Mendengarkan lagu Breathe , atau 한숨 (hansum) dalam bahasa Korea, yang dinyanyikan Lee Hi terasa menemukan maknanya di Pendopo Balai Dusun Kalirejo, Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Lagu yang dirilis pada Maret 2016 dalam album Seoulite itu mengajak pendengarnya menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan, sebuah pesan sederhana yang pagi itu diterjemahkan melalui pemeriksaan spirometri.
Untuk pertama kalinya, pemeriksaan tersebut digelar di enumeration area NIHR Universitas Brawijaya (UB), Desa Kaliploso. Kegiatan ini merupakan kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi. Persiapannya telah dimatangkan enam hari sebelumnya melalui konsolidasi antara tim enumerator dan kader desa.

Sejak pukul 08.00 WIB, Pendopo Balai Dusun Kalirejo RT 02 RW 07 mulai dipenuhi responden. Sebanyak 25 orang yang telah melewati proses pre-screening diundang untuk mengikuti pemeriksaan. Peserta didominasi perempuan, yakni 24 orang, sementara laki-laki hanya satu orang. Pelaksanaan pada Jumat menjadi salah satu alasan komposisi peserta tersebut.
Empat meja ditata membentuk alur pelayanan. Di meja pertama, responden melakukan pendaftaran dan verifikasi. Enumerator Rafini Aminatul Hidayah, S.Tr.Gz., melayani proses tersebut.
Sementara itu, enumerator lain, Rahmanurraudhotul Amin, SKM, bersama lima kader – Harum Wijayanti, Rio Dita Wibawa, Sri Hidayati, Sundari, dan Sutiyani Eka Rahayu – menyambut sekaligus mendampingi responden selama pemeriksaan.

Dari meja pertama, responden diarahkan menuju meja kedua. Di sana, Evi Falzatun, S.Kep. Ns dan Agnes Wardatul Isnaini, S.Kep. Ns dari RS NU melakukan pengukuran tekanan darah dan oksimetri. Keduanya berbagi tugas secara bergantian. Ketika salah seorang mengukur tekanan darah dan kadar oksigen dalam darah, yang lain melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth.
Tahap paling menentukan berlangsung di meja ketiga. Ayu Septi, S.Kep. Ns dari RS NU memandu pemeriksaan spirometri pertama atau pre-salbutamol. Ia dibantu Elliana, S.Keb., yang mengoperasikan alat spirometri MIR SpiroLab.
Responden diminta menarik napas sedalam-dalamnya, kemudian mengembuskannya sekuat mungkin melalui alat. Proses itu diulang sedikitnya tiga kali hingga hasilnya dinyatakan berhasil. Setelah pemeriksaan pertama selesai, responden mendapatkan semprotan salbutamol di mulut.

Salbutamol memberi jeda sekaligus kesempatan bagi paru-paru untuk menunjukkan responsnya. Dua puluh menit kemudian, responden menjalani pemeriksaan kedua atau post-salbutamol. Instruksinya tetap sama, yaitu menarik napas sedalam mungkin dan mengembuskannya dengan kuat. Namun, bagi sebagian responden, proses tersebut membutuhkan tenaga, konsentrasi, dan kesabaran.
Di sela-sela pemeriksaan, penggalan lirik Breathe seolah menjadi pengingat bahwa bernapas tidak selalu mudah:
Tarik napas dalam-dalam
Sampai kedua sisi hatimu terasa mati rasa
Sampai terasa sedikit nyeri
Hembuskan napasmu lebih jauh lagi
Sampai kau merasa tak ada lagi yang tersisa di dalam
Tidak apa-apa jika napasmu terasa sesak
Tak ada yang akan menyalahkanmu
Tidak masalah sesekali melakukan kesalahanKarena siapa pun bisa mengalaminya

Lirik itu tidak sekadar berbicara tentang paru-paru. Ia juga menyentuh pengalaman manusia yang kerap menjalani hari dengan beban tak terlihat. Dalam pemeriksaan spirometri, napas diukur melalui angka dan kurva. Namun, di balik angka tersebut, ada tubuh yang sedang berusaha bekerja sebaik mungkin.
Setelah menyelesaikan pemeriksaan, responden kembali menuju meja pertama untuk menerima konsumsi, gift, dan subsidi transportasi. Tim yang hadir dalam kegiatan itu antara lain Raissa Manika Purwaningtias, S.Keb., Bd., M.Sc. selaku Research Fellow; Serius Miliyani Dwi Putri, S.K.M., M.Ked.Trop. selaku Manager CEI; Hilda Irawati, S.Stat. selaku staf administrasi NIHR UB; dan Field Facilitator NIHR UB serta enumerator baseline survey Desa Tamanagung Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos.
Kegiatan berakhir pada pukul 13.12 WIB. Dari 25 responden, dua orang harus menjalani penjadwalan ulang karena hasil pemeriksaan post-salbutamol belum optimal. Mereka diberi kesempatan memilih hari pemeriksaan berikutnya sesuai jadwal yang tersedia di Desa Kaliploso.

Pada akhirnya, pemeriksaan itu bukan hanya tentang meniup alat spirometri. Ia merupakan upaya mengenali kondisi paru-paru sekaligus membuka ruang bagi warga untuk lebih memahami tubuhnya sendiri. Seperti pesan lagu Lee Hi, seseorang tidak selalu harus tampak kuat.
Meski orang lain mungkin menganggap helaan napasmu menguras energi dan kekuatan
Aku tahu betul bahwa harimu sudah cukup berat
Bahkan sekadar untuk menghela napas pelan
Sekarang, jangan pikirkan hal lain lagiHela napas panjang, lepaskan saja begitu saja
Di Kaliploso, napas menjadi data, tetapi juga menjadi tanda kehidupan – sesuatu yang layak dijaga, diperiksa, dan disyukuri. *** [280826]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo