“Caring has the gift of making the ordinary special.” — George R. Bach
Pagi di Dusun Sumbernongko, Desa Pagak, terasa berbeda dari biasanya. Terop sederhana yang telah dipasang sejak sehari sebelumnya di rumah Ibu Wiji Agustina menjadi penanda bahwa kegiatan penting akan segera berlangsung.
Senin pagi (02/02), tepat pukul 08.00 WIB, satu per satu warga datang membawa surat undangan dan kupon cek pemeriksaan gratis. Di tempat ini, Tim NIHR Universitas Brawijaya (UB) melanjutkan tema Pengmas (Pengabdian Masyarakat) tentang Dampak Polusi Udara Akibat Pembakaran Sampah Terbuka terhadap Kesehatan Kardiovaskular di Pedesaan Indonesia, kali ini menyapa warga Desa Pagak, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang.

Sehari sebelumnya, kegiatan serupa diadakan di Desa Sumberejo. Namun semangat pengabdian tampaknya tidak surut. Di Pagak, Pengmas ini menjadi ruang pertemuan antara sains, kepedulian, dan kebutuhan nyata masyarakat.
Kegiatan yang diprakarsai oleh NIHR Global Health Research Centre and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) bekerja sama dengan British Heart Foundation (BHF) ini dipimpin langsung oleh dr. Holipah, Ph.D., dengan fokus pada pemeriksaan kesehatan kardiovaskular warga yang setiap hari terbiasa dengan praktik pembakaran terbuka.
Sebanyak 58 warga Dusun Sumbernongko sebelumnya telah menjalani proses penyaringan awal oleh enumerator dan perawat BHF. Pagi itu, alur pelayanan berjalan tertib. Warga yang datang lebih dulu melakukan registrasi di meja pendaftaran yang dilayani oleh enumerator Mega Wrida Silvia yang didampingi dua kader kesehatan BHF.

Kemudian setelah itu, warga akan melanjutkan ke pemeriksaan tekanan darah. Dua perawat BHF – Rifka Luqita dan Akbar Mada – dengan teliti mengukur tekanan darah, sementara hasilnya dicatat dengan rapi oleh enumerator Febrina Shinta dan Fahmi Ahmad Fauzan.
Selesai pengukuran tekanan darah, warga diarahkan ke meja analis di sisi utara teras. Di sana, layanan pengujian dan pelabelan darah dilakukan dengan cermat. Suasana terasa hangat, bukan hanya karena sinar matahari pagi, tetapi juga karena interaksi ramah antara petugas kesehatan (analis), yakni Widiastuti, Str. Kes dan Sayekti Panglipur Ningtias, A.Md.Kep., dan warga.
Setelah itu, para penghuni memasuki ruangan yang telah disulap menjadi ruang konsultasi dokter. Di ruangan inilah dr. Hikmawan Wahyu, Ph.D. memberikan pemeriksaan lanjutan, konsultasi, serta edukasi kesehatan kardiovaskular.

Tak jarang, warga juga menerima resep obat, khususnya yang berkaitan dengan pengendalian hipertensi, yang kemudian diambil di meja obat yang berada di dekat dokter tersebut. Pemberian obat dibantu oleh Dwi Sari Puspaningtyas, S.Gz., MSPH.
Usai mengambil obat, warga akan bergeser ke meja pengecekan alur pemeriksaan yang dilayani oleh Maria Pramundhitya W., S.Si yang dibantu oleh personil lainnya, dan setelah itu warga akan menerima sekotak nasi pesanan dari Nine One Catering Pagak untuk dibawa pulang.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh perangkat desa dan tenaga kesehatan setempat, mulai dari Sekretaris Desa (Sekdes) Naroji, perawat desa Sri Hidayati, S.Kep.Ners., bidan desa Anita Fitri, 2 enumerator BHF Desa Sumberejo – Arief Budi Santoso dan Elmi Kamilah -serta 7 kader kesehatan BHF – Yeni Eka Lestari, Zaenap, Siti Kholilah, Hanifah, Sri Rahayu, Dita Kalista, dan Maisaroh – yang membanu pelaksanaan Pengmas ini.

Kehadiran mereka memperkuat pesan bahwa upaya pencegahan penyakit tidak menular, khususnya yang dipicu oleh polusi udara akibat pembakaran sampah, adalah tanggung jawab bersama.
Pukul 12.36 WIB, kegiatan tak berhenti di lokasi utama. Tim juga melakukan home visit untuk menjangkau warga yang tidak memungkinkan hadir. Dengan didampingi kader dan enumerator sebagai penghubung, tim medis menyambangi langsung rumah warga sebagai sebuah bentuk komitmen agar tak ada yang tertinggal dari layanan kesehatan. Pada kesempatan ini, Field Facilitator NIHR UB ikut home visit dengan membonceng motor Sekdes Naroji.
Hingga kegiatan berakhir pukul 13.16 WIB, tercatat 52 warga hadir langsung untuk pemeriksaan, sementara tiga lainnya mendapatkan layanan melalui kunjungan rumah. Dari target 58 orang, berhasil ikut pemeriksaan sebanyak 52 orang dengan hadir di Lokasi, dan 3 orang dilakukan home visit. Sedangkan yang 3 orang, kebetulan satu keluarga, tidak bisa hadir. Angka ini menjadi cerminan tingginya antusiasme sekaligus kebutuhan warga terhadap layanan skrining kesehatan.

Di tengah kesibukan itu, satu pesan sederhana namun kuat terasa relevan dari George R. Bach (1914-1986), seorang psikolog klinis Amerika kelahiran Latvia yang dikenal karena mempelopori teknik psikoterapi kelompok intensif dan mengembangkan sesi terapi maraton yang menekankan konfrontasi konstruktif dan “perdebatan yang adil” dalam hubungan intim, begitu menginspirasi:
“Kepedulian memiliki kemampuan untuk membuat hal-hal biasa menjadi istimewa.”
Pengabdian masyarakat di Desa Pagak membuktikan bahwa kepedulian, yang diwujudkan melalui skrining, edukasi, dan kehadiran langsung di tengah warga, mampu mengubah terop sederhana di halaman rumah menjadi ruang harapan. Harapan akan tubuh yang lebih sehat, lingkungan yang lebih bersih, dan masa depan desa yang lebih sadar akan dampak polusi udara terhadap kesehatan kardiovaskular. *** [020226]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo