“Life begins with an inhale and ends with an exhale. ln between that inhale and that exhale is our life.” — Sharon Gannon
Ada yang berbeda dari delapan pemeriksaan sebelumnya. Sabtu (12/09) pagi itu, Balai Dusun Sumberjaya di Jalan Singosari, Dusun Sumberjaya RT 04 RW 01, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, tampak lebih hidup dari sebelumnya.
Bangunan bervolume 24 meter kubik itu menjelma menjadi ruang tunggu yang hidup, riuh oleh percakapan, tawa kecil, dan derit kursi yang digeser. Pemeriksaan spirometri kesembilan di Desa Wringinagung memang lebih ramai dari biasanya.
Namun, keramaian itu bukan semata karena warga yang datang memenuhi undangan. Yang membuatnya berbeda adalah kehadiran rombongan Tim NIHR Universitas Brawijaya (UB) dari Malang serta sejumlah enumerator dari desa lain yang ikut menyaksikan jalannya pemeriksaan.

Sejak pagi, tiga enumerator NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC0 Desa Wringinagung – Muhammad Wisnu Nafiri, S.E.; Maharany Triastuti Januarizki, S.ST.; dan Winda Cahyani, S.Tr.Gz.RD – bersama tiga kader kesehatan, Khilma, Melani, dan Munik, sudah hadir lebih dulu. Mereka menata kursi dan meja, menyiapkan meja pendaftaran, menyusun berkas, dan memastikan setiap sudut balai siap menerima tamu.
Satu jam kemudian, rombongan Tim NIHR UB dari Malang tiba: dr. Harun Al Rasyid, MPH; Dwi Sari Puspaningtyas, S.Gz., MSPH.; dan Raissa Manika Purwaningtias, S.Keb., Bd., M.Sc. Kedatangan mereka bukan tanpa alasan. Mereka ingin menyaksikan langsung jalannya pemeriksaan spirometri hasil kolaborasi NIHR UB dan Rumah Sakit Yasmin Banyuwangi.
Tidak lama setelah itu, Supervisor Tes Spirometri Elik Aristina dan sejumlah enumerator dari Desa Purwodadi, Wringinrejo, Tamanagung, dan Sarimulyo menyusul. Kehadiran mereka menambah panjang daftar tamu yang memenuhi balai. Balai yang biasanya lengang kini terasa sesak oleh semangat.

Pukul 08.20 WIB, personil RS Yasmin – Prisilia Rosa A., S.Kep.; Nurul Magfira, S.Kep.; Nadia Yullandra, A.Md.Kep.; Yusi Ayu Permatasari, S.Kep.; dan dr. Handri Irawan, MMRS – tiba. Sepuluh menit berselang, pemeriksaan dimulai.
Hari itu, 23 responden hasil pre-screening yang memiliki faktor risiko PPOK, ditambah satu responden reschedule, datang memenuhi undangan. Enumerator dan kader kesehatan menyambut mereka dengan ramah, mengantar ke meja pendaftaran. Di sana, Rany dan Winda melakukan registrasi dan verifikasi bersama kader.
Setelah itu, Wisnu mengantar responden ke kursi antrean. Sambil menunggu panggilan, ia rajin membagikan trik dan tips cara menyebul yang benar. Bukan sekadar instruksi, tapi semacam obrolan ringan yang membuat responden merasa lebih tenang.

Panggilan pertama datang dari meja panjang di sisi utara. Perawat Prisilia melakukan pemeriksaan TTV (Tanda-Tanda Vital, mencakup tekanan darah dan oksimetri. Dilanjutkan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik oleh dr. Handri. Selesai TTV, responden kembali duduk di kursi antrean. Panggilan berikutnya berasal dari meja sisi barat. Perawat Nadia bertindak dalam manuver, sementara Perawat Yusi menjalankan laptop yang terhubung dengan spirometer.
Spirometri sendiri adalah tes fungsi paru yang mengukur kapasitas dan efisiensi paru-paru. Tes ini berperan penting dalam mendiagnosis berbagai gangguan pernapasan, termasuk asma, emfisema, fibrosis kistik, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Alat bernama spirometer mencatat volume udara yang dapat dihirup dan diembuskan seseorang. Pasien melakukan serangkaian pola pernapasan, menghasilkan data berharga bagi tenaga medis. Pengukuran utama meliputi forced vital capacity (FVC) dan forced expiratory volume (FEV). Prosedurnya cepat, tidak menyakitkan, dan non-invasif.

Selesai tes spirometri tahap 1 atau pre-nebulisasi, responden bergeser ke meja TTV untuk mendapatkan layanan nebulisasi. Perawat Nurul akan melakukan nebulisasi bagi responden.
Nebulisasi adalah metode pemberian obat pelega napas (bronkodilator) dalam bentuk uap atau aerosol sebelum tes spirometri diulang. Langkah ini bagian dari Uji Bronkodilator atau Tes Reversibilitas Saluran Napas.
Usai nebulisasi, responden dipanggil kembali ke meja manuver untuk tes spirometri tahap 2 atau post-nebulisasi. Jika lancar, rangkaian pemeriksaan berakhir. Mereka dipandu ke meja pendaftaran lagi, tempat enumerator – disaksikan kader – memberikan konsumsi, gift, dan subsidi uang transportasi.

Hingga pukul 14.00 WIB, 23 responden undangan dan satu reschedule berhasil dites spirometri oleh tenaga kesehatan RS Yasmin. Tidak ada yang sia-sia dari keramaian pagi itu. Setiap tarikan dan embusan napas yang terekam adalah potret kecil dari kesehatan paru-paru warga Desa Wringinagung.
Sharon Gannon, seorang guru yoga Amerika, pembela hak-hak hewan, Musisi, penulis, penari, dan koreografer, pernah berkata:
“Hidup bermula dengan satu tarikan napas dan berakhir dengan satu embusan napas. Di antara tarikan dan embusan napas itulah kehidupan kita berada.”
Pemeriksaan spirometri kesembilan ini bukan sekadar agenda rutin. Ia adalah pengingat bahwa di antara tarikan dan embusan yang sering kita lupakan, ada kehidupan yang perlu dijaga. Dan di Balai Dusun Sumberjaya itu, satu per satu napas warga diperiksa, dicatat, dan dirawat, agar kehidupan mereka tetap terus berjalan. *** [150926]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo