“Parting is such sweet sorrow.” — William Shakespeare
Jumat (25/09) sore, Lesehan Rindu Jajag di Jalan Jajag–Bangorejo, Dusun Krajan II RT 03 RW 02, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, jadi pertemuan hangat lebih dari biasanya.
Di tempat makan yang namanya seolah telah menyimpan pesan perpisahan itu, delapan orang berkumpul: lima kader kesehatan Desa Purwodadi dan tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC).
Lima kader kesehatan yang hadir ialah Nurul Hidayati, Restining Ayem, Rika Rahmatul Jannah, Roisatur Rodiyah, dan Yuli Wulandari. Sementara itu, tiga enumerator yang selama ini bekerja bersama mereka adalah Mega Wrida Silvia, SKM; Naylil Nur Amalya Putri, S.Sos.; dan Sinta Ningrum Widianingsih, SKM. Field Facilitator NIHR UB turut hadir dalam pertemuan yang dikemas sederhana, tetapi sarat makna tersebut.
Mereka menyebutnya Farewell Party -pesta perpisahan kecil setelah tiga bulan berjalan bersama dalam pengumpulan data dan pemeriksaan spirometri di Desa Purwodadi.

Tiga Bulan yang Menjadi Cerita
Sesungguhnya, tugas Tim Enumerator Desa Purwodadi baru berakhir pada Sabtu, 26 September, setelah pemeriksaan spirometri untuk kelima kalinya. Namun, rencana itu dimajukan sehari karena salah seorang kader harus menghadiri pernikahan adiknya di Situbondo.
Maka, Jumat itu dipilih sebagai waktu untuk mengikat kembali kenangan sebelum pekerjaan benar-benar ditutup. Tidak ada panggung, susunan acara, atau sambutan panjang. Hanya meja makan, percakapan santai, tawa yang sesekali pecah, dan perasaan yang perlahan menyadari bahwa kebersamaan selama tiga bulan akan segera berubah menjadi cerita.
Selama proses pengumpulan data, para enumerator dan kader tidak sekadar bertemu untuk menjalankan tugas. Mereka berbagi waktu, tenaga, perjalanan, dan pengalaman. Di antara lembar-lembar data, pengukuran, pemeriksaan spirometri, serta kunjungan kepada warga, tumbuh keakraban yang tidak tercatat dalam instrumen penelitian mana pun.
Data mungkin memiliki angka, kode, dan variabel. Namun, proses mendapatkannya menyimpan wajah, suara, dan hubungan antarmanusia.

Perpisahan yang Manis
Suasana di Lesehan Rindu sore itu terasa seperti halaman terakhir sebuah cerita yang belum benar-benar ingin ditutup. Tawa masih terdengar, tetapi di baliknya ada kesadaran bahwa rutinitas yang selama ini dijalani bersama tidak lagi akan berlangsung setiap hari.
Kebersamaan itu terasa seperti bait pertama lagu “Perpisahan Termanis” yang dipopulerkan Lovarian pada 2009: “Bila nanti kita berpisah, jangan kau lupakan kenangan yang indah, kisah kita.” Bukan karena perpisahan menghapus kebersamaan, melainkan justru karena kenangan membuat jarak terasa lebih dekat.
Di Lesehan Rindu, perpisahan tidak hadir sebagai akhir yang muram. Ia datang perlahan, seperti senja yang menurunkan cahaya tanpa benar-benar memadamkannya. Ada rasa haru, tetapi juga keyakinan bahwa perjumpaan ini bukanlah pertemuan terakhir.
William Shakespeare pernah menulis, “Berpisah adalah kesedihan yang begitu manis.” Ungkapan itu terasa tepat untuk menggambarkan pertemuan para enumerator dan kader kesehatan Desa Purwodadi. Sedih karena kebersamaan harus berakhir, tetapi manis karena tiga bulan yang dilalui telah meninggalkan kenangan yang layak disimpan.

Lepas Rindu Sebelum Kembali Bertemu
Salah seorang enumerator menyampaikan kalimat sederhana dalam obrolan yang berlangsung tanpa seremoni.
“Kita berkumpul hari ini untuk melepas rindu satu sama lain. Besok kita kembali bekerja, dan kita akan bertemu lagi tahun depan.”
Kalimat itu terdengar ringan, tetapi menyimpan banyak arti. Perpisahan tersebut bukan benar-benar tentang kehilangan, melainkan tentang jeda. Para enumerator akan melanjutkan langkah ke tempat lain, sementara para kader kembali pada aktivitas pelayanan kesehatan di desa. Akan tetapi, pengalaman bekerja bersama tetap menjadi jembatan yang menghubungkan mereka.
Sesuai namanya, Lesehan Rindu menjadi tempat yang pas untuk menutup rangkaian kebersamaan itu. Di sana, kerinduan bukan hanya sesuatu yang akan muncul setelah perpisahan, tetapi juga alasan mengapa mereka memilih berkumpul sebelum benar-benar berpisah.
Kelak, ketika pemeriksaan spirometri, pengumpulan data, dan perjalanan bersama itu hanya tinggal kenangan, mungkin yang paling diingat bukanlah berapa banyak formulir yang selesai diisi atau berapa kali pemeriksaan dilakukan. Yang tinggal justru hal-hal sederhana, seperti tawa di sela pekerjaan, bantuan ketika lelah, percakapan di perjalanan, dan rasa saling menguatkan.
Sebab pada akhirnya, sebuah penelitian tidak hanya dibangun dari data. Ia juga tumbuh dari orang-orang yang mengumpulkan, mendampingi, dan menjalaninya bersama. Di Desa Purwodadi, tiga bulan kerja telah menjelma menjadi sebuah kisah, kisah yang mungkin selesai dalam tugas, tetapi tidak selesai dalam ingatan. *** [260926]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo