“Inhale, Exhale, Repeat.” — Emma Mills, Inhale, Exhale, Repeat: A Mindfulness Handbook for Every Part of Your Day
Empat kali dalam dua bulan, warga Desa Kaliploso berumur 40 tahun ke atas yang terindikasi berisiko Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) mengikuti pemeriksaan spirometri secara bertahap. Program skrining fungsi paru kolaborasi NIHR UB dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi kembali digelar pada Jumat (18/09) dengan target 25 peserta, kali ini dipusatkan di Pendopo Desa Kaliploso, Dusun Plosorejo RT 03 RW 04, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi.
Dua enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Kaliploso – Rahmanurraudhotul Amin, SKM, dan Rafini Aminatul Hidayah, S.Tr.Gz. – bersama lima kader setempat (Harum Wijayanti, Rio Dita Wibawa, Sri Hidayati, Sundari, dan Sutiyani Eka Rahayu) telah bersiap sejak pagi. Penataan meja, bangku, dan kursi bahkan dilakukan enumerator Rahman pada malam sebelumnya agar alur pemeriksaan berjalan lancar.
Begitu Tim RS NU – Ayu Septi, S.Kep.Ners.; Elliana Khoirun Nisaa’, S.Keb.; Ike Tri Cahyani, S.Kep.Ners.; dan Lavinia Agustina, S.Kep.Ners. – tiba pukul 08.30 WIB, pemeriksaan dimulai. Peserta yang didominasi perempuan berdatangan secara mengalir, menciptakan suasana antrean yang tertib namun hangat.

Di meja pendaftaran, enumerator Rafini didampingi kader bergantian melakukan registrasi dan verifikasi peserta. Setelah itu, responden diarahkan ke meja TTV (Tanda-Tanda Vital), tahap wajib sebelum meniup spirometer. Pemeriksaan ini memastikan kondisi fisik stabil, mendeteksi risiko kontraindikasi, dan menjadi data pendukung dalam menghitung nilai prediksi fungsi paru.
Komponen TTV mencakup pengukuran berat badan, tekanan darah, dan oksimetri. Bidan Elliana menangani tensi dan oksimetri, sementara Perawat Ike melakukan penimbangan badan dan anamnesis dengan aplikasi SMARThealth. Bila responden datang bersamaan, keduanya bekerja paralel agar antrean tidak menumpuk.

Usai TTV, peserta kembali duduk di bangku antrean sambil menunggu panggilan ke meja spirometri. Di sela itu, enumerator Rahman memberikan trik dan tips “menyebul”, sebuah istilah lokal untuk teknik meniup yang benar, agar responden lebih mudah menjalani tes.
Spirometri sendiri adalah tes fungsi paru yang mengukur volume dan aliran udara masuk-keluar paru-paru. Tes ini menjadi alat diagnostik dan pemantauan utama untuk penyakit pernapasan seperti PPOK, asma, dan fibrosis kistik, karena mampu mendeteksi masalah yang tak terlihat hanya dari pemeriksaan fisik biasa.

Di meja spirometri, Perawat Lavinia memimpin manuver, sementara Perawat Ayu mengoperasikan alat MIR SpiroLab dari NIHR UB. Mereka bergantian sesuai kebutuhan. Di meja ini, Elik Anastina membantu NIHR UB dalam tes spirometri.
Saat dipanggil, peserta diminta menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napas sekuat-kuatnya ke mouthpiece spirometer. Setiap responden melakukan dua kali tes spirometri untuk memastikan hasil yang dapat dipercaya, dan setiap tahapan dilakukan sebanyak tiga kali meniup.

Tahap pertama disebut pre-bronkodilator (pre-semprot salbutamol). Salbutamol adalah obat bronkodilator yang melebarkan saluran napas, meredakan sesak, mengi, dan batuk akibat asma atau PPOK. Setelah 20 menit menerima semprotan salbutamol di mulut, peserta menjalani tahap kedua, atau post-bronkodilator.
Jika tahap kedua dilalui dengan lancar, rangkaian pemeriksaan spirometri dianggap selesai. Protokol ini sejalan dengan panduan internasional yang merekomendasikan jeda 15–20 menit pascabronkodilator sebelum pengulangan spirometri, untuk melihat respons reversibilitas saluran napas.

Setelah selesai, peserta diarahkan kembali ke meja pendaftaran. Di sana, enumerator Rafini yang dibantu kader menyerahkan konsumsi, gift, dan subsidi transportasi sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka.
Rangkaian seluruh pemeriksaan spirometri di Pendopo Desa Kaliploso berakhir pukul 13.29 WIB, ditutup oleh pemeriksaan pada responden pria. Dari 25 undangan, seluruhnya berhasil diperiksa dengan capaian 100% yang menunjukkan tingginya kesadaran warga terhadap pentingnya deteksi dini gangguan paru.

Dalam konteks skrining seperti ini, kutipan dari Emma Mills, seorang pengajar meditasi sekaligus pendiri emmamillslondon.com, dalam Inhale, Exhale, Repeat: A Mindfulness Handbook for Every Part of Your Day (2017):
“Tarik napas, embuskan napas, ulangi.”
Kalimat Emma Mills terdengar sederhana, namun sarat makna. Ia mengingatkan bahwa setiap tiupan ke spirometer bukan sekadar prosedur teknis, melainkan langkah kecil yang bisa mengubah trajectory kesehatan seseorang, yaitu dari tidak tahu menjadi tahu, dari terlambat menjadi lebih dini, dari pasif menjadi proaktif terhadap paru-paru sendiri.
Di Desa Kaliploso, napas yang terukur di pendopo desa menjadi bukti bahwa skrining PPOK bisa dilakukan dekat dengan warga, dengan alur yang manusiawi, dan hasil yang bermakna bagi sistem rujukan kesehatan daerah. *** [190926]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo