“A healthy outside starts from the inside.” – Robert Urich
Di halaman Mushola Baitul Izza, atau tepatnya di rumah Bapak Maruki, Ketua RT 41 RW 09, yang beralamat di Jalan Raya Sumberejo Bekur, Dusun Bekur RT 41 RW 09 Desa Sumberejo, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, sebuah kegiatan Pengabdian Masyarakat (Pengmas) berlangsung dengan penuh antusias di hari Ahad (01/02). Lokasi kegiatan ini berada tepat di sebelah utara Ponkesdes Kemuning, menjadikannya mudah dijangkau oleh warga sekitar.
Kegiatan Pengmas yang mengangkat tema “Dampak Polusi Udara Akibat Pembakaran Sampah Terbuka Terhadap Kesehatan Kardiovaskular di Pedesaan Indonesia” ini diselenggarakan oleh NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Disease and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Universitas Brawijaya (UB) bekerja sama dengan British Heart Foundation (BHF). Sejak pagi hari, suasana halaman mushola dan rumah warga tampak ramai oleh kehadiran masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan.

Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, jajaran Pemerintah Desa (Pemdes) Sumberejo, Bhabinkamtibmas, Babinsa, Perawat Desa Sumberejo, serta Tim NIHR UB yang didukung oleh mahasiswa KKN. Kehadiran lintas sektor ini menunjukkan kuatnya kolaborasi dalam upaya meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat desa.
Pengmas ini dipimpin langsung oleh dr. Holipah, Ph.D., yang sekaligus menjadi motor utama kegiatan. Selain survey mengenai dampak polusi udara dari pembakaran sampah terbuka, kegiatan ini menghadirkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga yang telah diundang sebelumnya.
Untuk mendukung layanan tersebut, dr. Holipah menghadirkan sejumlah dokter spesialis dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB), di antaranya dr. Astrid, Sp.JP, dr. Hikmawan Wahyu, Ph.D., dan dr. Happy Kurnia, Ph.D.

Pelaksanaan pemeriksaan dilakukan secara sistematis dan tertib. Jauh hari sebelum kegiatan berlangsung, enumerator BHF telah mendatangi rumah-rumah warga untuk meminta kesediaan mereka berpartisipasi. Warga yang bersedia kemudian diberikan undangan resmi dan kupon pemeriksaan kesehatan gratis.
Pada hari pelaksanaan, layanan dimulai tepat pukul 08.00 WIB. Warga yang datang pertama-tama menuju meja pendaftaran, yang dilayani oleh dua enumerator BHF, Elmi Kamilah dan Anis Khurniawati, serta dilakukan pengecekan kelengkapan oleh dua kader kesehatan BHF, Ngatini dan Tini.
Usai pendaftaran, warga diarahkan menuju meja pengukuran tekanan darah (tensi) yang berada di bawah terop sebelah utara mushola. Di meja ini, dua perawat BHF, Ari Fibrianto dan Amalia Anggraeni, dengan bantuan kader kesehatan Indria Ida Asari dan Wella Rohma Diana, melakukan pengukuran tekanan darah. Dua kader bertugas mengukur, sementara dua perawat mencatat hasilnya ke dalam kartu pemeriksaan sebagai bekal untuk tahapan berikutnya.

Tahap selanjutnya adalah pemeriksaan sampel darah, yang dilakukan di dua bilik khusus oleh dua analis dari FKUB, lengkap dengan proses pelabelan sampel. Setelah keluar dari bilik, warga dipersilakan menuju meja konsultasi medis, di mana dua dokter spesialis FKUB, dr. Hikmawan Wahyu, Ph.D. dan dr. Astrid, Sp.JP, memberikan penjelasan dan saran kesehatan berdasarkan hasil pemeriksaan.
Selesai konsultasi, warga melapor ke meja depan di teras sisi timur, yang dilayani oleh Maria Pramundhitya, S.Si. untuk memastikan seluruh alur pemeriksaan telah dilalui dengan lengkap. Setelah dinyatakan selesai, warga bergeser ke meja pemberian obat, yang dipimpin oleh dr. Happy Kurnia, Ph.D., dengan dukungan penyediaan obat oleh Dwi Sari Puspaningtyas, S.Gz., MSPH.
Dari meja obat, warga kemudian diarahkan menuju meja konsumsi secara prasmanan. Hidangan telah dimasak secara gotong royong oleh ibu-ibu setempat yang dikoordinir oleh staf desa Wiwik Ermawati.

Saat mendampingi staf Dinkes Kabupaten Malang – Paulus Gatot Kusharyanto, SKM dan Imam Ghozali, S.Kep.Ners – serta jajaran Pemdes Sumberejo, Kepala Dusun Bekur, Bhabinkamtibmas, dan Babinsa, Field Facilitator NIHR UB menyaksikan beragam hidangan tersaji di teras samping barat rumah.
Menu sarapan pagi tampak lengkap dan menggugah selera, mulai dari nasi putih, nasi tiwul, sop, urap, sayur tongkol tahu, tempe goreng, dadar jagung, ayam goreng, kerupuk, hingga sambal.
Pada siang hari, Field Facilitator NIHR UB kembali disuguhi sayur bening dari tanaman pepe (Gymnema sylvestre) dan sambal terasi, yang dimasak langsung oleh Bu Siti. Setelah menikmati konsumsi, warga dan tamu undangan pun kembali ke rumah masing-masing.

Seluruh rangkaian layanan pemeriksaan Pengmas ini berakhir pada pukul 13.30 WIB. Berdasarkan hasil rekapitulasi yang dilakukan oleh enumerator BHF Arief Budi Santoso, dari 110 responden warga Dusun Bekur dan Bendo yang terdata, 81 responden berhasil diwawancarai, dan 76 responden berhasil menjalani pemeriksaan darah, yang terdiri dari 41 perempuan dan 35 laki-laki. Sementara itu, 5 responden tidak dapat hadir, dengan rincian 3 orang berhalangan karena keperluan pribadi dan 2 orang menolak karena takut diambil darahnya.
Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan layanan kesehatan, tetapi juga pemahaman penting mengenai faktor risiko penyakit tidak menular, khususnya penyakit kardiovaskular yang dapat dipicu oleh paparan polusi udara akibat pembakaran sampah terbuka.
Sejalan dengan pesan yang relevan dari Robert Urich (1946-2002), seorang aktor film, televisi, dan panggung serta produser televisi Amerika:
“Kesehatan dari luar berawal dari dalam.”

Kegiatan skrining dan edukasi semacam ini menjadi langkah awal yang sangat penting untuk menjaga kualitas hidup masyarakat desa melalui pencegahan dan deteksi dini faktor risiko PTM.
Pengmas di Desa Sumberejo ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara akademisi, lembaga internasional, Dinkes, Pemerintah Desa, dan masyarakat mampu menghadirkan dampak positif yang langsung dirasakan oleh warga, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya lingkungan bersih dan kesehatan jantung sejak dini. *** [010226]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo