“I inhale hope with every breath I take.” — Sharon Kay Penman
Kalimat Sharon Kay Penman (1945-2021), seorang novelis Amerika itu, terasa menemukan maknanya di Balai Dusun Sumberjaya, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, pada Senin (14/09).
Pagi itu, embusan napas menjadi bagian penting dari sebuah pemeriksaan kesehatan. Bukan sekadar menarik dan mengeluarkan udara, melainkan menjadi cara untuk mengenali lebih dini bagaimana paru-paru bekerja.
Sekitar pukul 07.03 WIB, tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Envrionmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC ) Desa Wringinagung – Muhammad Wisnu Nafiri, S.E., Maharany Triastuti Januarizki, S.ST., dan Winda Cahyani, S.Tr.Gz.RD – berangkat dari basecamp Purwodadi menuju Balai Dusun Sumberjaya. Perjalanan hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit.

Sesampainya di lokasi, mereka bersama tiga kader kesehatan setempat – Khilina Wilda Islami, Melani Citra Dewi, dan Munik Wahyuni – segera menata kursi dan meja. Ruang sederhana itu perlahan berubah menjadi tempat berlangsungnya pemeriksaan spirometri untuk kesepuluh kalinya, hasil kolaborasi NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi.
Sekitar pukul 08.40 WIB, tim RS Yasmin tiba. Tria Firnasari, A.Md.Kep., Ns. Achmad Zaenal Arifin, S.Kep., Ns. Rizki Indrawangi, S.Kep., Ns. Yusi Ayu Permatasari, S.Kep., dan dr. Jasinda A.P.S. kemudian berkoordinasi dengan para enumerator. Sepuluh menit berselang, pemeriksaan pun dimulai.
Spirometri sendiri merupakan pemeriksaan fungsi paru yang mengukur udara yang dapat dihirup dan diembuskan seseorang. Tiga unsur utama yang saling berkaitan, yaitu volume, waktu, dan aliran, menjadi bagian dari pengukuran. Pemeriksaan ini bersifat objektif dan noninvasif, sekaligus dapat membantu mendeteksi gangguan paru maupun mengukur tingkat gangguan fungsi paru. Dengan perangkat portabel dan pelatihan yang memadai, pemeriksaan semacam ini bahkan dapat dilakukan di berbagai tempat.

Pagi itu, sebanyak 16 responden hasil pre-screening yang memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) diundang untuk menjalani pemeriksaan. Ditambah dengan empat responden lain yang merupakan peserta reschedule yang sebelumnya belum hadir. Jadi, totalnya ada 20 responden.
Alurnya dibuat sederhana agar setiap responden dapat mengikutinya dengan nyaman. Mereka terlebih dahulu disambut enumerator dan kader, kemudian menuju meja pendaftaran untuk registrasi serta verifikasi yang dilayani oleh enumerator Rany dan Winda bersama kader. Setelah itu, Wisnu mengarahkan mereka ke tempat duduk antrean.
Sambil menunggu panggilan dari tenaga kesehatan RS Yasmin, para responden mendapatkan tips dan trik melakukan embusan napas dengan benar dari enumerator Wisnu. Sebab, dalam spirometri, cara seseorang meniupkan napas menjadi bagian penting agar pengukuran dapat dilakukan dengan baik.

Panggilan pertama berasal dari meja TTV atau tanda-tanda vital. Perawat Tria memeriksa tekanan darah dan oksimetri. Setelahnya, dr. Jasinda melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth sekaligus pemeriksaan fisik. Responden kemudian kembali ke kursi antrean sebelum memasuki tahapan utama.
Di meja spirometri, Perawat Rizki memandu manuver pemeriksaan, sedangkan Perawat Yusi mengoperasikan laptop yang terhubung dengan perangkat spirometri. Sementara itu, Elik Anastina turut membantu NIHR UB dalam memonitor pelaksanaan pemeriksaan.
Tahap pertama adalah spirometri pre-nebulisasi. Setelah itu, responden menjalani nebulisasi, yakni terapi inhalasi yang mengubah obat cair menjadi aerosol halus sehingga dapat dihirup langsung menuju saluran pernapasan dan paru-paru.

Usai nebulisasi yang dilakukan oleh Perawat Achmad Zaenal, tes spirometri kembali dilakukan. Kali ini merupakan tahap post-nebulisasi. Jika seluruh rangkaian berhasil dilalui, responden dinyatakan telah menyelesaikan pemeriksaan spirometri.
Namun, hari itu bukan hanya soal angka dan hasil pemeriksaan. Ada kisah-kisah manusia yang menyertainya.
Salah satunya datang dari seorang responden berisiko PPOK yang justru tidak termasuk dalam daftar undangan. Sebelumnya, enumerator baseline survey mengetahui bahwa ia baru menjalani operasi lambung dan memiliki riwayat penyakit jantung. Karena pertimbangan tersebut, responden sebenarnya akan dikeluarkan dari pemeriksaan.
Namun, keputusan itu justru menghadirkan sebuah kejutan. Pagi itu, setelah istrinya pulang dari pemeriksaan spirometri dan menceritakan pengalamannya kepada sang suami, responden tersebut datang sendiri ke lokasi. Ia berkenan mengikuti pemeriksaan meski tidak atau belum mendapatkan undangan.

Di sisi lain, tidak semua undangan berakhir dengan kehadiran. Empat responden menolak datang. Ada yang telah dijemput enumerator Wisnu dan kader serta dikonfirmasi oleh Rahmanurraudhotul Amin, SKM, di rumahnya, tetapi tidak memberikan respons. Ada pula yang menolak setelah kembali diberikan undangan, bahkan ada yang marah. Sebagian lainnya merasa tidak perlu mengikuti pemeriksaan meski sebelumnya dijadwalkan ulang. Seorang responden yang telah dua kali dijadwalkan ulang pun tetap memilih tidak hadir.
Dua responden undangan lainnya berhalangan karena alasan berbeda, yaitu satu sedang bepergian ke luar kota, sementara yang lain baru menjalani operasi batu empedu.
Pada akhirnya, hingga pemeriksaan ditutup pukul 13.39 WIB, sebanyak 15 responden berhasil menjalani pemeriksaan spirometri. Mereka terdiri atas 13 undangan baru, satu responden reschedule, dan satu responden kejutan yang datang atas kemauan sendiri.

Angka tersebut mungkin tampak sederhana. Namun, di balik setiap responden yang duduk, menarik napas, lalu meniupkannya ke alat spirometri, terdapat satu hal yang jauh lebih berarti, yaitu kesempatan untuk mengenali kondisi paru lebih awal.
Sepuluh kali pemeriksaan spirometri di Desa Wringinagung bukan hanya tentang berapa banyak orang yang berhasil diperiksa. Ia juga tentang upaya mendekatkan pemeriksaan kesehatan kepada masyarakat, satu napas demi satu napas.
Dan seperti kata Sharon Kay Penman, harapan memang dapat ditemukan dalam setiap embusan napas. Di Sumberjaya pagi itu, harapan tersebut hadir dalam bentuk yang sederhana, yakni keberanian untuk datang, kesediaan untuk diperiksa, dan kemauan untuk mengetahui lebih jauh tentang kesehatan diri sendiri. *** [160926]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo