Malam yang Menghangatkan Basecamp Purwodadi

[Never underestimate] the power of dinner.” –Julia Roberts

Aroma bobor daun singkong mengepul pelan dari dapur sebuah rumah di Dusun Tempurejo RT 02 RW 01, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi. Di atas meja, piring-piring mulai berjajar. Kembang kol goreng yang masih hangat tersusun berdampingan dengan dadar jagung, perkedel tahu, serta klepon warna-warni berbahan singkong yang tampak mengilap diterpa cahaya lampu. Di sudut dapur, beberapa orang masih lalu-lalang membawa piring, tempat nasi dan sesekali saling menggoda. Tawa mereka pecah, sederhana, namun terasa akrab.

Rumah itu bukan rumah keluarga dalam pengertian yang lazim. Ia adalah basecamp Purwodadi, tempat dua Tim Enumerator Baseline Survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) tinggal selama menjalankan pengumpulan data di lapangan. Baru dua hari mereka menghuni rumah itu, tetapi kehangatan yang tumbuh di dalamnya seolah telah berlangsung jauh lebih lama.

Suasana dinner bersama di basecamp Purwodadi di Dusun Tempurejo, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi

Malam itu, mereka mengundang empat enumerator bersama Field Facilitator NIHR UB yang bermukim di basecamp Tamanagung untuk menikmati makan malam bersama. Tak ada baliho penyambutan, tak ada sambutan resmi, bahkan tak ada susunan acara. Yang ada hanyalah lantai keramik yang dipenuhi hidangan rumahan dan wajah-wajah yang menyimpan semangat untuk saling menyapa.

Di basecamp Purwodadi tinggal dua tim enumerator. Tim Purwodadi diperkuat oleh Mega Wrida Silvia, SKM, Naylil Nur Amalya Putri, S.Sos., dan Sinta Ningrum Widianingsih, SKM. Sementara itu, Tim Wringinagung terdiri dari Maharany Triastuti Januarizki, S.ST., Muhammad Wisnu Nafiri, S.E., dan Winda Cahyani, S.Tr.Gz.RD.

Beberapa hari sebelumnya, mereka masih bolak-balik dari rumah masing-masing. Pendekatan kepada pemerintah desa dan kader kesehatan dilakukan bersama sebelum akhirnya pulang. Kini situasinya berubah. Mereka mulai tinggal di basecamp agar lebih dekat dengan lokasi kerja. Bersamaan dengan itu, mereka mulai belajar hidup bersama.

Yang mereka bawa bukan sekadar tas berisi pakaian atau dokumen penelitian. Ada magic com, wajan, panci, bumbu dapur, piring, gelas, hingga perlengkapan memasak lainnya. Perjalanan menuju lapangan ternyata juga berarti membangun sebuah rumah, meski hanya untuk sementara.

Aneka lauk pauk buatan penghuni basecamp Purwodadi

Salah seorang di antara mereka bahkan sedang menikmati musim panen. Mega datang membawa hasil kebun berupa aneka sayuran segar. Yang lain menambahkan kebutuhan dapur melalui iuran bersama. Tak ada yang merasa paling banyak memberi ataupun paling sedikit berkontribusi. Semua melebur dalam semangat gotong royong yang tumbuh begitu alamiah.

Dari dapur itulah lahir hidangan yang malam itu memenuhi lantai keramik di ruang tamu baecamp. Tidak mewah, tetapi mengenyangkan. Tidak mahal, tetapi menghadirkan rasa yang sulit dibeli.

Menu bobor daun singkong menjadi salah satu menu yang paling akrab dengan lidah setempat. Masyarakat Banyuwangi lebih sering menyebutnya bobor sawi, sebab daun singkong di daerah itu dikenal sebagai godhong sawi. Ada pula kembang kol goreng, dadar jagung, perkedel tahu, hingga klepon singkong berwarna-warni yang menjadi penutup manis kebersamaan malam itu.

Usai sejumlah personil enumerator berjamaah Maghrib di mushola yang ada di halaman basecamp Purwodadi, semua berkumpul mengelilingi aneka menu hidangan dinner yang di tata di atas lantai keramik.

Sayur bobor daun singkong

Tak ada aba-aba untuk memulai. Seseorang mengambil nasi, yang lain menyendok sayur, lalu obrolan mengalir begitu saja. Cerita tentang pengalaman turun lapangan, persiapan survei, hingga kisah-kisah kecil yang hanya dipahami sesama enumerator berseliweran di antara suapan demi suapan.

Mungkin benar seperti yang pernah diungkapkan Julia Fiona Roberts, seorang aktris Amerika, “[Jangan pernah meremehkan] kekuatan makan malam.” Sebab, malam itu, makan malam bukan hanya soal mengisi perut. Ia menjadi cara paling sederhana untuk mempererat persaudaraan, menyatukan orang-orang yang berasal dari latar belakang berbeda dalam satu tujuan yang sama.

Ketika piring-piring mulai kosong, kebersamaan ternyata belum ingin berakhir. Ruang makan berubah menjadi ruang cerita. Gelak tawa bersahut-sahutan, saling menimpali kisah-kisah lucu yang lahir dari dinamika persiapan lapangan. Tak lama kemudian, sebuah pengeras suara dinyalakan. Karaoke dadakan pun dimulai.

Ada yang bernyanyi penuh percaya diri, ada pula yang sengaja menyanyikan nada melenceng hingga mengundang tawa bersama. Tak seorang pun sibuk menilai siapa yang paling merdu. Yang penting, malam terasa semakin hidup.

Klepon dari singkong

Seakan-akan angin malam ikut berhenti sejenak untuk mendengarkan. Dinding-dinding basecamp menjadi saksi bisu riuhnya persahabatan. Lampu-lampu rumah memancarkan cahaya yang tidak hanya menerangi ruangan, tetapi juga menghangatkan hati setiap orang yang hadir. Bahkan lantai keramik ruang tamu yang sejak awal hanya menjadi tempat menyajikan hidangan, malam itu berubah menjadi jembatan yang merapatkan jarak antarmanusia.

Esok pagi mereka akan kembali berkoordinasi dengan sejumlah kader, dan memastikan setiap informasi terkumpul dengan baik, sambil menunggu aplikasi SMARThealth selesai dikerjakan updatenya. Tugas itu tentu tidak ringan. Namun malam itu memberi mereka bekal yang tak kalah penting dari perangkat survey, yaitu rasa memiliki, saling percaya, dan keyakinan bahwa perjuangan akan selalu terasa lebih ringan ketika dijalani bersama.

Di Purwodadi, makan malam sederhana telah menjelma menjadi perayaan kecil tentang persaudaraan. Dan barangkali, di situlah kekuatan terbesar sebuah basecamp, bukan hanya menjadi tempat singgah, melainkan tempat setiap orang merasa pulang, meski berada jauh dari rumah. *** [020726]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment