Tarik Napas, Lalu Embuskan: Kisah Spirometri Perdana di Purwodadi

Okay, everyone, now inhale… and then dehale!” — Maury Wills

Pagi-pagi, sekitar pukul 06.30 WIB, tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Purwodadi meninggalkan basecamp.

Rabu (16/09) pagi itu, Mega Wrida Silvia, SKM; Naylil Nur Amalya Putri, S.Sos., dan Sinta Ningrum Widianingsih, SKM punya satu misi, yaitu memastikan pemeriksaan spirometri perdana di Desa Purwodadi berjalan tanpa hambatan. Di tangan mereka, secarik daftar berisi 28 nama warga hasil pre-screening dan memiliki faktor risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).

Tarik Napas, Lalu Embuskan: Kisah Spirometri Perdana di Purwodadi
Personil RS Yasmin berpose dengan enumerator baseline survey, kader kesehatan, Ketua RT, dan Field Facilitator NIHR UB

Pukul 06.40 WIB, mereka tiba di rumah Sugiyanto, Ketua RT 05 RW 01, yang beralamat di Dusun Gembolo, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi. Rumah itu bukan sekadar bangunan; ia menjadi saksi bagaimana sebuah desa membuka pintu bagi teknologi kesehatan yang selama ini lebih akrab dengan ruang laboratorium rumah sakit.

Tiga kader kesehatan setempat – Nurul Hidayati, Rika Rahmatul S., dan Roisatur Rodiyah – sudah menunggu. Mereka bahu-membahu menata meja, menyusun kursi, dan memastikan alur pemeriksaan tertata rapi.

Kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dengan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi ini bukan sekadar program, melainkan jembatan yang menghubungkan riset dengan denyut napas warga desa.

Teras dan garasi milik Ketua RT 05 RW 01 Dusun Gembolo jadi tempat pemeriksaan spirometri perdana di Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi

Spirometri, bagi banyak orang, mungkin terdengar asing. Namun di balik istilah teknisnya, ia adalah pemeriksaan yang aman, cepat, dan mudah tersedia. Ia dapat dilakukan di tempat praktik, laboratorium fisiologi paru, bahkan di rumah.

Parameter utamanya meliputi forced vital capacity (FVC), forced expiratory volume dalam 1 detik (FEV1), serta rasionya (FEV1/FVC). Hasilnya bukan sekadar angka; ia dapat menentukan prognosis, mengevaluasi perkembangan penyakit, memantau respons terapi, dan menjadi peringatan dini bagi mereka yang berisiko (Mohning & Krefft, 2025, Clinics in Chest Medicine).

Begitu personil RS Yasmin – Annisa Fitriya, A.Md.Kep.; Nadia Yullandra, A.Md.Kep.; Nurul Magfira, S.Kep.Ns.; Rizki Indrawangi, S.Kep.Ns., dan dr. Rika Hardiyanti H. – tiba, lokasi langsung berubah menjadi pos kesehatan darurat.

Suasana pemeriksaan spirometri perdana di Desa Purwodadi

Meja pendaftaran di sisi barat, menempel dinding Rumah Sunat Ceria Gembolo milik putra Ketua RT, menjadi gerbang pertama. Di sana, enumerator Sinta melakukan registrasi dan verifikasi.

Bila antrean belum panjang, responden diarahkan ke meja TTV (Tanda-Tanda Vital) di sisi timur. Namun bila antrean memanjang, mereka dipersilakan duduk di teras, menunggu panggilan sambil mendengarkan tips dan trik bernapas yang benar dari enumerator Mega dan Naylil atau kader Rika dan Roisatur.

Panggilan pertama datang dari meja TTV. Perawat Annisa mengukur tekanan darah dan oksimetri. Lalu, dr. Rika melakukan anamnesis dan pengukuran fisik. Setelah itu, responden kembali ke teras, menunggu panggilan dari meja spirometri di sisi utara.

Meja pendaftaran: terlihat responden yang sedang mendaftarkan dan responden yang sudah selesai mengikuti pemeriksaan spirometri

Di sana, Perawat Rizki memandu manuver, dibantu Perawat Nurul yang mengoperasikan laptop yang tersambung dengan alat spirometri milik RS Yasmin. Elik Anastina, yang membantu NIHR UB dalam monitoring, menyaksikan setiap embusan napas dengan saksama.

“Baiklah semuanya, sekarang tarik napas… lalu embuskan!”

Kalimat Maury Morning Wills (1932-2022), seorang pemain dan manajer bisbol Amerika itu, mungkin tidak persis terucap, tetapi semangatnya terasa dalam setiap instruksi yang diberikan.

Responden menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya sekuat mungkin ke dalam tabung spirometri. Tes tahap pertama, atau pre-nebulisasi, pun selesai. Responden bergeser kembali ke meja TTV.

Usai anamnesis, dokter RS Yasmin melakukan pemeriksaan fisik dengan menggunakan stetoskop

Di sana, Perawat Nadia melakukan nebulisasi – pemberian obat pelega napas (bronkodilator) menggunakan alat penguap. Prosedur ini adalah inti dari uji reversibilitas bronkodilator, untuk melihat apakah penyempitan saluran napas dapat membaik setelah diberikan obat.

Selesai nebulisasi, responden kembali dipanggil ke meja spirometri untuk tes tahap kedua, atau post-nebulisasi. Dua perawat bagian spirometri melakukannya dengan teliti. Pelaksanaan spirometri setelah pemberian bronkodilator memang sering diperlukan untuk diagnosis penyakit pernapasan tertentu, dan standardisasi prosedurnya sangat penting untuk menginterpretasikan perubahan nilai spirometri pasca-bronkodilatasi (García-García, dkk., 2026, Archivos de Bronconeumología).

Bila tes tahap kedua berjalan lancar, responden telah menyelesaikan seluruh rangkaian alur pemeriksaan spirometri. Mereka dipandu kembali ke meja pendaftaran, tempat kader Nurul Hidayati memberikan konsumsi, gift, dan subsidi transportasi.

Tes spirometri tahap 1 atau pre-nebulisasi

Hingga pukul 14.10 WIB, dari 28 undangan, 26 orang berhasil diperiksa tuntas. Satu orang tidak bisa hadir karena sedang opname di rumah sakit, menanti operasi fraktur. Satu lagi, seorang perempuan lansia berusia sekitar 75 tahun, tidak bisa menuntaskan pemeriksaan di meja spirometri. Pendengarannya sudah berkurang, sehingga ia tidak bisa mendengar aba-aba yang harus dilakukan. Field Facilitator NIHR UB menyarankan agar responden ini di-exclude.

Memang, hal ini juga dilaporkan oleh Lange dkk. (2023) dalam Journal of Pain and Symptom Management, bahwa kesulitan dalam memberikan panduan atau instruksi selama pemeriksaan akibat kendala bahasa maupun kognitif acapkali menjadi hambatan, yang terkadang berakhir pada kegagalan pemeriksaan atau data diagnosis yang tidak terbaca dengan jelas.

Namun, di balik angka dan prosedur, ada sesuatu yang lebih dalam, yakni sebuah desa yang belajar mengenal napasnya sendiri. Spirometri perdana di Desa Purwodadi bukan sekadar kegiatan riset. Ia adalah cermin bagaimana kesehatan paru-paru, yang sering terabaikan, akhirnya mendapat perhatian.

Nebulisasi

Rahmanurraudhotul Amin, SKM yang ditugasi mencatat prosesi implementasi berdasarkan check list, menjadi saksi bagaimana setiap embusan napas membawa harapan. Harapan bahwa PPOK tidak lagi menjadi bayang-bayang, melainkan sesuatu yang bisa dideteksi, dicegah, dan ditangani. Selain itu, tampak pula enumerator baseline survey Desa Wringinagung Muhammad Wisnu Nafiri, S.E., turut menyaksikan dalam pelaksanaan pemeriksaan spirometri di Desa Purwodadi.

Di Dusun Gembolo, napas pertama telah ditarik. Dan seperti kata Maury Wills, kini saatnya mengembuskan – melepaskan segala kekhawatiran, dan menyambut udara baru yang lebih sehat. *** [170926]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment