Pertemuan Hangat Bersama Kader, Menyatukan Langkah Menyukseskan Baseline Survey di Desa Kaliploso

Be cohesive in your dealings. Trust built on and from mutual support, facilitating communication and encouraging coordination can be rewarding.” — Ogwo David Emenike

Suasana Pendopo Desa Kaliploso, yang beralamat di Dusun Plosorejo RT 03 RW 04, Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, pada Senin (29/06), tampak lebih hidup dari biasanya.

Di tempat itulah, dua enumerator Baseline Survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) menggelar pertemuan bersama lima kader desa sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan pengumpulan data baseline survey. Pertemuan tersebut menjadi salah satu mata rantai penting sebelum tim turun langsung ke lapangan.

Sebagaimana dilakukan oleh tim enumerator baseline survey di desa-desa lainnya, koordinasi dengan kader setempat menjadi langkah awal yang tidak dapat dipisahkan dari rangkaian kegiatan penelitian.

Gerbang Balai Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Malang

Kader dipilih sebagai mitra pendamping lapangan karena mereka merupakan community health worker yang memahami karakteristik masyarakat, kondisi wilayah, hingga dinamika pelayanan kesehatan di desanya. Kedekatan kader dengan warga menjadi modal sosial yang sangat berharga untuk membangun komunikasi selama proses pengumpulan data berlangsung.

Dua enumerator Desa Kaliploso yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah Rafini Aminatul Hidayah, S.Tr.Gz. dan Rahmanurraudhotul Amin, SKM. Sementara lima kader yang mengikuti kegiatan terdiri atas Sundari (Kader Posyandu Lestari 1), Sri Hidayati (Kader Posyandu Lestari 2), Sutiyani Eka R. (Kader Posyandu Lestari 3), Harum Wijayanti (Kader Posyandu Lestari 4), serta Rio Duta Wibawa dari staf PMD.

Turut hadir pula Field Facilitator NIHR UB yang juga merupakan Peneliti Bidang Pengawas Data Lapangan/Supervisor SMARThealth, bersama enumerator Desa Tamanagung, Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos.

Kehadiran Field Facilitator memberikan warna tersendiri karena sebelumnya ia telah menjalin hubungan baik dengan dua kader Desa Kaliploso, yakni Sundari dan Rio Duta Wibawa, saat mendampingi Tim Enumerator COM-B Desa Kaliploso beberapa waktu lalu. Keakraban tersebut membuat suasana pertemuan terasa lebih cair sejak awal.

Polindes yang berada di lingkungan Balai Desa Kaliploso

Alih-alih berlangsung secara kaku dan formal, pertemuan dikemas santai agar ruang diskusi menjadi lebih terbuka. Tiga kader telah hadir sejak pukul 09.00 WIB. Sembari menunggu dua kader lainnya tiba, para enumerator dan kader memanfaatkan waktu untuk berbincang ringan. Obrolan sederhana itu justru membuka ruang bertukar informasi yang bermanfaat.

Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh Field Facilitator NIHR UB untuk menggali lebih jauh mengenai kondisi layanan kesehatan masyarakat di Desa Kaliploso, khususnya sistem perposyanduan yang selama ini menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan berbasis masyarakat.

Dari diskusi bersama para kader, diperoleh sejumlah informasi mengenai kondisi wilayah. Desa Kaliploso terbagi menjadi dua dusun, yaitu Dusun Kalirejo dan Dusun Plosorejo. Dusun Kalirejo memiliki dua RW dan enam RT, sedangkan Dusun Plosorejo terdiri atas enam RW dan delapan belas RT, dengan setiap RW membawahi tiga RT.

Dalam pelayanan kesehatan masyarakat, Desa Kaliploso memiliki empat Posyandu. Dusun Kalirejo memiliki satu Posyandu, yakni Posyandu Lestari 3. Adapun Dusun Plosorejo memiliki tiga Posyandu, yaitu Posyandu Lestari 1, Posyandu Lestari 2, dan Posyandu Lestari 4. Seluruh Posyandu tersebut didukung oleh 24 kader, dengan masing-masing Posyandu diperkuat enam orang kader.

Pendopo Desa Kaliploso

Selain itu, para kader juga menjelaskan bahwa Desa Kaliploso masuk dalam wilayah kerja Puskesmas Tampo dan memiliki dua Polindes. Satu Polindes berada di lingkungan Balai Desa Kaliploso, sedangkan satu lainnya berlokasi di Dusun Kalirejo RT 02 RW 07.

Percakapan yang berlangsung sebelum acara resmi dimulai menunjukkan bahwa proses koordinasi tidak selalu harus berlangsung dalam suasana formal. Justru melalui dialog yang hangat, para enumerator memperoleh pemahaman lebih utuh mengenai kondisi sosial, geografis, serta jaringan pelayanan kesehatan desa yang nantinya sangat membantu penyusunan strategi pengumpulan data di lapangan.

Tepat pukul 09.51 WIB, Rahmanurraudhotul Amin memulai agenda utama pertemuan. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa pada kegiatan baseline survey nanti, tim enumerator akan mengunjungi sekitar 400 responden yang telah ditetapkan sebagai sasaran penelitian.

Seluruh responden tersebut merupakan hasil proses pre-screening sebelumnya yang menunjukkan adanya faktor risiko terhadap penyakit kardiovaskular (Cardiovascular Disease/CVD) maupun penyakit paru obstruktif kronis (Chronic Obstructive Pulmonary Disease/COPD).

Pertemuan Enumerator Baseline Survey Desa Kaliploso dengan lima kader pendamping di Pendopo Balai Desa Kalipoloso

Rahman juga menjelaskan bahwa baseline survey tidak hanya berfokus pada pengumpulan data, tetapi juga akan disertai pemeriksaan kesehatan terhadap responden. Oleh karena itu, pelaksanaan di lapangan akan menerapkan dua pendekatan.

Pertama, responden akan dikumpulkan dalam suatu lokasi sebagaimana mekanisme pelayanan Posyandu. Kedua, bagi responden yang tidak memungkinkan hadir, tim enumerator bersama kader akan melakukan kunjungan secara door to door.

Pola tersebut membutuhkan dukungan aktif para kader. Selain mengenal wilayah dan warganya, kader juga memiliki kemampuan membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat sehingga diharapkan dapat membantu memperlancar proses pendataan sekaligus meningkatkan partisipasi responden.

Semangat kolaborasi inilah yang sejalan dengan pesan Ogwo David Emenike, seorang penulis lepas, cendekiawan, motivator, penyair, peneliti, inovator, fasilitator perubahan positif, pelatih kehidupan, dan pemimpin visioner asal Nigeria:

“Bersikaplah kohesif dalam setiap urusan Anda. Kepercayaan yang dibangun atas dasar dukungan timbal balik, memfasilitasi komunikasi, dan mendorong koordinasi dapat memberikan hasil yang memuaskan.”

Field Facilitator NIHR UB turut menyimak dan mencatat dalam pertemuan antara enumerator dan kader

Kutipan tersebut menggambarkan pentingnya membangun kepercayaan melalui kerja sama yang erat antara peneliti, enumerator, kader, pemerintah desa, serta masyarakat. Pengumpulan data yang berkualitas tidak hanya bergantung pada instrumen penelitian, tetapi juga pada kekuatan koordinasi dan komunikasi antarpihak yang terlibat.

Pertemuan yang berakhir pada pukul 10.30 WIB itu menjadi fondasi awal bagi pelaksanaan baseline survey di Desa Kaliploso. Setelah kegiatan selesai, Field Facilitator NIHR UB menyempatkan diri bersilaturahmi dengan Kepala Desa Kaliploso, Rudi Hartono, S.Th.I., di ruang kerjanya. Keduanya memang telah saling mengenal baik sejak kegiatan pendampingan sebelumnya.

Silaturahmi singkat tersebut semakin menegaskan bahwa keberhasilan sebuah penelitian lapangan tidak lahir dari kerja individu semata. Ia tumbuh dari sinergi yang dibangun bersama pemerintah desa, kader kesehatan, serta seluruh elemen masyarakat yang memiliki tujuan yang sama, yakni menghadirkan data yang akurat sebagai dasar penguatan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular di tingkat komunitas. *** [290626]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment