“Tuberculosis requires not just a medical history but a call to action”. – Marcus Hinton
Pagi itu, pendopo Balai Desa Gambiran tidak sekadar menjadi ruang pertemuan. Di tempat yang berada di Jalan Diponegoro, Dusun Krajan II, Desa Gambiran, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, sejumlah warga datang dengan tujuan yang sama, yaitu memastikan kondisi kesehatan mereka, terutama dari ancaman Tuberkulosis (TB).
Beberapa waktu sebelumnya, ketika menghadiri kegiatan Posyandu ILP Melati di Taman Siti Ganjaran, Wringinrejo, Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB) mendapat informasi dari Kepala Puskesmas Pembantu (Kapustu) Wringinrejo, Dodi Setiawan, A.Md. Kep. Ia menyampaikan bahwa akan digelar skrining TB bagi sekitar 100 orang yang merupakan kontak erat dan kontak serumah dengan pasien TB di Balai Desa Gambiran.
Informasi itu membawa Field Facilitator NIHR UB ke pendopo desa pada Jumat (21/08). Kegiatan tersebut dikemas dalam Sosialisasi Pencegahan Penularan Penyakit Menular AIDS, TBC dan Malaria. Namun, di balik sosialisasi tersebut, terselip satu agenda penting, yakni kegiatan tracing TB yang terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Suasana pendopo perlahan berubah menjadi ruang pelayanan kesehatan. Warga yang datang tidak hanya mendengarkan penjelasan mengenai penyakit menular, tetapi juga diarahkan untuk menjalani rangkaian pemeriksaan. Pemerintah hadir lebih dekat, bukan sekadar menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan.

Upaya itu menjadi bagian dari komitmen Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banyuwangi untuk mempercepat eliminasi Tuberkulosis melalui penemuan kasus secara aktif. Tracing TB dilakukan dengan melacak orang-orang yang memiliki kontak erat atau tinggal serumah dengan pasien TB. Mereka menjadi kelompok yang penting diperiksa karena berpotensi memiliki risiko penularan.
TB sendiri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru, meski dalam kondisi tertentu dapat menyebar ke organ lain, seperti ginjal, tulang belakang, hingga otak. Penularannya terjadi melalui udara ketika penderita TB paru batuk, bersin, atau berbicara.
Batuk yang berlangsung lama, nyeri dada, mudah lelah, demam, hingga penurunan berat badan dapat menjadi sejumlah gejala yang patut diwaspadai. Namun, persoalannya tidak selalu sesederhana mengenali gejala. Seseorang yang memiliki kontak dengan pasien TB juga perlu mendapatkan pemeriksaan, meskipun belum merasakan keluhan yang berarti.
Karena itu, deteksi dini menjadi salah satu pintu penting dalam memutus mata rantai penularan.
“Tuberkulosis tidak hanya menuntut adanya riwayat medis, tetapi juga seruan untuk bertindak.”

Kutipan Marcus Hinton tersebut terasa relevan dengan apa yang berlangsung di Pendopo Balai Desa Gambiran. TB bukan semata persoalan antara pasien dan dokter. Di dalamnya ada keluarga, tetangga, kader kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, hingga pemerintah yang perlu bergerak bersama.
Staf Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Malang, Herman, yang turut menjelaskan pentingnya tracing, menekankan bahwa penularan TB merupakan persoalan serius yang membutuhkan perhatian. Melalui Tracing TB Terintegrasi CKG, pelacakan kontak pasien TB dipadukan dengan pemeriksaan kesehatan dasar.
Dengan pendekatan tersebut, warga tidak hanya menjalani skrining TB. Mereka juga mendapatkan kesempatan untuk mengetahui kondisi kesehatannya secara lebih menyeluruh, sekaligus memperoleh edukasi mengenai gejala TB, mekanisme penularan, pentingnya pemeriksaan bagi kontak serumah, serta kewajiban menyelesaikan pengobatan apabila seseorang dinyatakan menderita TB.
Pukul 09.52 WIB, setelah sesi sosialisasi selesai, kegiatan beranjak dari ruang penyampaian informasi menuju ruang pemeriksaan. Enam meja telah disiapkan. Masing-masing memiliki fungsi berbeda, tetapi seluruhnya terhubung dalam satu alur pelayanan.

Di meja pertama, warga melakukan registrasi dan verifikasi. Kader Yabhisa Ismaulfa dan Mastufah memastikan data peserta tercatat dengan baik sebelum mereka melanjutkan pemeriksaan.
Dari meja pertama, peserta bergerak menuju meja kedua. Di sini pemeriksaan kesehatan dasar dan skrining gejala dilakukan oleh Bidan Lulu dan Perawat Hesti. Pertanyaan mengenai kondisi kesehatan dan gejala menjadi bagian awal untuk melihat lebih jauh kondisi peserta.
Tahap berikutnya adalah pemeriksaan foto rontgen di meja ketiga. Ruangan khusus di belakang pendopo, yang dipinjam dari Pemerintah Desa Gambiran, digunakan untuk proses tersebut. Tim Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Banyuwangi menangani pemeriksaan rontgen.
Setelahnya, peserta menuju meja keempat untuk bertemu tenaga medis. Dokter Anggita dari Puskesmas Gambiran bersama Perawat Dodi Setiawan dari Pustu Wringinrejo memberikan pemeriksaan dan menentukan tindak lanjut berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan.

Meja kelima menjadi bagian yang tak kalah penting, meski aktivitasnya lebih banyak berlangsung di balik layar. Di sana, analis medis Puskesmas Gambiran, Ulinnuha, melakukan pencatatan dan pelaporan hasil pemeriksaan ke dalam aplikasi. Data menjadi bagian penting dalam memastikan proses penemuan kasus dan tindak lanjut berjalan secara terukur.
Kemudian tibalah peserta di meja keenam. Di meja ini tersedia Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sekaligus subsidi uang transportasi. Staf Dinkes, Rara dan Ages, melayani peserta dengan disaksikan staf Bidang P2P, Herman.
Di meja yang sama turut hadir personel Yayasan Kemitraan Strategis Tuberkulosis Indonesia atau Stop TB Partnership Indonesia (STPI). Yayasan tersebut aktif berkoordinasi dengan Dinkes Kabupaten Banyuwangi dan fasilitas pelayanan kesehatan setempat dalam mendukung penanggulangan TBC.
Enam meja itu pada akhirnya bukan sekadar pembagian tugas. Ia seperti potongan-potongan kecil dari sebuah upaya besar dalam menemukan penyakit lebih awal, memastikan seseorang mendapatkan penanganan, kemudian mencegah agar penularan tidak terus berlangsung.

Di sinilah makna tracing menjadi lebih luas. Pelacakan bukan berarti mencari siapa yang sakit semata. Ia adalah cara untuk menemukan kemungkinan kasus sedini mungkin, menjangkau orang-orang yang mungkin tidak datang ke fasilitas kesehatan karena merasa sehat, sekaligus membuka pintu edukasi bagi keluarga dan masyarakat.
Pelaksanaan kegiatan yang melibatkan Puskesmas Gambiran, Pustu di wilayah kerja Puskesmas Gambiran, kader kesehatan, Dinkes, serta mitra terkait tersebut memperlihatkan bahwa eliminasi TB tidak dapat dikerjakan oleh satu pihak saja.
Masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya. Ketika mengalami gejala yang mengarah pada TB, mereka perlu segera memeriksakan diri. Begitu pula mereka yang memiliki riwayat kontak dengan pasien TB. Tidak perlu menunggu kondisi menjadi berat untuk datang ke layanan kesehatan.
Sebab, semakin cepat sebuah kasus ditemukan, semakin cepat pula penanganan dapat diberikan. Pengobatan yang dijalankan secara tuntas menjadi bagian penting untuk memutus penularan, sementara pemeriksaan kontak erat membantu menemukan kemungkinan kasus lain yang sebelumnya tersembunyi.

Pendopo Balai Desa Gambiran pada Jumat itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar tempat berlangsungnya sebuah agenda kesehatan. Ia menjadi ruang perjumpaan antara informasi dan Tindakan – antara kekhawatiran tentang TB dan langkah konkret untuk menghadapinya.
Dari satu meja ke meja berikutnya, warga menjalani pemeriksaan. Dari satu informasi ke informasi berikutnya, kesadaran dibangun. Dan dari kegiatan sederhana di sebuah pendopo desa, tersimpan harapan yang lebih besar: semakin banyak kasus TB ditemukan lebih awal, semakin banyak orang mendapatkan pengobatan secara tepat, dan semakin kecil peluang penyakit itu terus berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya.
Pada akhirnya, eliminasi Tuberkulosis bukan hanya tentang seberapa banyak pasien yang berhasil diobati. Ia juga tentang seberapa dini masyarakat berani memeriksakan diri, seberapa cepat kontak erat ditelusuri, dan seberapa kuat semua pihak bergerak bersama.
Dari Desa Gambiran, seruan itu kembali ditegaskan, bahwa jangan menunggu TB menjadi berat untuk bertindak. Deteksi dini adalah langkah kecil yang dapat memberi dampak besar bagi kesehatan keluarga dan masyarakat. *** [220826]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo