“When the breath is unsteady, all is unsteady; when the breath is still; all is still. Control the breath carefully. Inhalation gives strength and a controlled body; retention gives steadiness of mind and longevity; exhalation purifies body and spirit.” – Goraksa sathakam
Dua mobil Jempol Raga (Jemput Bola Rawat Raga Warga) milik Pemerintah Desa Purwodadi terparkir rapi di depan dan samping Pendopo Desa pada Sabtu (19/09. Kendaraan bernuansa pelayanan kesehatan itu seolah menjadi saksi bisu atas sebuah langkah penting, yaitu pemeriksaan spirometri untuk kedua kalinya di desa yang terletak di Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi ini.
Kegiatan ini merupakan bagian dari baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmentall Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Purwodadi, sebuah inisiatif kolaboratif antara NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi.

Tiga enumerator – Mega Wrida Silvia, SKM; Naylil Nur Amalya Putri, S.Sos.; dan Sinta Ningrum Widianingsih, SKM – bahu-membahu bersama tiga kader kesehatan setempat, yakni Nurul Hidayati, Restining Ayem, dan Roisatur Rodiyah, dalam menyiapkan segala keperluan pemeriksaan.
Begitu tim kesehatan dari RS Yasmin tiba, yang terdiri dari Ns. Ilfani Fitriyanti, S.Kep.; Ns. Renny Karmila, S.Kep.; Tria Firnasari, A.Md.Kep.; Ns. Yusi Ayu Permatasari, S.Kep., dan dr. Sofia Intani Putri, mereka langsung menata peralatan medis. Spirometer, perangkat berbentuk tabung dengan sensor yang terhubung ke komputer, siap mencatat parameter penting fungsi paru: Forced Vital Capacity (FVC) dan Forced Expiratory Volume in 1 second (FEV1).
FVC mengukur jumlah udara maksimal yang dapat dihembuskan setelah menarik napas dalam-dalam, sementara FEV1 mencatat volume udara yang keluar dalam satu detik pertama. Kedua parameter ini menjadi kunci dalam mendeteksi gangguan fungsi paru, terutama Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).

Sebanyak 27 responden hasil pre-screening dan teridentifikasi memiliki faktor risiko PPOK diundang untuk mengikuti pemeriksaan ini. Faktor risiko PPOK sendiri meliputi kebiasaan merokok, paparan debu dan bahan kimia di tempat kerja, polusi udara, hingga riwayat infeksi saluran pernapasan berulang.
Saat responden tiba, mereka disambut hangat oleh enumerator dan kader, lalu dipandu ke meja pendaftaran di sisi barat daya pendopo. Enumerator Mega dan Sinta secara bergantian melakukan registrasi dan verifikasi data.
Bila antrean belum panjang, responden langsung diarahkan ke meja pemeriksaan TTV (Tanda-Tanda Vital) di barat laut bangunan. Namun, jika terjadi antrean, mereka dipersilakan duduk sambil menunggu panggilan.

Di sela menunggu, enumerator atau kader memanfaatkan waktu untuk memberikan tips dan trik melakukan manuver tiupan yang benar, sebuah sentuhan humanis yang membuat responden lebih siap dan percaya diri.
Panggilan pertama datang dari meja TTV. Perawat Tria melakukan pengukuran tekanan darah dan oksimetri. Selanjutnya, dr. Sofia melaksanakan anamnesis dan pengukuran fisik untuk memastikan kondisi responden layak melanjutkan ke tahap berikutnya.
Responden kemudian dipanggil ke meja spirometri di sisi utara meja TTV untuk menjalani tes tahap pertama atau pre-nebulisasi. Di sini, Perawat Ilfani memandu manuver tiupan sambil dibantu Perawat Yusi yang mengoperasikan laptop terhubung spirometer. Proses ini disaksikan oleh Elik Anastina, yang membantu NIHR UB dalam monitoring tes.

Setelah tes pertama selesai, responden kembali ke meja TTV untuk menjalani nebulisasi yang dilakukan Perawat Renny. Nebulisasi adalah terapi inhalasi yang bertujuan membuka saluran pernapasan, sehingga hasil tes kedua dapat lebih akurat.
Responden kemudian dipanggil kembali ke meja spirometri untuk tes tahap kedua atau post-nebulisasi. Dua perawat yang sama melanjutkan prosedur dengan cermat. Bila tes kedua berjalan lancar, responden telah menyelesaikan seluruh rangkaian pemeriksaan.
Sebagai bentuk apresiasi, setiap responden yang selesai diperiksa dipandu kembali ke meja pendaftaran. Di sana, kader Restining Ayem menyerahkan konsumsi, gift, dan subsidi transportasi. Sentuhan ini bukan sekadar formalitas, melainkan wujud terima kasih atas partisipasi warga dalam upaya deteksi dini gangguan paru.

Kegiatan yang berakhir pada pukul 13.52 WIB ini berhasil memeriksa 27 dari 27 responden yang diundang – mencapai tingkat partisipasi 100%. Rahmanurraudhotul Amin, SKM, yang bertugas mendokumentasikan prosesi implementasi spirometri berdasarkan checklist, mencatat pencapaian ini sebagai bukti komitmen desa terhadap kesehatan warganya.
Di tengah hiruk-pikuk pemeriksaan, ada sebuah renungan yang relevan dari Goraksa sathakam, teks klasik yoga:
“Saat napas tidak stabil, segalanya menjadi tidak stabil; saat napas tenang, segalanya menjadi tenang. Kendalikanlah napas dengan saksama. Menarik napas memberikan kekuatan dan tubuh yang terkendali; menahan napas memberikan ketenangan pikiran dan umur panjang; mengembuskan napas memurnikan tubuh dan jiwa.”
Kutipan ini seolah menjadi jiwa dari kegiatan spirometri di Purwodadi. Bukan sekadar mengukur angka FVC dan FEV1, tetapi juga mengingatkan bahwa napas yang sehat adalah fondasi kehidupan yang stabil.

Dengan pemeriksaan rutin seperti ini, Desa Purwodadi tidak hanya mendeteksi risiko PPOK, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa setiap embusan napas adalah anugerah yang patut dijaga.
Kegiatan spirometri kedua ini menjadi tonggak penting dalam upaya preventif kesehatan pernapasan di tingkat desa. Kolaborasi antara pemerintah desa, akademisi, rumah sakit, dan kader kesehatan menunjukkan bahwa deteksi dini PPOK bisa dilakukan secara efektif bahkan di daerah pedesaan.
Dengan partisipasi 100% dari responden yang diundang pada pemeriksaan spiormetri untuk yang kedua kalinya ini, Desa Purwodadi membuktikan bahwa kesadaran kesehatan masyarakat dapat dibangun melalui pendekatan yang terstruktur, humanis, dan berkelanjutan. Semoga langkah ini menginspirasi desa-desa lain untuk menjadikan pemeriksaan fungsi paru sebagai bagian dari layanan kesehatan dasar yang rutin dan mudah diakses. *** [200926]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo