Napas sebagai Pintu Gerbang Kesehatan di Tamanagung

“The missing pillar in health is breath. It all starts there.” – James Nestor

Kalimat James Nestor itu seolah menemukan wujudnya di sebuah pendopo desa di Banyuwangi, responden hasil pre-screening NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Enviromental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) memulai pemeriksaan spirometri perdana di Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, pada Jumat (25/9). Acara yang berlangsung dari pukul 08.00 itu menjadi tonggak penting dalam upaya deteksi dini gangguan pernapasan di tingkat komunitas.

Pagi itu, Pendopo Desa Tamanagung di Jalan Sraten No. 07, Dusun Krajan RT 02 RW 04, disulap menjadi pos pemeriksaan kesehatan yang tertata. Tiga enumerator baseline survey – Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos.; Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes.; dan Nisaul Rofifah, S.Gz. – sibuk menyiapkan empat meja pemeriksaan dengan alur yang jelas sejak pagi sebelum kedatangan responden.

Personel RS NU Banyuwangi berpose dengan enumerator baseline survey dan kader kesehatan DesaTamanagung serta Field Facilitator NIHR UB

Lima kader kesehatan setempat – Ade Fitria, Binti Qoriah, Luckyta Anjarsari, Ninik Sutriani, dan Ratna Mujayana – turut membantu memobilisasi responden. Kolaborasi erat antara NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi ini menunjukkan bagaimana sinergi lintas sektor dapat menghadirkan layanan kesehatan hingga ke pelosok desa.

Di sisi selatan pendopo, Dysa dan kader Binti Qoriah menyambut responden dengan registrasi dan verifikasi data. Bila ada antrean, warga dipersilakan duduk di bangku yang telah disediakan sambil menunggu panggilan.

Panggilan pertama datang dari meja 2, atau meja TTV (Tanda_Tanda Vital). Perawat Ismi, S.Kep.Ns., melakukan penimbangan badan, pengukuran tekanan darah, dan oksimetri. Sementara Bidan Muqodimah, A.Md.Keb., melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth – sebuah inovasi teknologi kesehatan primer yang telah diimplementasikan di Indonesia dalam NIHR-GHRC NCDs & EC. Pemeriksaan TTV ini penting sebagai baseline sebelum responden menjalani tes spirometri.

Napas sebagai Pintu Gerbang Kesehatan di Tamanagung
Gapura paduraksa Balai Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Usai TTV, responden akan dipanggil di meja 3, atau meja spirometri. Di sinilah inti pemeriksaan berlangsung. Spirometri adalah tes fisiologis untuk menilai fungsi paru-paru dengan mengukur jumlah maksimum udara yang dapat dihirup dan diembuskan.

Perawat Lavinia, S.Kep.Ns., memandu manuver pernapasan, dibantu Perawat Joenhiga, S.Kep.Ns., yang mengoperasikan alat spirometri. Ns. Elik Anistina, S.Kep., dari NIHR UB, memantau jalannya tes.

Tahap pertama adalah spirometri pre-bronkodilator. Setelah itu, responden menerima semprotan salbutamol – obat bronkodilator yang berfungsi meredakan penyempitan saluran pernapasan pada penyakit seperti asma atau PPOK. Responden kemudian duduk selama 20 menit untuk menunggu efek obat bekerja optimal sebelum kembali ke meja 3 untuk tes post-bronkodilator.

Meja 1: Registrasi dan Verifikasi Responden

Bila dalam tes spirometri tahap 2 ini bisa menyelesaikan dengan lancar, maka responden telah menyelesaikan rangkaian alur pemeriksaan spirometri, dan kemudian responden akan dipanggil di meja 4. Di meja 4 ini, enumerator Nisa, didampingi kader Luckyta, memberikan konsumsi, vitamin, dan subsidi transportasi sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi warga dalam program kesehatan ini.

Dalam implementasi pemriksaan spirometri perdana ini, Field Facilitator NIHR UB mencatat satu kejadian menarik di mana seorang responden lansia berusia sekitar 80 tahun berhasil menyelesaikan tes tahap 1, namun kesulitan pada tahap 2. Khawatir tekanan darahnya naik, anak yang mengantar memutuskan untuk membawa pulang sang orang tua sebelum tes selesai, kendati sebenarnya orangtuanya tersebut masih ingin mencobanya.

Kasus ini mengingatkan bahwa pemeriksaan spirometri memerlukan manuver pernapasan yang cukup berat, yaitu menghirup dalam-dalam lalu mengembuskan sekuat tenaga hingga paru-paru benar-benar kosong. Bagi lansia atau mereka dengan kondisi tertentu, hal ini bisa menjadi tantangan fisik yang tidak mudah.

Meja 2: TTV

Hingga rangkaian pemeriksaan spirometri ini berakhir pada pukul 12.42 WIB, dari 25 responden yang diundang, satu orang tidak hadir karena sedang menghadiri acara keluarga di Jember. Artinya, 24 responden hadir dan mengikuti rangkaian pemeriksaan, meski satu di antaranya tidak dapat menyelesaikan hingga tahap akhir.

Dalam pemeriksaan spirometri perdana ini, Rahmanurraudhotul Amin, S.KM., yang ditugasi Theme 1: Primary Healthcare Strengthening NIHR UB, hadir untuk melakukan monitoring prosesi pemeriksaan dengan menggunakan checklist. Dokumentasi prosedural ini penting untuk memastikan standar pemeriksaan terpenuhi dan hasil yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Spirometri bukan sekadar tes pernapasan biasa. Ini adalah alat diagnostik objektif yang dapat mendeteksi dini penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), asma, dan gangguan pernapasan lainnya sebelum gejala memberat. Dengan deteksi dini, intervensi dapat dilakukan lebih cepat, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Meja 3: Tes Spirometri

Di tingkat komunitas seperti Desa Tamanagung, pemeriksaan spirometri massal seperti yang dilakukan dalam penelitian NIHR-GHRC NCD & EC ini  menjadi strategi efektif untuk memetakan beban penyakit pernapasan.

Seperti ujaran yang dilontarkan oleh James Nestor, seorang jurnalis Amerika yang pernah menulis untuk majalah Outside, Men’s Journal, Scientific American, Dwell, National Public Radio, The New York Times, The Atlantic, San Francisco Chronicle, dan lain-lain:

“Pilar kesehatan yang selama ini terabaikan adalah napas. Semuanya bermula dari sana.”

Dalam kutipan ini, ia mengingatkan kita bahwa setiap tarikan dan embusan adalah fondasi kehidupan yang sering dianggap remeh.

Meja 4: Apresiasi Kehadiran Responden

Di bawah terik Mentari di Banyuwangi, 24 warga Tamanagung telah mengambil langkah pertama, bukan sekadar mengikuti tes, melainkan merangkul hakikat paling mendasar dari keberadaan, yaitu mengukur napas, menggapai harapan.

Karena pada akhirnya, kesehatan bukan hanya tentang angka atau hasil laboratorium. Kesehatan adalah tentang pagi di mana kita bisa menarik napas dalam-dalam, mengisinya dengan harapan, dan mengembuskannya dengan syukur, seperti yang dilakukan oleh 24 warga Tamanagung di sebuah Jumat yang biasa, namun menjadi istimewa karena mereka memilih untuk peduli pada sesuatu yang tak terlihat, namun menghidupi, yaitu napas. *** [260926]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment