Menjaga Napas, Menjaga Kehidupan: Pemeriksaan Spirometri Kedua di Wringinagung

Kitu cha kwanza kufanyika mwanadamu anapozaliwa ni kuvuta pumzi ya kwanza katika mapafu ya mwili wake. Cha mwisho kufanyika kabla ya kufa ni kutoa pumzi ya mwisho katika mapafu ya mwili wake. Pumzi iliyoingia kwanza baada ya kuzaliwa, itakuwa ya mwisho kutoka kabla ya kufa. Pumzi ni bora kuliko muda halafu pumzi ni uhai. Bila uhai watu hawataweza kusherehekea mwaka mpya au kufanya chochote. Likumbuke jina la Mwenyezi Mungu katika kila pumzi unayoingiza na kutoa.” — Enock Maregesi

Dua hari setelah pemeriksaan pertama, Pendopo Balai Dusun Sumberjo kembali dipenuhi aktivitas. Bangunan yang berada di Dusun Sumberjo RT 05 RW 01, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, itu menjadi tempat pelaksanaan pemeriksaan spirometri kedua hasil kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi.

Pagi itu, tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Wringinagung – Muhammad Wisnu Nafiri, S.E.; Maharany Triastuti Januarizki, S.ST.; dan Winda Cahyani, S.Tr.Gz.RD – telah lebih dulu berada di lokasi. Mereka dibantu dua kader kesehatan setempat, Eva Hariana dan Lilik Listiyani. Field Facilitator NIHR UB juga hadir untuk memantau jalannya pemeriksaan.

Personel RS Yasmin tiba sekitar pukul 08.25 WIB. Tim tersebut terdiri atas dr. Fauziah Budi, Winda Nurmawadah, S.Kep.; Renny Krismila, S.Kep.; Imelda Anfah, S.Kep.; Nurul Magfiroh, S.Kep.; serta pengemudi, Soliman.

Menjaga Napas, Menjaga Kehidupan: Pemeriksaan Spirometri Kedua di Wringinagung
Pengukuran tekanan darah dan oksimetri dalam Pemeriksaan Spirometri kedua di Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi

Sebanyak 23 responden hasil pre-screening diundang mengikuti pemeriksaan. Mereka tidak datang bersamaan, melainkan berdasarkan jadwal yang telah disusun secara berurutan. Cara ini diterapkan agar tidak terjadi antrean panjang yang dapat membuat responden merasa bosan atau tidak nyaman dalam sebuah penantian.

Sesampainya di pendopo, responden disambut enumerator dan diarahkan menuju meja pendaftaran di sisi tenggara. Maharany – yang akrab disapa Rany – dan Winda bertugas melakukan registrasi serta verifikasi data. Setelah itu, responden dipersilakan menunggu di kursi plastik hijau yang telah disediakan.

Dari kursi tunggu, satu per satu responden dipanggil mengikuti alur pemeriksaan. Perawat Renny memulai dengan mengukur tekanan darah dan kadar oksigen melalui oksimetri. Pemeriksaan kemudian dilanjutkan dengan anamnesis oleh dr. Fauziah serta pemeriksaan fisik menggunakan stetoskop.

Usai pemeriksaan awal, responden kembali menunggu giliran menuju meja spirometri di sisi timur laut pendopo. Di sana, Perawat Imelda melakukan tes spirometri pre-nebulasi menggunakan alat milik RS Yasmin yang terhubung dengan laptop yang dioperasikan Perawat Winda.

Tes spirometri oleh perawat dari RS Yasmin Banyuwangi

Spirometri merupakan pemeriksaan untuk mengukur kemampuan paru-paru dalam menarik dan mengembuskan udara. Bagi sebagian responden, proses ini membutuhkan tenaga dan konsentrasi. Mereka harus mengikuti instruksi petugas secara tepat agar hasil pengukuran dapat terbaca dengan baik.

Setelah tes pertama selesai, responden berpindah ke meja nebulasi. Driver Soliman membantu melakukan pengecekan ulang kartu pemeriksaan, kemudian Perawat Renny memberikan nebulasi. Berikutnya, responden menjalani spirometri post-nebulasi yang dilakukan oleh Perawat Nurul.

Rangkaian pemeriksaan berakhir di meja pendaftaran. Namun, responden tidak perlu melakukan registrasi ulang. Mereka diarahkan enumerator Wisnu untuk menerima konsumsi, bingkisan, serta subsidi uang transport yang telah disiapkan oleh kader Eva dan Lilik dengan pemantauan enumerator.

Seluruh responden yang diundang hadir dan berhasil menjalani pemeriksaan. Kegiatan yang dimulai sejak pagi itu selesai sekitar pukul 14.00 WIB.

Usai tes spirometri pre-nebulasi, responden akan mendapatkan nebulasi sebelum mengikuti spirometri yang kedua atau post-nebulasi

Tantangan di Balik Tarikan Napas

Di antara 23 responden, terdapat seorang lansia berusia 79 tahun yang mengalami hambatan saat menjalani spirometri. Ia memiliki riwayat jatuh hingga bagian dadanya terbentur. Sejak kejadian tersebut, ia sering mengalami sesak napas dan beberapa kali harus menjalani nebulasi.

Kondisi itu menunjukkan bahwa pemeriksaan spirometri bukan sekadar prosedur teknis. Di balik setiap tarikan dan embusan napas, terdapat riwayat kesehatan yang penting untuk diketahui.

Pemeriksaan dapat menjadi pintu masuk untuk memahami kondisi paru-paru, terutama bagi masyarakat yang mengalami keluhan sesak, memiliki riwayat penyakit, atau pernah mengalami cedera di bagian dada.

Field Facilitator NIHR UB juga mencermati adanya perbedaan dalam pelaksanaan tes, terutama terkait durasi dan cara petugas memberikan instruksi. Pada pemeriksaan sebelumnya, Senin (24/08), responden diminta menarik napas kuat-kuat kemudian mengembuskannya sekuat tenaga hingga tubuh menunduk. Sementara pada pemeriksaan kedua, instruksinya lebih singkat, yakni menarik napas kuat lalu melepaskannya dengan kuat.

Perbedaan sentuhan, durasi, dan metode instruksi antarpetugas menjadi catatan penting dalam pelaksanaan pemeriksaan. Meski seluruh petugas berasal dari institusi yang sama, pendekatan saat mendampingi responden dapat sedikit berbeda. Catatan semacam ini diperlukan agar proses pemeriksaan berikutnya semakin seragam dan responden memperoleh pengalaman yang nyaman sesuai standar penelitian NIHR UB.

Selesai tes spirometri, responden menuju ke meja pendaftaran lagi untuk mendapatkan konsumsi, dan subsidi transport oleh kader di bawahh monitoring enumerator

Antusiasme responden juga terlihat dari berbagai situasi. Ada responden yang baru saja pulang kontrol dari rumah sakit, tetapi tetap menyempatkan diri hadir demi memenuhi undangan pemeriksaan. Kehadiran seluruh responden menunjukkan bahwa kesadaran untuk memeriksa kesehatan paru-paru mulai tumbuh di tengah masyarakat.

Enock Maregesi, adalah seorang penulis dan tokoh sastra terkemuka asal Tanzania, yang paling dikenal melalui karya-karyanya, “Kolonia Santita” (2012) dan “Nukuu za Nyakati Zetu” (2020), pernah menulis:

“Hal pertama yang dilakukan manusia saat lahir adalah menarik napas pertama ke dalam paru-parunya. Hal terakhir yang dilakukannya sebelum meninggal adalah mengembuskan napas terakhir dari paru-parunya. Napas pertama yang masuk setelah kelahiran akan menjadi napas terakhir yang keluar sebelum kematian. Napas lebih berharga daripada waktu, dan napas adalah kehidupan. Tanpa kehidupan, manusia tidak akan bisa merayakan tahun baru ataupun melakukan apa pun. Ingatlah nama Allah dalam setiap embusan napas yang Anda hirup dan keluarkan.”

Di Pendopo Balai Dusun Sumberjo, makna napas itu diukur melalui alat spirometri. Setiap responden yang datang bukan hanya menyelesaikan sebuah tahapan pemeriksaan, melainkan ikut menjaga dan mengenali kehidupan yang berlangsung di dalam tubuhnya – satu tarikan, satu embusan, dan satu kesadaran tentang pentingnya kesehatan paru-paru. *** [260826]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment