Enam Kali Menyapa, Ribuan Napas Terjaga: Spirometri di Wringinagung

Almost every person over 45, and definitely those who have ever smoked, should have a spirometry test.” — Loni Anderson

Pagi itu, Sabtu (05/09), Balai Dusun yang berada di Dusun Glowong, RT 02 RW 02, Desa Wringinagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, kembali ramai sejak pukul 07.30 WIB.

Tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) – Muhammad Wisnu Nafiri, S.E., Maharany Triastuti Januarizki, S.ST, dan Winda Cahyani, S.Tr.Gz.RD – bersama dua kader kesehatan setempat, Rizky Rahayu dan Mujiani, sibuk menyiapkan lokasi pemeriksaan spirometri untuk keenam kalinya.

Enam Kali Menyapa, Ribuan Napas Terjaga: Spirometri di Wringinagung
Suasana pemeriksaan spirometri di Balai Dusun Glowong, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, pada Sabtu (05/09)

Kolaborasi yang Terstruktur

Pemeriksaan spirometri ini merupakan hasil kolaborasi antara NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi. Urusan teknis di lapangan dipercayakan sepenuhnya kepada para enumerator yang telah berpengalaman.

Beberapa hari sebelum pelaksanaan, mereka berkeliling dari pintu ke pintu untuk menyampaikan undangan kepada responden berusia 40 tahun ke atas yang terindikasi memiliki faktor risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dari hasil pre-screening.

Tak hanya mengundang, ketiga enumerator juga memberikan video alur pemeriksaan spirometri agar responden memahami prosedur dan tidak mengalami kendala saat hari-H. Strategi ini terbukti efektif, ketika personel RS Yasmin tiba di Balai Dusun Glowong pada pukul 08.28 WIB, para responden sudah siap antre.

Pengukuran tekanan darah

Alur Pemeriksaan yang Humanis

Pemeriksaan dimulai tepat pada pukul 08.35 WIB. Di meja pendaftaran, Rany dan Winda bersama dua kader kesehatan menyambut setiap responden dengan ramah, melakukan registrasi dan verifikasi data. Responden kemudian dipersilakan duduk di kursi antrean yang telah disediakan, menunggu panggilan dari tenaga kesehatan (nakes) RS Yasmin.

Empat perawat – Prisilia Rosa A., S.Kep., Tria Frinasari, A.Md.Kep., Rizki Indrawati, S.Kep., dan Yusi Ayu Permatasari, S.Kep. – dengan dipimpin dr. Akmat Baihaki, siap melayani.

Sebelum dipanggil, enumerator Wisnu biasanya memberikan tips dan trik cara menarik dan mengembuskan napas yang benar, sebuah momen edukasi singkat yang krusial.

Begitu nama dipanggil, responden menuju meja panjang di sisi timur. Perawat Prisilia melakukan pemeriksaan Tanda-Tanda Vital (TTV), termasuk pengukuran tekanan darah dan oksimetri. Kemudian, dr. Akmat melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth dan pemeriksaan fisik dengan stetoskop.

Setelah anamnesis, dokter RS Yasmin lakukan pemeriksaan fisik dengan menggunakan stetoskop

Tes Spirometri: Lebih dari Sekadar Tiup

Usai pemeriksaan dokter, responden kembali duduk menunggu panggilan untuk tes spirometri di meja sebelah barat. Perawat Rizki dan Yusi bertugas di sini, memantau laju grafik alat spirometri dari laptop. Tes spirometri mengukur tingkat kesehatan paru-paru dan membantu mendiagnosis serta memantau kondisi paru.

Selama tes, responden mengembuskan udara semaksimal dan sekuat mungkin ke dalam spirometer. Tes ini mengukur total volume udara yang dapat diembuskan serta volume udara pada detik pertama tes. Yang penting, tes ini tidak menimbulkan rasa sakit.

Setelah menyelesaikan tes spirometri tahap 1 atau pre-nebulisasi, responden bergeser ke meja panjang berikutnya untuk menerima layanan nebulisasi dari Perawat Tria. Secara medis, nebulisasi adalah teknik pemberian terapi obat dengan mengubah cairan obat menjadi butiran uap atau mist yang sangat halus. Uap ini dihirup melalui masker atau mouthpiece, sehingga obat langsung menuju saluran pernapasan dan paru-paru.

Tes spirometri

Tahap Krusial: Post-Nebulisasi

Selesai nebulisasi, responden dipanggil lagi oleh Perawat Rizki dan Yusi untuk mengikuti tes spirometri tahap 2 atau post-nebulisasi. Dalam tes ini, instruksi dan pendampingan (coaching) dari perawat atau operator kesehatan memiliki peran paling krusial dalam menentukan validitas hasil.

Spirometri bukan sekadar tes pasif seperti tes darah atau rontgen; tes ini sangat bergantung pada usaha maksimal dan kepatuhan pasien (effort-dependent). Tanpa instruksi yang tepat, pasien cenderung melakukan kesalahan teknik yang berujung pada pengulangan terus-menerus.

Usai tes spirometri tahap 1, responden mendapatkan layanan nebulisasi

Akhir Rangkaian Pemeriksaan yang Hangat

Setelah menyelesaikan tes spirometri tahap 2, responden sudah bisa meninggalkan tempat. Enumerator Wisnu memandu mereka kembali ke meja pendaftaran, di mana dua kader memberikan konsumsi, gift, dan subsidi uang transportasi, disaksikan Rany dan Winda.

Hingga berakhir pada pukul 14.00 WIB, dari 25 undangan (24 responden plus 1 yang kemarin membantu Yasinan di rumah anaknya), 24 orang berhasil diperiksa. Satu responden tidak hadir karena sedang menengok anaknya di Bali dan akan di-reschedule ke hari berikutnya, sama seperti responden yang kemarin membantu Yasinan.

Akhir rangkaian pemeriksaan spirometri yang hangat: konsumsi, gift, dan subsidi uang transportasi

Mengapa Spirometri Penting?

“Hampir setiap orang yang berusia di atas 45 tahun, dan pastinya mereka yang pernah merokok, sebaiknya menjalani tes spirometri,” ujar seorang aktris Amerika Loni Kaye Anderson, sebuah pernyataan yang selaras dengan rekomendasi global. Organisasi kesehatan dunia dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyarankan spirometri untuk individu berusia 40 tahun ke atas dengan faktor risiko PPOK.

Pemeriksaan spirometri di Wringinagung bukan sekadar rutinitas keenam; ini adalah hembusan harapan untuk deteksi dini dan pencegahan PPOK di tingkat komunitas. Setiap tiupan napas yang diukur adalah langkah kecil menuju paru-paru yang lebih sehat bagi warga desa. *** [070926]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment