Denyut Kolaborasi di Sejuknya Perbukitan: Menelisik Dampak Pembakaran Sampah terhadap Kesehatan Jantung Warga Desa Pujon Kidul

Collaboration allows us to know more than we are capable of knowing by ourselves.” — Paul Solarz – Author

Di lereng sejuk Kecamatan Pujon, denyut kepedulian terhadap kesehatan kardiovaskular warga berdetak lebih kencang dari biasanya. Di Desa Pujon Kidul, rangkaian Pengabdian Masyarakat (Pengmas) bertajuk The Impact of Air Pollution Due to Open Waste Burning on Cardiovascular Health in Rural Indonesia kembali digelar, menegaskan komitmen kolaboratif lintas institusi untuk menelisik dampak pembakaran sampah terbuka terhadap kesehatan jantung masyarakat pedesaan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama antara tim NIHR Universitas Brawijaya dan British Heart Foundation (BHF). Di sela agenda tersebut, Field Facilitator NIHR UB turut mendampingi dr. Hikmawan Wahyu, Ph.D., analis Wahyu Caesar Wicaksono, A.Md.Kes., serta Nur R. Adawiyah Mahmud, M.Si., mahasiswa S3 Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB), dalam pelaksanaan Pengmas lanjutan di Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.

Denyut Kolaborasi di Sejuknya Perbukitan: Menelisik Dampak Pembakaran Sampah terhadap Kesehatan Jantung Warga Desa Pujon Kidul
Kader kesehatan berpose dengan Kamituwo Maron, enumerator BHF, Perawat BHF, dokter FKUB, dan analis

Pengmas di Desa Pujon Kidul dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama berlangsung pada Kamis (12/02) dan dihadiri 94 warga. Tim juga melakukan home visit kepada sembilan orang, di mana enam orang berhasil diperiksa, dua orang tidak dapat diambil sampel darahnya, dan satu orang berhalangan hadir karena acara keluarga. Secara keseluruhan, sebanyak 100 warga berhasil menjalani pemeriksaan pada hari pertama.

Target pemeriksaan terhadap 25 warga lainnya dilanjutkan pada Sabtu (14/02), bertepatan dengan kegiatan serupa di Desa Pujon Lor. Bertempat di Gedung Posyandu Kartini IV, Dusun Maron RT 14 RW 08 Desa Pujon Kidul, suasana sudah ramai sejak pagi. Dua puluh lima warga yang diundang tampak antusias memenuhi lokasi kegiatan.

Tepat pukul 08.00 WIB, kegiatan dimulai. Tiga enumerator – Anis Kurniawati, S.Sos., Arief Budi Santoso, S.E., dan Elmi Kamilah, S.Sos. – bersama dua perawat BHF, Ari Fibrianto dan Amalia Anggraini, serta empat kader kesehatan setempat – Debit Devita, Dian Fitriani, Nurul Yulaikah, dan Wulan Fitri – bahu-membahu mempersiapkan jalannya kegiatan.

Antrean di halaman luar Gedung Posyandu Kartini IV di Dusun Maron RT 18 RW 04 Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang

Antrean warga sudah mengular saat rombongan dr. Hikmawan tiba di lokasi. Di meja pendaftaran, Anis dan Elmi sigap melakukan registrasi. Sementara itu, Arief bersama para kader kesehatan yang mengenakan seragam batik hitam menyambut warga dan mengarahkan alur pemeriksaan.

Setelah registrasi, warga memasuki ruang utama untuk pemeriksaan tekanan darah oleh perawat BHF. Dari sana, mereka diarahkan ke bilik kecil untuk pengambilan sampel darah oleh analis Wahyu Caesar, dibantu Nur R. Adawiyah. Tahap berikutnya adalah pemeriksaan fisik sekaligus sesi konseling bersama dr. Hikmawan Wahyu, Ph.D., dokter dan akademisi dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB).

Seluruh rangkaian kegiatan hari kedua rampung pada pukul 11.12 WIB tanpa agenda home visit. Dengan demikian, total 125 warga Desa Pujon Kidul berhasil menjalani pemeriksaan dalam dua kali pelaksanaan Pengmas, sebuah capaian yang melampaui sekadar angka, melainkan wujud nyata kehadiran riset di tengah masyarakat.

Antrean pemeriksaan di dalam Gedung Posyandu Kartini IV

Kolaborasi yang terjalin antara enumerator dan perawat BHF, kader kesehatan desa, serta Tim NIHR UB tampak begitu padu dan saling melengkapi. Koordinasi yang mutualistik menjadi kunci kelancaran kegiatan, dari meja registrasi hingga ruang konseling medis.

Sebagaimana dikatakan oleh Paul Solarz, seorang pensiunan guru dan penulis dengan karier yang luar biasa di bidang pendidikan asal Amerika:

“Kolaborasi memungkinkan kita untuk mengetahui lebih banyak daripada yang mampu kita ketahui sendiri.”

Kutipan tersebut terasa relevan menggambarkan sinergi yang terbangun di Gedung Posyandu Kartini IV pagi itu, ketika ilmu pengetahuan, kepedulian, dan kerja bersama menyatu demi satu tujuan, yaitu menjaga kesehatan jantung warga dari ancaman tak kasatmata polusi udara akibat pembakaran sampah terbuka. *** [150226]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment