometri dengan melatih responden tersebut.

Panggilan berikutnya datang dari meja pemeriksaan di sisi barat. Perawat Tria Firna Sari melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital atau TTV, meliputi pengukuran tekanan darah dan oksimetri. Tahap ini menjadi pemeriksaan dasar untuk mengetahui kondisi tubuh responden sebelum memasuki rangkaian pemeriksaan berikutnya.

Tes spirometri tahap 1 dan nebulasi

Selanjutnya, dr. Handri Irawan melakukan anamnesis melalui aplikasi SMARThealth. Dalam proses wawancara medis tersebut, dokter menggali informasi mengenai keluhan, riwayat penyakit, serta kondisi kesehatan responden.

Setelah anamnesis selesai, responden kembali menunggu giliran untuk menjalani pemeriksaan fungsi paru. Spirometri dilakukan dalam dua tahap.

Tahap pertama merupakan pemeriksaan awal atau pre-nebulasi. Pada tahap ini, alat spirometri mengukur volume dan kecepatan aliran udara dasar sebelum responden menerima obat bronkodilator, yakni obat yang membantu melebarkan saluran napas.

Berikutnya, Perawat Mahendra melakukan nebulasi. Setelah obat diberikan, responden menjalani spirometri tahap kedua atau post-nebulasi. Pemeriksaan ini bertujuan melihat perubahan fungsi paru setelah saluran napas mendapatkan bronkodilator.

Tes spirometri post-nebulasi

Kedua tahap pemeriksaan spirometri oleh Perawat Ach. Zaenal dan dibantu Perawat Yusi Ayu Permatasari dalam mengoperasikan alat spirometri. Dengan arahan tenaga kesehatan, responden mengikuti instruksi untuk menarik dan mengembuskan napas sekuat serta secepat yang mereka mampu.

Setelah seluruh rangkaian selesai, responden kembali menuju meja pendaftaran. Di sana, mereka menerima konsumsi, gift, serta subsidi transportasi.

Hingga pukul 13.00 WIB, semua responden yang diundang sebanyak 23 orang berhasil mengikuti pemeriksaan spirometri dengan lancar.

Pemeriksaan spirometri ketiga di Desa Wringinagung pun berlangsung dalam suasana tertib dan hangat. Di balik alat yang merekam aliran udara, tersimpan ikhtiar sederhana untuk menjaga paru-paru warga, dan harapan agar setiap napas dapat terus mengalir dengan lebih baik. *** [300826]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment