“Every breath brings a fresh wave of euphoria; every exhale is a sigh of relief.” — Daniel Ruczko, Pieces of a Broken Mind
Mentari pagi baru saja menampakkan diri di ufuk timur Dusun Jatisari ketika langkah-langkah kecil mulai menghidupkan Musholla Al-Khoiriyah. Di sana, di sebuah bangunan sederhana yang berdiri tenang di RT 02 RW 03, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, sebuah ritual kesehatan kembali digelar.
Untuk yang kedelapan kalinya, tiga enumerator NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmnetal Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Wringinagung – Muhammad Wisnu Nafiri, S.E.; Maharany Triastuti Januarizki, S.ST; dan Winda Cahyani, S.Tr.Gz.RD – kembali menyapa warga dengan misi yang sama, yaitu mengelola pemeriksaan spirometri.
Kali ini, enumerator dibantu oleh tiga kader kesehatan desa – Erna, Ika Novera Ningsih, dan Rantinem, dalam menyiapkan segala perlengkapan sejak satu jam sebelum acara dimulai.

Kolaborasi antara NIHR Universitas Brawijya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan sebuah komitmen panjang untuk mendeteksi dini Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).
Pukul 08.20 WIB, rombongan personel RS Yasmin tiba. Annisa Filiya, A.Md.Kep.; Nadia Yullandra, S.Kep.; Rizki Indrawangi, S.Kep.; Fatima Narifatun Anisa, S.Kep.; dan dr. Sofia Intan Putri melangkah masuk dengan sigap.
Sepuluh menit kemudian, pemeriksaan dimulai. Sebanyak 26 responden hasil pre-screening dan menunjukkan faktor risiko PPOK mulai berdatangan. Mereka bukan sekadar pasien, melainkan tamu yang harus dilayani dengan ramah.

Enumerator dan kader menyambut satu per satu. Enumerator Rany dan Winda duduk di meja pendaftaran, melakukan registrasi dan verifikasi dengan teliti, ditemani para kader. Setelah itu, enumerator Wisnu mengambil alih, mengantar responden ke kursi antrean. Di sana, sambil menunggu panggilan, ia membagikan trik dan tips cara menyebul yang benar dalam tes spirometri. Tawa kecil dan anggukan kepala mewarnai percakapan itu.
Panggilan pertama terdengar. Responden bergerak menuju meja di sisi utara, dekat tangga. Perawat Annisa Filiya dengan cekatan melakukan TTV – Tanda-Tanda Vital. TTV adalah serangkaian pengukuran dasar untuk menilai kondisi fisiologis tubuh, yang dalam pemeriksaan ini mencakup pengukuran tekanan darah dan oksimetri, yaitu kadar oksigen dalam darah.
Kedua parameter ini penting untuk memastikan responden berada dalam kondisi yang aman sebelum menjalani tes spirometri. Setelah itu, dr. Sofia melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth dan pemeriksaan fisik. Responden lalu dipersilakan duduk kembali, menanti panggilan berikutnya.

Dari meja selatan, Perawat Rizki memanggil. Di sana, tes spirometri tahap 1 atau pre-nebulisasi dimulai. Spirometri adalah pemeriksaan fungsi paru yang mengukur seberapa banyak udara yang dapat dihirup dan diembuskan seseorang, serta seberapa cepat udara tersebut dapat dikeluarkan dari paru-paru.
Pemeriksaan ini menjadi kunci untuk mendiagnosis PPOK dan gangguan pernapasan lainnya. Perawat Fatima setia di sampingnya, mengoperasikan laptop yang terhubung dengan alat spirometri.
Selesai tahap pertama, responden bergeser ke meja TTV untuk mendapatkan nebulisasi yang dilakukan oleh Perawat Nadia. Nebulisasi adalah prosedur pemberian obat dalam bentuk uap atau aerosol yang dihirup langsung ke saluran pernapasan.

Obat ini berfungsi melebarkan saluran napas sehingga memudahkan proses bernapas dan meningkatkan hasil tes spirometri berikutnya. Lagi-lagi, kursi antrean menjadi saksi bisu perjalanan napas yang tengah diuji.
Langkah terakhir tiba. Tes spirometri tahap 2 atau post-nebulisasi dilakukan. Setelah itu, responden kembali ke meja pendaftaran. Di sana, konsumsi, gift, dan subsidi transportasi diberikan oleh enumerator dan kader secara bergantian. Senyum tipis menghiasi wajah mereka. Bukan hanya karena bantuan yang diterima, tetapi karena mereka telah melalui serangkaian pemeriksaan yang mungkin menyelamatkan hidup mereka.
Dalam setiap tarikan dan embusan napas yang terdengar di Musholla Al-Khoiriyah pagi itu, ada sesuatu yang lebih dari sekadar udara. Ada harapan. Ada kelegaan. Seperti yang pernah ditulis Daniel Ruczko dalam Pieces of a Broken Mind (2023):
“Setiap tarikan napas membawa gelombang euforia yang segar; setiap embusan napas adalah helaan lega.”

Mungkin itulah yang dirasakan para responden setelah menyelesaikan tes. Napas yang tadinya berat, kini terasa lebih ringan. Napas yang tadinya sesak, kini sedikit lega.
Rangkaian pemeriksaan spirometri dengan 26 undangan ini berhasil diselesaikan pada pukul 14.30 WIB. Pada pemeriksaan spirometri untuk yang kedelapan kalinya, responden hadir semua.
Pemeriksaan spirometri kedelapan ini bukan hanya tentang angka dan alat. Ini tentang manusia, tentang napas yang terus berjuang, dan tentang mereka yang dengan sabar membantu setiap helaan itu tetap terjaga. Di Desa Wringinagung, napas memang tak pernah selesai – ia terus mengalir, dijaga oleh tangan-tangan yang peduli. *** [140926]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo