“A good day is just being able to breathe.” — Laurel O’Connor et.al. (2025)
Mentari baru saja naik setinggi tombak ketika Jumat (21/08) itu, Pendopo Balai Desa Gambiran mulai ramai. Namun, bagi Field Facilitator NIHR UB, hari itu bukan sekadar rutinitas sosialisasi.
Dua jam telah ia habiskan untuk menghadiri undangan Sosialisasi Pencegahan Penularan Penyakit Menular AIDS, TBC dan Malaria. Tapi panggilan lain menunggu – pemeriksaan spirometri keempat di Desa Sarimulyo.
Dengan salam dan pamitan, ia melangkah menuju lokasi yang sudah tak asing lagi, yaitu rumah Kepala Dusun Muhammad Hudhori, di Dusun Sempu RT 03 RW 02, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi.
Di sanalah, kolaborasi antara NIHR UB dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi kembali dilaksanakan. Sejak pukul 08.00 WIB, 25 nama telah terdaftar dalam undangan hasil pre-screening. Mereka adalah warga yang terindikasi memiliki faktor risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).
Undangan itu tidak sekadar jatuh dari langit. Tiga enumerator – Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep.; Istifani Shafira, SKM; dan Triana Rahmah, S.AB – berkunjung dari pintu ke pintu, menyampaikan harapan lewat secarik kertas.

Antrean Panjang untuk Nafas Sehat
Pagi itu, suasana rumah Kepala Dusun berubah menjadi posko kesehatan darurat. Empat tenaga kesehatan dari RS NU – Ike Tri Cahyani, S.Kep.Ners.; Ismi Belqis A.E., S.Kep.Ners.; Ratna Lauranita, S.Kep.Ners.; dan Ayu Septi Hartati, S.Kep.Ners. – bersiap dengan alat spirometri MIR SpiroLab di tangan. Warga, atau responden yang datang pun mengikuti alur yang sudah dirancang rapi.
Pertama, mereka menuju meja loket 1. Tanda tangan kehadiran, pencatatan MM ID di kartu kuning oleh enumerator Istifani dan Triana secara bergantian, lalu kartu itu diserahkan ke nakes di meja pertama.
Sebelum dipanggil, Istifani dengan sabar menjelaskan tata cara pemeriksaan yang benar perihal bagaimana menarik napas, bagaimana menghembuskannya, seolah mengajarkan kembali seni paling dasar dalam hidup, yakni bernapas.
Di meja berikutnya, Ike Tri Cahyani siap dengan timbangan dan tensimeter. Berat badan dan tekanan darah dicatat. Lalu giliran Ismi Belqis yang melakukan anamnesa melalui aplikasi SMARThealth, sebuah langkah digital yang memastikan tidak ada data yang terlewat.

Meniup Harapan, Menunggu 20 Menit
Namun, inti dari pemeriksaan ini ada di meja 2. Di sanalah responden diajarkan teknik meniup yang sesungguhnya. Bukan sekadar meniup, tapi menghembuskan kehidupan. Corong ditempel, napas ditarik dalam-dalam, lalu dihembuskan sekuat tenaga dengan sebanyak dua kali sebagai pemanasan. Pada hembusan ketiga, mereka diminta menarik napas panjang, lalu melepaskannya perlahan, seperti melepas beban yang selama ini mengendap di paru-paru.
Setelah itu, mulut mereka disemprot dengan inhaler Salbutamol sulfate dengan jarak sekitar 5 – 8 sentimeter dari mulut. Lalu mereka duduk kembali, menunggu sekitar 20 menit. Dua puluh menit yang terasa seperti penantian panjang akan kabar dari tubuh sendiri. Pemeriksaan kedua pun dilakukan dengan mekanisme yang sama, kali ini oleh Ratna Lauranita dan Ayu Septi Hartati. Dan ketika semua selesai, Kiki Antikawati memanggil mereka satu per satu untuk presensi akhir, sekaligus menyerahkan konsumsi dan uang transport sebagai bentuk penghargaan atas waktu dalam pemeriksaan spirometri.

24 dari 25: Angka yang Berbicara
Pukul 13.51 WIB, pemeriksaan keempat di Sarimulyo resmi berakhir. Dari 25 orang yang diundang, 24 hadir. Satu orang tak bisa datang karena bertugas di RS NU Banyuwangi. Namun, ada satu orang lain yang hadir sebagai pengganti dari jadwal reschedule pemeriksaan sebelumnya. Total tetap 25. Sebuah angka kecil, tetapi menyimpan arti besar, yaitu kesadaran akan pentingnya kesehatan paru-paru mulai tumbuh di tengah masyarakat.
Seperti yang diungkapkan oleh Laurel O’Connor et.al. dalam “A good day is just being able to breathe”: Aligning COPD research with patient needs, a qualitative study (PloS one, 20(9), e0331403, 2025):
“Hari yang indah adalah saat kita bisa bernapas.”
Kalimat itu terasa begitu nyata di sore itu. Karena bagi warga Sarimulyo, setiap hembusan napas yang diukur bukan sekadar angka dalam grafik spirometri. Itu adalah bukti bahwa mereka masih bisa menikmati pagi, bekerja di ladang, dan tertawa bersama keluarga. Napas adalah hidup, dan pada Jumat itu, kehidupan di Sarimulyo terukur dengan penuh cinta. *** [220826]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo