Giat Posyandu Anggur: Sebuah Kepedulian Kesehatan Warga Desa Bakalan

Do work that matters. Choose to participate in initiatives that will positively impact the world and help make a difference in your community.” — Germany Kent

Pagi menjelang siang di hari Selasa (03/02) itu, denyut kehidupan kesehatan warga Desa Bakalan terasa pelan tapi pasti. Setelah satu setengah jam menyimak denyut pelayanan di Posyandu ILP Mawar 1 Demangjaya 1, langkah seorang Field Facilitator dari Tim NIHR Universitas Brawijaya (UB) berlanjut ke Dusun Banjarsari 2, RT 01 RW 09. Sebuah panggilan telepon dari Perawat Ponkesdes Bakalan, Dian Pramono, A.Md.Kep., menjadi penanda bahwa roda pelayanan kesehatan di Posyandu Anggur telah siap berputar.

Di sebuah gedung sederhana berukuran sekitar 3 x 5 meter, tepat di depan Warung H. Mukhtar, kegiatan Posyandu Anggur digelar. Meski kecil, ruang itu pagi itu penuh makna. Delapan kader kesehatan dengan seragam khas – kaos hitam berlengan panjang oranye, kuning, dan hitam, dipadu kerudung oranye – tampak sigap membantu bidan dan perawat dalam pelaksanaan Integrasi Layanan Primer (ILP). Kegiatan ini menurut salah seorang kader dimulai pukul 08.30 WIB, seiring matahari yang mulai menghangatkan Desa Bakalan.

Giat Posyandu Anggur: Sebuah Kepedulian Kesehatan Warga Desa Bakalan
Giat Posyandu Anggur di Dusun Banjarsari 2 RT 01 RW 09 Desa Bakalan, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang

Warga datang secara mbanyu mili – mengalir pelan, datang dan pergi tanpa kerumunan. Letak gedung posyandu yang lebih tinggi dari jalan membuat setiap pengunjung harus menapaki undakan kecil.

Begitu melewati anak tangga, mereka langsung disambut meja pendaftaran. Di sana, kader Lilik Nur Aini dan Yulyani Indah S dengan ramah melayani registrasi. Satu meja untuk ibu hamil dan balita, satu meja lainnya khusus lansia. Alur pelayanan tertata rapi, sederhana namun efektif.

Dari pendaftaran, warga berlanjut ke layanan pengukuran antropometri. Kader Dewi Mafro’un telaten mengukur balita, sementara Nurul Mualifah menangani penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, dan lingkar perut. Khusus lansia, pemeriksaan tekanan darah dilakukan oleh kader Luluk Mukarromah. Setiap sentuhan tangan kader adalah wujud kepedulian yang nyata, bukan sekadar rutinitas, melainkan pengabdian.

Pemberian vitamin A bagi balita

Usai pengukuran, warga memasuki ruang pemeriksaan. Ibu hamil dan balita bertemu Bidan Etty Retno Rianawati, A.Md.Keb., untuk pemeriksaan sekaligus konseling. Lansia berhadapan dengan Perawat Dian Pramono, A.Md.Kep., yang tak hanya memeriksa, tetapi juga mendengarkan keluhan dan memberi arahan.

Pemeriksaan gula darah dilakukan langsung oleh Perawat Pram. Bila hasil pengukuran tensi atau kadar gula menunjukkan angka tinggi, obat pun diberikan secara cuma-cuma. Sebuah pelayanan yang hadir tanpa jarak, tanpa beban.

Setelah semua tahapan dilalui, warga menerima Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dari kader Widiawati – penutup yang sederhana namun bermakna. Seluruh rangkaian kegiatan tak luput dari dokumentasi kader Dzifiatur R, menjadi catatan penting sekaligus bukti kerja kolektif para pejuang kesehatan desa.

Ruang Pemeriksaan Tenaga Kesehatan Ponkesdes Bakalan dalam giat Posyandu Anggur

Menjelang pukul 11.38 WIB, layanan Posyandu Anggur rampung. Rekapitulasi menunjukkan hasil yang menggembirakan. Dari target 8 ibu hamil, 4 hadir; dari 51 balita, 46 terperiksa; dan dari 60 lansia, 56 datang memeriksakan diri.

Angka-angka itu bukan sekadar statistik, melainkan cermin kesadaran warga akan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin, serta bukti bahwa Posyandu Anggur hidup dan dipercaya.

Di balik kelancaran kegiatan ini, ada jerih payah kader yang bekerja dengan hati. Seperti kata Germany Kent, seorang professional media, penulis, dan produser di Los Angeles, California, Amerika Serikat:

“Lakukan pekerjaan yang bermakna. Pilihlah untuk berpartisipasi dalam inisiatif yang akan memberikan dampak positif bagi dunia dan membantu membuat perbedaan di komunitas Anda.”

Papan Kegiatan di dalam Gedung Posyandu Anggur

Kutipan itu seakan menjelma nyata di Posyandu Anggur. Pada setiap senyum kader, setiap catatan pemeriksaan, dan setiap langkah kecil yang bersama-sama menjaga kesehatan Desa Bakalan.

Pada akhirnya, Posyandu Anggur bukan sekadar ruang pelayanan, melainkan ruang temu harapan. Di sana, kader belajar menajamkan empati dan menguatkan makna pengabdian; tenaga kesehatan merawat kepercayaan yang tumbuh dari kedekatan dan kehadiran; sementara warga Dusun Banjarsari 2 menemukan rasa aman karena kesehatan mereka diperhatikan bersama.

Seperti aliran air yang terus bergerak tanpa gaduh, giat Posyandu Anggur mengikat peran-peran itu dalam satu kesadaran kolektif, bahwa menjaga kesehatan adalah kerja bersama, dilakukan dengan ketulusan, dan memberi manfaat yang terasa jauh melampaui angka-angka pemeriksaan. *** [040226]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment