Jejak SMARThealth dalam Promosi Doktor

The rites of passage in the academic world are arcane and, in their own way, highly romantic, and the tensions and unplesantries of dissertations and final oral examinations are quickly forgotten in the wonderful moment of the sherry afterward, admission into a very old club, parties of celebration, doctoral gowns, academic rituals, and hearing for the first time “Dr.,” rather than “Miss” Jamison.” — Kay Redfield Jamison

Kamis (10/09) pagi, Auditorium Lantai 8, Sayap Utara, Gedung Pascasarjana Tahir Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), penuh sesak. Ratusan orang datang bukan untuk menyaksikan konser atau pidato politik, melainkan sebuah peristiwa akademik yang istimewa: Ujian Terbuka Promosi Doktor.

Di hadapan meja panjang, enam profesor duduk sebagai dewan penguji. Di tengah mereka, seorang pria paruh baya berdiri tegap dalam balutan jas hitam dan dasi. Namanya dr. Arief Alamsyah, MARS., Sp.KKLP. Hari itu, ia hadir sebagai promovendus – calon doktor yang akan mempertahankan disertasinya berjudul “Pengembangan Model Health Coaching untuk Pengendalian Hipertensi di Layanan Primer.

Ketika ketua sidang memasuki ruangan, seluruh hadirin berdiri. Suasana seketika hening. Langkah kaki para profesor menuju podium menjadi penanda dimulainya perjalanan terakhir dr. Arief menuju gelar Doktor – sebuah perjalanan yang ditempuh melalui riset panjang, malam-malam tanpa tidur, dan ribuan halaman catatan akademik.

Jejak SMARThealth dalam Promosi Doktor
Wisuda pemberian gelar Doktor dengan predikat Sangat Memuaskan di Auditorium Lantai 8, Sayap Utara, Gedung Pascasarjana Tahir FK-KMK UGM

Menjawab Tantangan Hipertensi

Dr. Arief membuka pemaparannya dengan tenang. Ia menjelaskan bahwa hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Namun, pengendalian tekanan darah di layanan primer masih menghadapi banyak tantangan. Edukasi kesehatan konvensional yang berfokus pada penyakit belum sepenuhnya mampu mendorong perubahan perilaku pasien secara berkelanjutan.

Di situlah pendekatan model health coaching menjadi penting. Berbeda dari edukasi satu arah, pendekatan ini menempatkan pasien sebagai pusat proses. Pasien didorong untuk mengenali masalah, menetapkan tujuan, dan membangun komitmen perubahan sesuai kondisi serta kemampuannya.

“Disertasi ini bertujuan mengembangkan dan mengevaluasi model health coaching untuk pengelolaan hipertensi di layanan primer,” ujar Arief di hadapan dewan penguji dan para tamu.

Dr. dr. Arief Alamsyah berpose dengan Dewan Penguji, salah satu penguji tamu berasal dari FKUB

Ia kemudian memaparkan temuannya. Model yang dikembangkan, yakni SEHAT Coaching Model, terbukti efektif meningkatkan aktivitas fisik dan menurunkan tekanan darah sistolik secara signifikan. Pengaruh terhadap tekanan darah sistolik tetap bermakna setelah dilakukan penyesuaian terhadap kovariat.

Temuan tersebut bukan sekadar angka dalam tabel penelitian. Di baliknya, terdapat harapan agar pengelolaan hipertensi tidak berhenti pada pemberian obat dan nasihat kesehatan, tetapi berkembang menjadi pendampingan yang membantu pasien mengubah kebiasaan hidup.

Di barisan depan, promotor Arief, Prof. dr. Fatwa Sari Tetra Dewi, MPH., Ph.D. dan dr. Vita Yanti Anggraeni, M.Sc., Ph.D., Sp.PD., Sp.JP(K), menyimak dengan saksama. Selama empat tahun, keduanya mendampingi dr. Arief melewati berbagai tahapan penelitian. Sesekali, mereka mengangguk bangga ketika dr. Arief menjawab pertanyaan penguji tamu, Prof. Dr. dr. Sri Andarini, M.Kes., Sp.KKLP dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB).

Usai berikan ucapan selamat, anggota DPR RI dr. Gamal berpose dengan promovendus dan Dewan Penguji

Satu Setengah Jam yang Menentukan

Setelah pemaparan, sidang berlanjut dengan tanya jawab. Pertanyaan mengalir dari metodologi, analisis data, hingga implikasi temuan bagi pengembangan layanan kesehatan primer. Arief menjawab satu per satu dengan lugas. Sesekali ia melihat catatan kecil di atas meja, tetapi tidak tampak kehilangan kendali.

Hampir satu setengah jam, ruang auditorium menjadi arena dialog ilmiah. Di tempat itu, sebuah gagasan tidak cukup hanya disampaikan; ia harus diuji, dipertanggungjawabkan, dan dipertahankan.

Kay Redfield Jamison, seorang psikolog klinis dan penulis Amerika, pernah menggambarkan momen semacam ini dengan indah:

“Berbagai tahapan transisi dalam dunia akademis terasa penuh misteri dan, dengan caranya sendiri, sangat romantis; segala ketegangan serta ketidaknyamanan seputar disertasi dan ujian lisan akhir pun segera terlupakan saat tiba momen indah menikmati sherry setelahnya—sebuah tanda penerimaan ke dalam komunitas yang telah lama berdiri, pesta perayaan, jubah doktoral, ritual akademis, serta saat pertama kali mendengar sapaan ‘Dr.’ alih-alih ‘Nona’.”

Kutipan itu terasa hidup di auditorium FK-KMK UGM pagi hingga siang itu. Promosi doktor bukan hanya tentang mempertahankan disertasi, melainkan ritual akademik yang menandai diterimanya seseorang ke dalam komunitas keilmuan.

Berpose dengan sejawat dari FKUB yang hadir dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor

Keputusan dan Jejak SMARThealth

Setelah sesi tanya jawab, dewan penguji mengadakan rapat tertutup selama 15 menit. Waktu singkat itu terasa panjang bagi dr. Arief dan keluarga yang menunggu.

Ketika para penguji kembali ke ruangan, semua mata tertuju kepada ketua sidang. Selembar keputusan berada di tangannya.

“Berdasarkan hasil penilaian dewan penguji, promovendus Arief Alamsyah dinyatakan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan.”

Tepuk tangan segera memenuhi ruangan. Dr. Arief menarik napas panjang, lalu tersenyum lega. Di antara hadirin, orang tuanya tampak haru. Istri dan kedua mertuanya turut menyaksikan capaian yang telah diperjuangkan selama bertahun-tahun.

Didampingi anak dan istri, promovendus berpose dengan Dewan Penguji

Ucapan selamat datang dari berbagai penjuru: anggota DPR RI dr. Gamal, sejawat dari FKUB, keluarga besar promovendus, sahabat-sahabat dari Inalead dan Inspiera, serta Field Facilitator NIHR UB yang mendampingi proses pengumpulan data disertasi.

Bagi Field Facilitator NIHR UB, momen itu memiliki makna khusus. Ia pernah menjadi bagian dari Tim SMARThealth UB bersama dr. Arief. Karena itu, mereka melihat keberhasilan tersebut bukan sebagai capaian yang berdiri sendiri. Fokus penelitian dr. Arief merupakan pengembangan dari pengalaman dan kerja-kerja SMARThealth – sebuah jejak kolaborasi yang terus berlanjut dalam bentuk model health coaching berbasis komunitas.

Dari pengalaman bersama di lapangan, gagasan itu tumbuh menjadi penelitian doktoral. Dari komunitas, lahir pendekatan yang menunjukkan efektivitas dalam membantu menurunkan tekanan darah pasien hipertensi.

Field Facilitator NIHR UB yang diundang dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor bernostalgia sebagai Tim SMARThealth UB bersama promovendus dan dr. Nuretha dari FKUB

Di luar auditorium, matahari semakin meninggi. Para hadirin perlahan meninggalkan ruangan dengan cerita dan inspirasi masing-masing. Sementara itu, dr. Arief masih berdiri di depan podium, menerima ucapan selamat dan berbagi kebahagiaan.

Gelar doktor yang segera disandangnya bukanlah garis akhir. Ia justru menjadi awal tanggung jawab baru, yaitu terus meneliti, mengajar, menulis, dan menghadirkan ilmu yang berguna bagi masyarakat.

Selamat, Dr. dr. Arief Alamsyah, MARS., Sp.KKLP. Jejak SMARThealth telah menemukan ruang baru dalam perjalanan akademik dan pengabdian Anda. *** [110926]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment