“Once again…welcome to my house. Come freely. Go safely; and leave something of the happiness you bring.” — Bram Stoker, Dracula
Kalimat Bram Stoker itu barangkali terlalu panjang untuk sebuah perjalanan kerja yang hanya berlangsung beberapa jam. Namun, untuk menyebut apa yang terjadi di Banyuwangi pada Rabu (23/09), kalimat itu terasa menemukan tempatnya, yaitu datang sebagai tamu, berkumpul sebagai rekan kerja, lalu pulang dengan membawa kembali cerita dan kehangatan dari orang-orang yang ditemui.
Pagi belum terlalu tinggi ketika Hilda Irawati, S.Stat., staf administrasi NIHR Universitas Brawijaya (UB), bersama Cornelia Feliciana Tedjomuljono, mahasiswi magang di NIHR UB, meninggalkan Malang. Dari Stasiun Malang Kotabaru, keduanya menaiki Kereta Api Ijen Ekspres pukul 07.50 WIB.
Perjalanan menuju Banyuwangi pun dimulai. Kereta membawa keduanya melintasi bentang Jawa Timur hingga akhirnya tiba di Stasiun Kalisetail sekitar pukul 14.01 WIB. Dari sana, perjalanan berlanjut menggunakan GoCar menuju basecamp Purwodadi di Jalan Alor, Dusun Tempurejo RT 02 RW 01, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi.
Sekitar pukul 15.45 WIB, Hilda dan Lia – sapaan Cornelia – tiba di basecamp. Waktu sudah bergeser menuju sore. Namun, aktivitas di basecamp belum benar-benar selesai. Field Facilitator NIHR UB yang bermarkas di sana menyambut keduanya. Sejumlah enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) dari beberapa desa juga telah lebih dahulu berkumpul. Ada enumerator dari Tamanagung, Kaliploso, Wringinrejo hingga Wringinagung.
Basecamp seketika berubah menjadi ruang perjumpaan. Tidak ada seremoni. Tidak ada panggung. Hanya orang-orang yang selama ini terhubung melalui pekerjaan lapangan, data, kontrak, dan informasi, kini berada di ruangan yang sama.

Hilda datang membawa urusan yang mesti diselesaikan. Di hadapan para enumerator, ia menyerahkan perjanjian kontrak baru untuk Desa Tamanagung. Pada saat yang sama, ia mengambil kembali perjanjian kontrak lama yang telah ditandatangani. Dokumen-dokumen itu mungkin tampak sederhana, tetapi di balik lembaran kertas tersebut terdapat rangkaian kerja lapangan yang panjang, seperti perjalanan ke desa, bertemu responden, mengisi kuesioner, memastikan data, dan menyelesaikan target.
Hilda juga menyampaikan informasi mengenai pembayaran bagi mereka yang telah menyelesaikan pekerjaan data collecting pada pertengahan September 2026. Di titik inilah percakapan menjadi lebih cair.
Field Facilitator NIHR UB turut membantu menjelaskan mekanisme pembayaran dengan memperkenalkan satu istilah yang akrab dalam tradisi kerja penelitian, yaitu prorata.
Secara sederhana, prorata merupakan perhitungan honorarium atau upah secara proporsional berdasarkan hari atau jam kerja aktual maupun beban target kuesioner yang berhasil diselesaikan, terutama ketika seseorang tidak bekerja penuh selama satu periode kontrak atau penugasan standar.
Penjelasan itu penting. Sebab bagi mereka yang bekerja di lapangan, kejelasan perhitungan bukan sekadar perkara angka. Ia menyangkut kepastian.
Dengan mekanisme yang dapat dijelaskan dan dihitung, enumerator maupun kader tidak perlu berada dalam situasi “tebak-tebak buah manggis”. Mereka dapat memahami bagaimana sebuah pembayaran dihitung berdasarkan pekerjaan yang benar-benar telah dilakukan.
Ada jalan tengah di sana di mana pekerjaan dihargai secara proporsional, sementara perhitungan dapat dibicarakan secara terbuka.
Setelah urusan kontrak dan cara penghitungan dimengerti, Hilda kembali memastikan satu hal untuk agenda berikutnya. Sejumlah amplop subsidi transportasi dititipkan ke Field Facilitator NIHR UB untuk mendukung pelaksanaan pemeriksaan spirometri.
Lalu, pekerjaan administratif itu berakhir. Waktunya makan. Hilda dan Lia, didampingi Field Facilitator NIHR UB serta dua enumerator baseline survey, Rahmanurraudhotul Amin, SKM dan Muhammad Wisnu Nafiri, S.E., bergerak menuju Rumah Makan Sego Lodeh Lombok Ijo Jajag.

Makan siang menjelang senja. Di meja makan, suasana berubah. Tidak lagi semata-mata tentang kontrak, pembayaran, target, atau pengumpulan data. Percakapan mengalir lebih santai. Sesekali makan, sesekali berbincang. Pertemuan yang sebelumnya bersifat administratif menjadi perjumpaan antarmanusia.
Dan mungkin, di situlah arti sebuah lawatan kerja menemukan bentuknya yang paling sederhana.
Selesai makan, waktu rupanya tidak mau berkompromi. Hilda dan Lia harus kembali ke Stasiun Kalisetail. GoCar segera dipesan. Kereta Api Ijen Ekspres yang akan membawa mereka kembali ke Malang dijadwalkan berangkat pukul 20.26 WIB.
Mereka pun bergegas. Banyuwangi kembali ditinggalkan ketika hari hampir sepenuhnya beranjak malam. Datang pada siang hari, berkumpul pada sore hari, menyelesaikan pekerjaan, makan bersama, lalu pulang pada malam hari.
Datang, kumpul, pulang. Begitulah kira-kira kisah Hilda dan Lia di Kabupaten Banyuwangi pada hari itu. Singkat, bahkan sekejap. Tetapi durasi tidak selalu menjadi ukuran bagi makna sebuah perjumpaan.
Sebab ada sesuatu yang memang lebih mudah tumbuh ketika orang hadir secara langsung, seperti percakapan yang tidak terputus oleh koneksi internet, bahasa tubuh yang terbaca tanpa kamera, spontanitas yang muncul tanpa ruang virtual, serta rasa kebersamaan yang terbentuk ketika orang-orang duduk dalam satu tempat dan berbagi waktu.
Platform digital seperti Zoom tentu memudahkan pekerjaan yang terbentang jauh. Namun, pertemuan tatap muka memiliki kelebihan alaminya sendiri. Informasi dapat dibagikan secara langsung, pertanyaan dapat segera ditanggapi, dan hubungan antarmanusia dapat dibangun melalui pengalaman bersama yang nyata.
Di Banyuwangi, Hilda tidak sekadar membawa dokumen. Ia membawa kabar, menjelaskan mekanisme, menitipkan kebutuhan untuk agenda berikutnya, dan bertemu dengan orang-orang yang selama ini menjadi bagian dari kerja penelitian NIHR UB di lapangan.

Sementara Lia, yang mendampinginya, ikut menyaksikan bagaimana sebuah pekerjaan penelitian tidak hanya berlangsung di balik layar komputer atau di antara baris-baris data. Ada perjalanan panjang, ada basecamp, ada enumerator, ada kader, ada percakapan, dan ada meja makan tempat orang-orang berbagi cerita setelah pekerjaan ditunaikan.
Barangkali karena itu, kutipan Bram Stoker (187-1912), seorang penulis novel horror gotik Dracula (1897) kelahiran Irlandia, terasa relevan untuk menutup perjalanan singkat tersebut:
“Sekali lagi… selamat datang di rumahku. Masuklah dengan leluasa. Pergilah dengan selamat; dan tinggalkanlah sebagian dari kebahagiaan yang kau bawa.”
Banyuwangi hari itu memang hanya menjadi persinggahan. Tetapi persinggahan tidak selalu berarti sekadar lewat. Ada yang datang. Ada yang menyambut. Ada yang berkumpul. Ada pekerjaan yang dituntaskan. Ada percakapan yang terjalin. Dan ketika akhirnya waktu memaksa untuk pulang, yang tertinggal bukan hanya dokumen yang berpindah tangan atau amplop subsidi transportasi yang dititipkan.
Ada kehangatan sebuah perjumpaan. Hanya beberapa jam di Banyuwangi, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa dalam kerja penelitian – di balik angka, kontrak, kuesioner, dan data – selalu ada manusia yang membuat semuanya bergerak.
Datang. Kumpul. Pulang. Sesederhana itu. Namun, justru di dalam kesederhanaan tersebut, sebuah lawatan kerja meninggalkan kesan. *** [250926]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo