“COPD includes chronic bronchitis, emphysema, or both. Over time, it makes it harder and harder to breathe because less air is able to flow in and out of the lungs.” — Caitlyn Jenner
Pukul 06.57 WIB, suasana di basecamp Purwodadi mulai beranjak sibuk. Tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) untuk Desa Wringinagung – Muhammad Wisnu Nafiri, S.E., Maharany Triastuti Januarizki, S.ST., dan Winda Cahyani, S.Tr.Gz.RD – meninggalkan halaman basecamp. Tujuan mereka adalah Kantor Balai Dusun Sumberejo, RT 05 RW 01, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi.
Hari itu bukan hari biasa. Untuk pertama kalinya, warga Desa Wringinagung mendapat kesempatan menjalani pemeriksaan spirometri, melalui kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi.

Sesuai undangan, pemeriksaan dijadwalkan mulai pukul 08.00 WIB. Namun, perjalanan empat tenaga kesehatan – Ns. Fatima Harifatun Anisa, S.Kep., Annisa Fitriya, A.Md.Kep., Khusnul Hotimah, A.Md.Kep., dan Rizki Indrawangi, S.Kep.Ns. – bersama dr. Ach. Dwipa Perkasa, membuat mereka tiba sekitar pukul 08.30 WIB. Lima belas menit kemudian, layanan pun dimulai.
Pendopo balai dusun yang diresmikan pada 31 Maret 1990 itu berubah wajah. Kursi-kursi plastik hijau muda tersusun di tengah ruangan. Tiga meja ditempatkan sebagai pos pemeriksaan. Di halaman depan, aktivitas desa tetap berjalan seperti biasa, terlihat seorang lelaki paruh baya menjemur pipilan jagung. Di dalam pendopo, sementara itu, perhatian tertuju pada satu hal, yakni napas.
Sebanyak 25 responden hasil pre-screening sebelumnya diundang. Mereka datang bergiliran. Enumerator Wisnu dan Winda menyambut sekaligus mendampingi responden menuju meja 1. Enumerator Rany bertugas melakukan registrasi dan verifikasi. Setelah itu, responden diarahkan ke tempat duduk sambil kembali mendapatkan penjelasan mengenai cara melakukan hembusan napas pada pemeriksaan.

Pemeriksaan kemudian berlanjut ke meja kedua. Tekanan darah dan kadar oksigen dalam darah diperiksa terlebih dahulu oleh Perawat Fatima, sementara hasilnya dicatat Perawat Annisa. Selanjutnya, dr. Dwipa melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth.
Barulah kemudian tiba bagian utama, yakni spirometri. Spirometri merupakan pemeriksaan untuk mengetahui fungsi paru, antara lain seberapa banyak udara yang dapat dihirup dan dikeluarkan serta seberapa cepat udara tersebut mengalir. Pemeriksaan dilakukan dengan bernapas melalui corong mulut yang terhubung dengan alat spirometer.
Di meja ketiga, Perawat Khusnul dan Perawat Rizki mengambil peran. Salah satunya memandu responden melakukan manuver pernapasan, sementara yang lain memantau grafik pada layar laptop yang terhubung dengan alat.

Ada dua rangkaian utama. Pada manuver pertama, responden diminta menarik napas sedalam mungkin, kemudian menghembuskannya hingga habis. Setelah itu, responden menjalani nebulasi oleh Perawat Annisa sebelum kembali melakukan pemeriksaan kedua. Kali ini, tantangannya adalah mengeluarkan napas secepat dan sekuat mungkin.
Masing-masing manuver dilakukan tiga kali. Bukan sekadar menarik dan membuang napas, pemeriksaan ini membutuhkan usaha maksimal dan teknik yang tepat agar hasilnya memenuhi syarat.
Pentingnya pemeriksaan fungsi paru menjadi semakin jelas ketika kita berbicara tentang penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Seperti dikutip dari Caitlyn Marie Jenner, sebelumnya dikenal dengan nama Bruce Jenner, adalah seorang tokoh televisi Amerika Serikat dan mantan atlet dasalomba yang pernah memenangkan medali emas dalam ajang Olimpiade:

“PPOK mencakup bronkitis kronis, emfisema, atau keduanya. Seiring berjalannya waktu, kondisi ini membuat pernapasan menjadi semakin sulit karena aliran udara yang masuk dan keluar dari paru-paru semakin berkurang.”
Karena itu, spirometri bukan sekadar aktivitas meniup alat. Di balik hembusan napas setiap responden, terdapat upaya untuk mengenali kondisi paru lebih dini dan memahami bagaimana tubuh menjalankan salah satu fungsi paling mendasar: bernapas.
Menariknya, pemeriksaan kali ini juga menemukan sebuah kisah administratif yang tidak biasa. Seorang responden memiliki tanggal lahir pada KTP dan NIK yang tidak sesuai dengan kondisi fisiknya. Ia mengaku, dahulu suaminya sengaja mengubah tahun kelahirannya dari 1961 menjadi 3 Agustus 1982.

Setelah seluruh rangkaian selesai, responden kembali diarahkan ke meja pertama. Kader Lilik Listiyani dan Siti Zulaihah bergantian menyerahkan konsumsi, gift, dan subsidi transportasi. Tanda tangan kembali dibubuhkan sebagai penutup rangkaian kunjungan.
Hari beranjak sore. Pukul 15.25 WIB, pemeriksaan spirometri pertama di Desa Wringinagung yang dihadiri oleh Research Fellow Fildzah Cindra Yunita, S.Kep.,MPH dan Field Facilitator NIHR UB ini akhirnya ditutup. Dari 25 warga yang diundang, 24 berhasil menjalani pemeriksaan. Satu responden tidak dapat hadir karena sedang menjalani rawat inap di rumah sakit.
Di luar pendopo, pipilan jagung masih terjemur di bawah matahari Banyuwangi. Di dalamnya, puluhan tarikan dan hembusan napas telah direkam menjadi data. Sebuah pemeriksaan sederhana, tetapi bermakna. Dari sebuah balai dusun di Sumberejo, perhatian terhadap kesehatan paru-paru mulai mengambil tempat dalam layanan kesehatan warga Wringinagung. *** [250826]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo