“What can we do but keep on breathing in and out, modest and willing, and in our places?” – Mary Oliver
Di sebuah gang kecil di Dusun Gembolo RT 05 RW 02, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, sebuah rumah menghadap ke barat bersiap menyambut responden.
Rumah Sri Kartini pagi itu, Rabu (23/09) yang tenang, menjelma menjadi pos pemeriksaan spirometri keempat, sebuah agenda kolaboratif antara NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi.
Sejak pagi, tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) – Mega Wrida Silvia, SKM; Naylil Nur Amalya Putri, S.Sos.; dan Sinta Ningrum Widianingsih, SKM – sibuk menata alur pemeriksaan. Mereka tidak bekerja sendiri. Tiga kader kesehatan setempat, Rika Rahmatul, Roisatur Rodiyah, dan Yuli Wulandari, ikut membantu.

Di teras rumah, meja, kursi, dan babut biru telah tertata. Begitu personel RS Yasmin – dr. Andri Effendy, Fani Rahma S., A.Md.Kep., Ns. Nurul Maghfira, S.Kep., Ns. Yusi Ayu Permatasari, S.Kep., dan Yenni Rachmawati, A.Md.Kep. – tiba dan menyiapkan peralatan, pemeriksaan pun dimulai.
Hari itu, 25 responden hasil pre-screening diundang. Mereka adalah responden yang terdeteksi memiliki faktor risiko PPOK. Alur pemeriksaan dirancang cermat. Responden pertama diarahkan ke meja registrasi di sudut utara teras. Di sana, Naylil melakukan verifikasi.
Jika tidak ada antrean, responden langsung menuju ruang tamu. Jika ada antrean, mereka dipersilakan duduk di babut biru di sisi selatan. Sambil menunggu, enumerator dan kader berbagi trik serta tips teknik menyebul, sebuah bekal penting sebelum menjalani tes spirometri.

Sebutir napas, ternyata, menyimpan cerita tentang fungsi paru-paru. Tes spirometri mengukur seberapa banyak udara yang dapat diembuskan dalam satu kali embusan napas. Tes ini mendeteksi masalah paru-paru, dan kerap disebut tes fungsi paru.
Begitu dipanggil, responden masuk ke ruang tamu. Duduk di kursi sisi selatan, dekat pintu masuk, mereka menjalani pengukuran tekanan darah, oksimetri, dan anamnesis dalam lembaran kertas oleh Perawat Nurul.
Usai TTV (Tanda-Tanda Vital), responden bergeser ke meja spirometri. Di sana, dua perawat dan seorang dokter siap. Perawat Yenni memandu manuver, dibantu Perawat Yusi yang mengoperasikan laptop terhubung alat spirometri. dr. Andri memantau jalannya tes bersama Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang ditunjuk NIHR UB. dr. Andri juga memasukkan data anamnesis ke aplikasi SMARThealth.

Usai tes spirometri tahap 1 atau pre-nebulisasi, responden bergeser ke meja sebelah selatan. Di sana, Perawat Fani melakukan nebulisasi. Secara medis, nebulisasi mengubah cairan obat menjadi butiran uap halus yang dihirup pasien melalui masker atau mouthpiece. Obat pun langsung menuju saluran pernapasan dan paru-paru.
Selesai nebulisasi, responden mengikuti tes spirometri tahap 2 atau post-nebulisasi. Pola pemeriksaannya sama. Bila lancar, rangkaian alur berakhir. Responden kembali ke meja pendaftaran untuk mendapatkan konsumsi, vitamin, dan subsidi transportasi dari kader Roisatur, disaksikan enumerator Naylil. Setelah itu, mereka boleh pulang.
Dalam pemeriksaan keempat ini, Field Facilitator NIHR UB menyaksikan enumerator baseline survey Desa Kaliploso, Rahmanurraudhotul Amin, SKM, yang ditugasi dari Theme 1: Primary Healthcare Strengthening NIHR UB, mencatat prosesi dalam check list. Tampak bahwa responden perempuan umumnya diundang pagi hari, baru menyusul responden laki-laki.

Hingga pukul 13.23 WIB, 25 responden telah mendapatkan layanan. Namun, di akhir pemeriksaan, satu responden lansia laki-laki harus mengulang tes spirometri karena hasilnya tidak terbaca. Responden tersebut dijemput Rahman, dan kebetulan bersedia mengikuti ulang.
Ada keheningan yang menyentuh dalam setiap embusan napas yang terekam alat spirometri. Setiap angka yang muncul di layar laptop adalah potret kecil dari perjuangan seseorang untuk tetap bernapas dengan lega.
Di gang Gembolo, di bawah terik matahari Banyuwangi yang perlahan naik, pemeriksaan ini bukan sekadar prosedur medis. Ia adalah wujud kepedulian kolektif dari kolaborasi antara peneliti, tenaga kesehatan, kader, dan warga.

Mary Jane Oliver (1935-2019), penyair Amerika yang memenangkan Hadiah Pulitzer pada tahun 1984 dan Penghargaan Buku Nasional pada tahun 1992, pernah berujar:
“Apa lagi yang bisa kita lakukan selain terus menghirup dan mengembuskan napas, dengan sikap bersahaja dan penuh kerelaan, serta tetap berada di tempat kita masing-masing?”
Kutipan itu bagai mantra yang menguatkan setiap langkah di rumah Sri Kartini. Menghirup dan mengembuskan napas memang tindakan sederhana, tetapi bagi mereka yang berisiko PPOK, ia adalah perjuangan yang membutuhkan bantuan alat dan tangan-tangan terampil.
Spirometri keempat di Desa Purwodadi bukanlah akhir. Ia adalah bagian dari ikhtiar panjang menjaga paru-paru warga. Di gang sempit itu, harapan dihirup perlahan, lalu diembuskan dengan penuh syukur. Sebab, seperti kata Mary Oliver, kita hanya perlu terus bernapas, dengan bersahaja dan rela, di tempat kita masing-masing. *** [240926]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo