“Tarik napas. Lepaskan. Dan ingatkan diri sendiri bahwa saat inilah satu-satunya waktu yang pasti Anda miliki.” — Oprah Winfrey
Pesan Oprah Gail Winfrey, yang dikenal sebagai pembaca acara bincang-bincang di televisi Amerika tersebut, terasa menemukan maknanya di Taman Posyandu Dahlia II, Dusun Tempurejo RT 05 RW 02, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, Senin (21/09). Di tempat itu, tarikan dan hembusan napas menjadi bagian penting dari sebuah upaya untuk mengenali kondisi kesehatan paru-paru masyarakat.
Untuk ketiga kalinya, tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Purwodadi – Mega Wrida Silvia, SKM., Naylil Nur Amalya Putri, S.Sos., dan Sinta Ningrum Widianingsih, SKM. – kembali menyelenggarakan pemeriksaan spirometri.

Kegiatan yang merupakan kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi tersebut menyasar 28 responden hasil pre-screening yang memiliki faktor risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).
Sejak pagi, persiapan telah dimulai. Bersama tiga kader kesehatan setempat – Yuli Wulandari, Restining Ayem, dan Rika Rahmatul – para enumerator bergotong royong menata meja dan kursi. Setiap sudut ruang pemeriksaan disiapkan untuk memastikan responden dapat mengikuti alur pemeriksaan secara tertib.

Sekitar pukul 08.20 WIB, personel RS Yasmin Banyuwangi tiba. dr. Dewangga Sakti Satria Kinasih bersama Ns. Nurul Maghfira, S.Kep., Ns. Prisilia Rosa A., S.Kep., Ns. Rizki Indrawangi, S.Kep., dan Ns. Winda Nurhasanah, S.Kep., segera menurunkan perlengkapan dari kendaraan dinas dan memulai pelayanan.
Responden datang secara bergantian. Enumerator dan kader menyambut, mendampingi, sekaligus memastikan setiap orang memahami tahapan yang akan dijalani.
Alur pemeriksaan dimulai dari meja pendaftaran di sudut tenggara bangunan Taman Posyandu Dahlia II. Di sana, enumerator Sinta bersama dua kader melakukan registrasi dan verifikasi. Setelah itu, responden diarahkan menuju meja Tanda-Tanda Vital (TTV).

Di meja TTV, Perawat Nurul memeriksa tekanan darah dan kadar oksigen melalui oksimetri. Berikutnya, dr. Dewangga melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth, dilanjutkan pemeriksaan fisik dengan stetoskop.
Dari meja TTV, responden kemudian duduk di kursi antrean. Sambil menunggu giliran, enumerator dan kader yang sedang luang turut membantu memberikan tips dan arahan sederhana agar responden lebih siap menghadapi tahapan utama, yaitu spirometri.
Spirometri merupakan pemeriksaan fungsi paru yang mengukur volume udara yang dapat dihirup dan diembuskan serta kemampuan seseorang mengeluarkan udara dari paru-parunya dengan cepat dan kuat.

Di meja spirometri, Perawat Prisilia memulai pemeriksaan tahap pertama atau pre-nebulisasi. Perawat Rizki membantu mengoperasikan laptop yang terhubung dengan perangkat spirometer. Responden diminta menarik napas sedalam-dalamnya, kemudian mengembuskannya dengan kuat. Manuver tersebut dilakukan sebanyak tiga kali.
Setelah tahap pertama selesai, responden berpindah ke meja nebulizer. Di sana, Perawat Winda memberikan nebulisasi menggunakan Nebulizer Mask Besmed yang telah diisi cairan bronkodilator. Setiap responden memperoleh masker sekali pakai yang masih steril dari kemasannya.

Selesai nebulisasi, responden kembali ke kursi antrean. Setelah tiba gilirannya, pemeriksaan dilanjutkan dengan spirometri tahap kedua atau post-nebulisasi. Prosedurnya kembali dilakukan sebagaimana tahap pertama.
Bagi responden yang mampu mengikuti seluruh instruksi dan menyelesaikan pemeriksaan, rangkaian spirometri pun dinyatakan selesai. Mereka kemudian kembali ke meja pendaftaran. Kader Rika, disaksikan enumerator Sinta, menyerahkan konsumsi, gift, serta subsidi transportasi sebagai bagian dari dukungan kepada responden.
Hingga pelayanan ditutup pukul 13.09 WIB, seluruh 28 undangan hadir. Namun, seorang responden perempuan lanjut usia berusia 88 tahun tidak dapat menyelesaikan rangkaian pemeriksaan.

Kendala muncul sejak spirometri tahap pertama. Responden mengalami kesulitan memahami instruksi dan mengikuti aba-aba perawat. Kondisi tersebut juga dikonfirmasi oleh Ns. Elik Anistiana, S.Kep., yang turut membantu NIHR UB dalam mengawasi pelaksanaan pemeriksaan.
Setelah Field Facilitator NIHR UB mengonfirmasi kembali kondisi tersebut kepada enumerator yang sebelumnya mewawancarainya saat baseline survey, diketahui bahwa responden masih dapat mendengar, tetapi menunjukkan respons kognitif yang cenderung lambat. Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Field Facilitator NIHR UB memutuskan responden untuk di-exclude dari rangkaian pemeriksaan.

Di tengah pelaksanaan, Rahmanurraudhotul Amin, SKM., turut hadir membantu mencatat proses implementasi pemeriksaan berdasarkan checklist yang ditetapkan Research Fellow. Kegiatan tersebut juga dihadiri Muhammad Wisnu Nafiri, S.E., enumerator baseline survey Desa Wringinagung.
Hari itu, bukan sekadar alat spirometer yang bekerja mengukur kapasitas paru. Ada kerja bersama, ketelitian, kesabaran, dan perhatian terhadap setiap responden. Dari meja pendaftaran hingga embusan napas terakhir pada spirometer, setiap tahapan menjadi bagian dari upaya memahami kesehatan paru masyarakat Desa Purwodadi.
Sebab, sebagaimana pesan sederhana tentang bernapas, setiap tarikan dan embusan bukan hanya gerakan tubuh. Ia adalah pengingat bahwa kesehatan perlu diperhatikan – satu napas, satu pemeriksaan, dan satu langkah pada satu waktu. *** [210926]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo