Mengembuskan Napas, Menjemput Harapan: Spirometri Ketujuh di Desa Wringinagung

To take another breath, we must first exhale. When we have breathed out and emptied our lungs, we can breathe in again.” — Ilchi Lee

Ada kalanya kesehatan dimulai dari hal yang paling sederhana, yaitu menarik napas, lalu mengembuskannya. Namun di Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, napas bukan sekadar ritme kehidupan sehari-hari. Napas adalah tanda harapan yang diperiksa dengan cermat, satu per satu, tiupan demi tiupan.

Untuk yang ketujuh kalinya, pemeriksaan spirometri kembali digelar di desa ini. Bertempat di teras sisi utara Musholla Al-Khoiriyah, Dusun Jatisari RT 02 RW 03, pada Senin (07/09), kegiatan ini bukan lagi sekadar agenda rutin. Ia telah menjelma menjadi tradisi kecil yang dinanti sebagai sebuah ritual kesehatan yang menyatukan warga, kader, dan tenaga medis dalam satu tujuan, yakni menjaga paru-paru tetap sehat.

Teras berkanopi Musholla Al-Khoiriyah menjadi lokasi pemeriksaan spirometri yang ketujuh di Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi

Ketika Napas Menjadi Ukuran

Bagi sebagian orang, istilah “spirometri” mungkin terdengar asing. Tapi bagi warga Wringinagung, kata itu sudah akrab di telinga. Spirometri adalah tes medis sederhana yang mengukur seberapa baik fungsi paru-paru seseorang. Dengan alat bernama spirometer, dokter dan perawat dapat mengetahui seberapa banyak udara yang bisa dihirup dan dihembuskan, serta seberapa cepat udara itu keluar dari paru-paru.

Tes ini bukan sekadar formalitas. Ia adalah deteksi dini terhadap Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), penyakit yang diam-diam menggerogoti kemampuan bernapas seseorang, terutama mereka yang memiliki faktor risiko seperti merokok atau terpapar polusi dalam jangka panjang.

Sesuai undangan, pemeriksaan seharusnya dimulai pukul 08.00 WIB. Sebanyak 26 responden hasil pre-screening yang memiliki faktor risiko PPOK dijadwalkan hadir. Namun, tiga enumerator NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Desa Wringinagung – Muhammad Wisnu Nafiri, S.E.; Maharany Triastuti Januarizki, S.ST; dan Winda Cahyani, S.Tr.Gz.RD – datang satu jam lebih awal.

Mereka bukan datang untuk duduk santai, melainkan untuk mempersiapkan segala sesuatu bersama tiga kader kesehatan setempat, yaitu Ika Ernawati, Ika Novera Ningsih, dan Ramtinem.

Meja dan kursi ditata. Kabel disiapkan. Semua dilakukan oleh mereka secara gotong royong untuk mengelola pelaksanaannya dan mensukseskan pemeriksaan spirometri  kolaborasi antara NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi.

Tim Implementasi Spirometri Desa Wringinagung: RS Yasmin, Enumerator, Kader Kesehatan, dan Field Facilitator NIHR UB

Menunggu dengan Tip dan Trik

Pukul 08.10 WIB, rombongan dari RS Yasmin tiba. Ada Meira Safira, S.Kep.; Mahendra, S.Kep.; Rizki Indrawangi, S.Kep.; Achmad Zainal Arifin, S.Kep.; dan dr. Andry Efendy. Mereka langsung bergerak cepat menyiapkan perlengkapan. Sepuluh menit kemudian, pemeriksaan dimulai.

Responden yang datang disambut hangat oleh para enumerator. Mereka diantar ke meja pendaftaran di serambi musholla sisi tenggara. Di sana, Enumerator Rany dan Winda bersama para kader, bergantian melakukan registrasi dan verifikasi. Setelah itu, Enumerator Wisnu memandu mereka ke meja antrean.

Di meja antrean inilah hal menarik terjadi. Enumerator Wisnu tidak hanya mengatur urutan, tetapi juga memberikan tip dan trik cara mengembuskan napas yang benar dalam tes spirometri. “Tarik napas dalam-dalam, lalu hembuskan sekuat mungkin,” ujarnya sembari mencontohkan. Bagi warga yang belum pernah menjalani tes ini, arahan seperti itu sangat membantu.

Pengukuran tekanan darah

Alur Pemeriksaan yang Tertata

Panggilan pertama datang dari meja panjang sisi utara, di bawah kanopi dekat tangga. Perawat Meira melakukan pemeriksaan TTV (Tanda-Tanda Vital). Tekanan darah, denyut nadi, laju pernapasan, dan suhu tubuh dicek satu per satu. Dalam dunia medis, ini adalah langkah wajib sebelum pasien menjalani tes spirometri, guna memastikan kondisi fisik mereka stabil dan aman untuk melakukan tiupan paksa.

Kemudian, dr. Andry melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Setelah itu, responden kembali ke meja antrean, menunggu panggilan berikutnya.

Panggilan kedua berasal dari meja di sisi selatan meja TTV. Ini adalah sinyal untuk mengikuti tes spirometri tahap 1 atau pre-nebulisasi. Perawat Rizki memandu jalannya tes, sementara Perawat Achmad mengoperasikan laptop yang tersambung dengan alat spirometri.

Dalam pengamatan Field Facilitator NIHR UB, aba-aba yang diberikan perawat sangat krusial. “Ayo, tarik napas lagi! Hembuskan! Lebih kuat!” – kalimat-kalimat itu berulang-ulang terdengar. Dan hasilnya pun biasanya baik. Responden yang mendapat aba-aba semangat cenderung menghasilkan tiupan yang lebih maksimal.

Usai tes tahap 1, responden bergeser ke meja TTV lagi. Kali ini untuk mendapatkan nebulisasi dari Perawat Mahendra. Nebulisasi adalah proses mengubah obat cair menjadi uap halus atau kabut (aerosol) agar dapat dihirup langsung ke saluran pernapasan dan paru-paru. Alat khusus bernama nebulizer digunakan untuk keperluan ini.

Selesai nebulisasi, responden kembali mendapat panggilan dari meja spirometri untuk tes tahap 2 atau post-nebulisasi. Perlakuannya sama seperti tahap 1. Hanya saja, kali ini paru-paru sudah mendapat bantuan obat, sehingga diharapkan hasilnya lebih baik.

Mengembuskan Napas, Menjemput Harapan: Spirometri Ketujuh di Desa Wringinagung
Suasana pemeriksaan spirometri di Dusun Jatisari RT 02 RW 03, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi

Ketika Napas Tak Selalu Mudah

Pemeriksaan berakhir pukul 13.22 WIB. Dari 26 undangan, sebanyak 23 orang berhasil diperiksa. Dua responden menolak mengikuti tes meski sudah dijemput oleh kader maupun enumerator. Satu responden lainnya, seorang pria paruh baya, kurang serius dalam melakukan tes sehingga harus di-exclude.

Angka 23 dari 26 memang bukan hasil sempurna. Namun dalam konteks kesehatan masyarakat, setiap orang yang diperiksa adalah satu langkah maju. Setiap tiupan adalah data berharga. Setiap napas yang terukur adalah peluang untuk mencegah penyakit yang lebih serius.

Tes spirometri

Napas sebagai Metafora Kehidupan

Lee Seung-Heun, atau yang lebih dikenal sebagai Ilchi Lee, seorang penulis Korea Selatan dan pendiri berbagai metode latihan pikiran-tubuh, pernah berkata:

“Untuk menarik napas lagi, kita harus mengembuskan napas terlebih dahulu. Setelah kita mengembuskan napas dan mengosongkan paru-paru, barulah kita bisa menarik napas kembali.”

Kutipan ini seolah menjadi cerminan dari apa yang terjadi di Desa Wringinagung. Pemeriksaan spirometri bukan hanya tentang mengukur kemampuan mengembuskan napas.

Ia adalah tentang melepaskan – melepaskan kekhawatiran, melepaskan ketidaktahuan, melepaskan risiko yang tak terlihat. Dan setelah itu, barulah kita bisa menarik napas baru, yaitu napas lega, napas harapan, napas kesehatan yang lebih baik.

Spirometri ketujuh di Desa Wringinagung mungkin hanya satu dari sekian banyak kegiatan kesehatan. Tapi di balik meja-meja sederhana, di bawah kanopi musholla, di antara sapa kader dan senyum perawat, ada sesuatu yang lebih besar, yaitu kesadaran bahwa kesehatan paru-paru adalah hak semua orang, dan bahwa setiap napas layak untuk diperjuangkan. *** [140926]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment