“Community service has taught me all kinds of skills and increased my confidence. You go out there and think on your feet, work with others and create something from nothing. That’s what life’s all about.” — Andrew Shue
Di bawah mentari cerah yang menyapu mendung di Ahad (08/02) pagi, Pendopo Balai Desa Sumberejo, telah berubah menjadi denyut nadi yang semarak. Sejak pukul 08.00 WIB, satu per satu warga berdatangan, menggenggam undangan dan kupon pemeriksaan gratis yang sebelumnya mereka terima dari para enumerator.

Selang seminggu setelah kegiatan serupa digelar di Dusun Bekur, Desa Sumberejo, Tim NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Universitas Brawijaya yang berkolaborasi dengan British Heart Foundation (BHF) kembali melaksanakan Pengabdian Masyarakat (Pengmas) bertema Dampak Polusi Udara Akibat Pembakaran Sampah Terbuka Terhadap Kesehatan Kardiovaskular.
Kali ini, Lokasi Pengmas dipusatkan di Pendopo Balai Desa Sumberejo yang berada di sisi barat Lapangan Rajawali, Dusun Bandarangin RT 17 RW 05 Desa Sumberejo, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang.
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh dr. Holipah, Ph.D., selaku Ketua Rombongan Tim NIHR UB–BHF. Kehadiran para pemangku kepentingan menegaskan pentingnya isu yang diangkat. Tampak hadir Sub Koordinator Substansi PTM dan Keswa Dinas Kesehatan Kabupaten Malang Paulus Gatot Kusharyanto, SKM beserta staf PTM Bastamil Anwar Aziz, S.Kep.Ners., Kepala Desa Sumberejo Amsori bersama jajaran, Babinsa, Bidan Irawati, A.Md.Keb., Perawat Hari Punomo, S.Kep.Ners., hingga Kamituwo Bandarangin. Pendopo desa pagi itu menjelma menjadi ruang kolaborasi lintas sektor.

Alur pelayanan disusun rapi. Warga yang sebelumnya telah melalui proses skrining oleh enumerator BHF langsung menuju meja registrasi yang dilayani dua enumerator BHF Elmi Kamilah, S.Sos. dan Anis Kurniawati, S.Sos., dengan proses crosscheck oleh enumerator BHF Arief Budi Santoso, S.E. bersama para kader BHF, yang terdiri dari Ayuk Sukowati, Juma’iyah, dan Siti Aisah. Dari sana, mereka bergeser ke meja pengukuran tekanan darah, tempat Ari Fibrianto dan Amalia Anggraini sigap melayani pemeriksaan tensi.
Tahapan berlanjut ke pemeriksaan darah oleh dua analis dari UB, Widiastuti, S.Tr.Kes. dan Anita Puspitarini, S.Tr.Kes. Hasil pemeriksaan dari sejumlah alur pemeriksaan tersebut kemudian menjadi bahan diskusi di meja konsultasi, yang diisi oleh dua dokter ahli Fakultas Kedokteran UB, dr. Hikmawan Wahyu, Ph.D. dan dr. Aulia Rahmi, Ph.D.
Di sinilah warga mendapatkan penjelasan, konseling, sekaligus edukasi mengenai risiko polusi udara, khususnya dari pembakaran sampah terbuka terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Usai konsultasi, warga mengambil obat yang telah disiapkan oleh Dwi Sari Puspaningtyas, S.Gz., MSPH. Alur pemeriksaan kemudian ditutup dengan crosscheck akhir oleh Maria Pramundhitya, S.Si. dan Azarine Aisyah, S.Si., sebelum warga menerima konsumsi berupa nasi kotak dari Nine One Catering Pagak. Sebuah sentuhan sederhana, namun sarat makna kebersamaan.
Tak berhenti di pendopo, semangat pengabdian juga menjangkau rumah-rumah warga. Beberapa anggota tim melakukan kunjungan rumah kepada warga lanjut usia yang tak memungkinkan hadir. Dengan menumpang Ambulans Desa Sumberejo yang dikemudikan Samsul Arifin, Field Facilitator NIHR UB turt serta menyambangi sepasang suami istri berusia di atas 82 tahun di Dusun Bandarangin RT 13 RW 03. Bagi mereka, kehadiran tim adalah bukti bahwa layanan kesehatan tak mengenal batas usia dan jarak.
Dari target 44 sasaran, sebanyak 40 warga berhasil dilayani di Pendopo Balai Desa, dua melalui home visit, sementara dua lainnya memilih menolak. Tepat pukul 11.08 WIB, rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi foto Bersama untuk mengabadikan momen kolaborasi, senyum, dan harapan.
Pengabdian masyarakat ini bukan hanya tentang angka pemeriksaan atau hasil medis. Ia adalah proses saling belajar dan memberi. Seperti yang pernah diungkapkan Andrew Eppley Shue, seorang aktor ganteng asal Amerika, yang dikenal karena perannya sebagai Billy Campbell di serial televisi Melrose Place:
“Kegiatan pengabdian masyarakat telah mengajari saya berbagai macam keterampilan dan meningkatkan kepercayaan diri saya. Anda terjun langsung, berpikir cepat, bekerja sama dengan orang lain, dan menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Itulah esensi kehidupan.”
Kutipan ini seakan menemukan konteksnya di Pendopo Balai Desa Sumberejo, di mana masyarakat memperoleh manfaat kesehatan, sementara para pelaku pengabdian memetik pelajaran kemanusiaan yang tak ternilai. *** [080226]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo