Di Bawah Rindang Jambu Air, Posyandu Menjaga Kehidupan

Sabtu pagi baru saja dimulai ketika satu per satu warga berdatangan ke sebuah rumah di Jalan Sultan Agung Nomor 161, Dusun Sumberjeruk RT 01 RW 03, Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Banyuwangi. Di halaman rumah milik Pujiati, suasana terasa teduh. Rimbunnya pohon jambu air yang menaungi pintu masuk seolah menjadi payung alami bagi setiap orang yang datang. Di tengah lalu lintas jalan yang cukup ramai, teras rumah itu berubah menjadi ruang pelayanan kesehatan yang hangat dan penuh semangat.

Hari itu, Posyandu Anggrek II kembali menggelar pelayanan rutin. Posyandu ini merupakan satu dari dua posyandu yang melayani masyarakat Dusun Sumberjeruk. Seperti bulan-bulan sebelumnya, para kader kesehatan telah bersiap sejak pagi untuk menyambut warga dari berbagai kelompok usia, mulai balita hingga lansia.

Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB) turut hadir dalam kegiatan tersebut. Kunjungan ini menjadi bagian dari silaturahmi dengan para kader kesehatan sekaligus kesempatan untuk mengamati secara langsung dinamika pelaksanaan Posyandu di wilayah enumeration area penelitian.

Tepat pukul 08.00 WIB, pelayanan dimulai. Tidak ada keramaian yang berlebihan, tetapi aktivitas berlangsung nyaris tanpa jeda. Empat kader kesehatan bekerja dalam irama yang telah mereka pahami selama bertahun-tahun. Tanpa banyak aba-aba, masing-masing menjalankan tugasnya dengan cekatan.

Posyandu Anggrek II Dusun Sumberjeruk RT 01 RW 03 Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Pujiati, kader senior yang dikenal energik, menjadi orang pertama yang menyambut warga. Setelah mengisi daftar hadir di meja panjang yang berada di teras rumah, setiap peserta menjalani proses registrasi sebelum dilakukan pengukuran lingkar lengan dan lingkar perut bagi kelompok usia produktif maupun lansia.

Selanjutnya, warga menuju meja kader Binti Qoriah. Dengan teliti ia mengukur tinggi badan dan berat badan peserta. Hasil pemeriksaan tidak lagi hanya ditulis di buku pencatatan, melainkan langsung dimasukkan ke dalam aplikasi SAGA. Sentuhan teknologi sederhana ini membuat pencatatan data menjadi lebih cepat sekaligus mendukung pengelolaan informasi kesehatan yang lebih baik.

Di sudut lain, Nur Janah sibuk melayani balita. Ia membuka lembar demi lembar Kartu Menuju Sehat (KMS), mencatat hasil penimbangan, lalu mencermati kurva pertumbuhan setiap anak. Bagi para orang tua, garis-garis pada KMS bukan sekadar grafik. Di sanalah tumbuh kembang anak dipantau dari bulan ke bulan, sehingga setiap perubahan dapat segera dikenali.

Sementara itu, bagi warga usia produktif dan lansia, rangkaian pemeriksaan berlanjut di meja kader Luckyta Anjarsari. Pengukuran tekanan darah dan pemeriksaan kadar gula darah menjadi bagian penting dalam mendeteksi faktor risiko penyakit tidak menular sejak dini. Percakapan ringan yang mengiringi pemeriksaan membuat suasana terasa akrab, seolah setiap meja bukan hanya tempat pelayanan, tetapi juga ruang berbagi perhatian.

Pengukuran berat badan dan KMS balita

Seluruh rangkaian kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Integrasi Layanan Primer (ILP), sebuah transformasi pelayanan kesehatan yang dikembangkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Melalui pendekatan ini, pelayanan kesehatan dasar dirancang agar lebih terintegrasi, menyentuh seluruh tahapan kehidupan manusia, mulai dari masa kehamilan, bayi, balita, usia produktif, hingga lanjut usia. Posyandu menjadi garda terdepan yang menghadirkan layanan tersebut semakin dekat dengan masyarakat desa.

Usai menyelesaikan seluruh pemeriksaan, setiap peserta menerima Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Mungkin terlihat sederhana, tetapi makanan tambahan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam menjaga status gizi masyarakat, terutama balita yang berisiko mengalami masalah gizi maupun stunting serta ibu hamil dengan Kurang Energi Kronis.

Kegiatan pagi itu juga dihadiri Dian Novitasari selaku Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD). Kehadirannya memperlihatkan bagaimana pelayanan kesehatan masyarakat berjalan beriringan dengan program pembangunan keluarga di tingkat desa.

Pengukuran tekanan darah dan cek kadar gula darah oleh kader

Hingga pelayanan berakhir pada pukul 10.35 WIB, sebanyak 34 warga telah memperoleh layanan kesehatan. Mereka terdiri atas 14 balita serta 20 warga usia produktif dan lansia. Angka tersebut mungkin tampak sederhana, tetapi di baliknya tersimpan puluhan cerita tentang upaya menjaga kesehatan sejak dini, memantau tumbuh kembang anak, serta mengendalikan risiko penyakit pada usia dewasa dan lanjut.

Bagi Field Facilitator NIHR UB, kunjungan ke Posyandu Anggrek II bukan hanya tentang menyaksikan alur pelayanan kesehatan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana kader-kader kesehatan desa bekerja dengan penuh dedikasi, memanfaatkan sumber daya yang ada, sekaligus membangun kedekatan dengan masyarakat yang mereka layani.

Di teras rumah yang dinaungi rindangnya pohon jambu air itu, pelayanan kesehatan hadir dalam wujud yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tidak ada sekat antara petugas dan warga, tidak ada jarak antara pelayanan dan masyarakat.

Yang tampak justru semangat gotong royong, kepedulian, dan kerja-kerja sunyi para kader yang setiap bulan memastikan kesehatan tetap tumbuh bersama masyarakat. Dari ruang sederhana itulah, fondasi kesehatan desa terus dirawat, satu pemeriksaan demi satu pemeriksaan, satu keluarga demi satu keluarga. *** [070726]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment