“By failing to prepare, you are preparing to fail.” — Benjamin Franklin
Sabtu siang (22/08) di Dusun Plosorejo RT 01 RW 01, Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, suasana rumah Mas Rio Dita Wibawa siang itu dipenuhi aktivitas dan percakapan.
Sekitar pukul 14.10 WIB, enumerator baseline survey Desa Kaliploso, Rahmanurraudhotul Amin, SKM dan Rafini Aminatul Hidayah, S.Tr.Gz., bersama Field Facilitator NIHR UB dan lima kader – Harum Wijayanti, Rio Dita Wibawa, Sri Hidayati, Sundari, dan Sutiyani Eka Rahayu -berkumpul.
Mereka bukan sekadar bertemu, melainkan mematangkan persiapan untuk sebuah agenda penting, yaitu pemeriksaan spirometri pertama dari bagian penelitian NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) di desa tersebut.
Sebelum berbicara soal pemeriksaan, pertemuan diawali dengan makan siang bersama. Hidangan rumahan khas Banyuwangi tersaji lengkap, seperti nasi putih, sayur bening daun katuk dan gambas, pepes ikan, balado terong, lalapan ayam dengan sambal tempong, tempe goreng, hingga irisan semangka sebagai penutup.
Keluarga Mas Rio memang dikenal piawai memasak dan menerima pesanan katering. Bagi Field Facilitator NIHR UB, santap siang itu sekaligus menjadi perjalanan kecil menjelajahi cita rasa masakan rumahan Bumi Blambangan. Dua bulan bertugas di Banyuwangi pun rupanya ikut meninggalkan “jejak” berupa kenaikan berat badan sekitar dua kilogram.

Namun, selepas makan siang, perhatian segera beralih pada agenda utama. Spirometri merupakan salah satu pemeriksaan fungsi paru yang relatif mudah tersedia dan bermanfaat.
Pemeriksaan ini mengukur volume udara yang dapat diembuskan secara paksa dan maksimal pada waktu tertentu. Beberapa parameter penting yang dihasilkan antara lain forced vital capacity (FVC), forced expiratory volume in one second (FEV1), serta rasio FEV1/FVC.
Hasil pemeriksaan dapat ditampilkan dalam bentuk grafik dan dimanfaatkan sebagai bagian dari proses diagnosis maupun pemantauan kondisi pasien dengan penyakit paru (Lamb et al., 2023).
Bagi Rahman dan Rafini, pemeriksaan ini bukan sesuatu yang bisa dipandang sebelah mata. Meski keduanya telah menyaksikan pelaksanaan spirometri di sejumlah enumeration area lain, persiapan tetap diperlukan. Sebab, pengalaman melihat belum tentu sama dengan kesiapan ketika harus menjalankan pemeriksaan di lapangan.
Rahman kemudian memandu konsolidasi. Satu demi satu alur pemeriksaan dibicarakan, mulai dari siapa saja responden yang menjadi sasaran, di mana pemeriksaan akan berlangsung, apa yang perlu dipersiapkan responden sebelum pemeriksaan, hingga pembagian tugas antara enumerator dan kader pada hari pelaksanaan, Jumat (28/08).
Kader juga diajak memikirkan hal-hal yang tampak sederhana, tetapi penting. Misalnya, bagaimana membuat responden tetap nyaman, tidak tegang, dan tidak bosan ketika menunggu giliran pemeriksaan.

Dari pembicaraan tersebut, kader mulai memperoleh gambaran mengenai alur kegiatan. Ketika ada bagian yang belum jelas, mereka langsung bertanya. Tidak ada jarak antara enumerator dan kader. Semua duduk bersama untuk memastikan satu pemahaman.
Di sinilah konsolidasi menemukan maknanya. Pertemuan tersebut bukan hanya koordinasi teknis, tetapi juga upaya menyatukan persepsi, target, dan peran masing-masing.
Keterlibatan kader menjadi penting sebagai wujud partisipasi masyarakat. Sebagai penggerak kesehatan di tingkat desa, kader berada dekat dengan warga dan memahami karakter masyarakat yang akan menjadi bagian dari pemeriksaan.
Field Facilitator NIHR UB kemudian menambahkan sejumlah hal yang perlu diperhatikan. Pemeriksaan spirometri memiliki arti penting terutama bagi responden yang berdasarkan hasil pre-screening memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Karena itu, keberhasilan kegiatan tidak berhenti ketika alat spirometer selesai digunakan atau ketika satu per satu responden meninggalkan lokasi pemeriksaan.
Lebih jauh dari itu, terdapat pekerjaan membangun pemahaman dan partisipasi masyarakat. Enumerator bersama kader perlu memastikan warga mengetahui mengapa pemeriksaan dilakukan, memahami manfaatnya, serta bersedia mengambil bagian dalam rangkaian penelitian NIHR-GHRC NCDs & EC. Dari partisipasi itulah sebuah program dapat dikenal, dipahami, dan pada akhirnya diterima oleh masyarakat.
Persiapan, dengan demikian, bukan sekadar menyediakan alat dan menentukan jadwal. Ia adalah cara memastikan setiap orang mengetahui apa yang harus dilakukan ketika hari pelaksanaan tiba.

Benjamin Franklin (1706-1790), seorang polimatik Amerika yang merupakan salah satu Bapak Pendiri Amerika Serikat; penyusun dan penandatangan Deklarasi Kemerdekaan; serta kepala jawatan pos pertama, pernah mengingatkan:
“Jika Anda gagal bersiap, berarti Anda bersiap untuk gagal.”
Pesan tersebut terasa relevan di tengah persiapan pemeriksaan spirometri di Kaliploso. Bahkan langkah-langkah kecil – menyamakan pemahaman, membagi peran, menjawab pertanyaan kader, hingga memikirkan kenyamanan responden – dapat menjadi bagian penting dari keberhasilan kegiatan.
Sejalan dengan gagasan James Clear dalam Atomic Habits (2018), perbaikan kecil yang dilakukan secara konsisten mungkin tidak selalu terasa atau terlihat segera, tetapi dapat memberikan dampak besar dalam jangka panjang.
Menjelang pukul 15.15 WIB, konsolidasi pun berakhir. Para enumerator dan kader telah memiliki gambaran yang lebih jelas tentang apa yang akan mereka lakukan pada Jumat mendatang.
Spirometri di Desa Kaliploso memang baru akan dimulai. Tetapi sesungguhnya, implementasinya telah diawali jauh sebelumnya – dari sebuah meja makan, percakapan, pertanyaan, pembagian peran, dan kesediaan untuk mempersiapkan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. *** [230826]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo