Membersamai Enumerator COM-B di Desa Krebet

Air Pollution

Starting strong is good. Finishing strong is epic.” — Robin Sharma

Di sela-sela menghadiri giat ILP (Integrasi Layanan Prima) di Posyandu Manggis, Dusun Bulupayung RT 39 RW 07 Desa Krebet, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Field Facilitator NIHR UB menyempatkan diri mendampingi dan menyaksikan prosesi wawancara enumerator COM-B.

Suasana posyandu pagi itu cukup ramai. Para ibu mengantre pemeriksaan, kader kesehatan sigap membantu, dan di antara aktivitas layanan, proses pengumpulan data penelitian berlangsung dengan tenang namun terarah.

Membersamai Enumerator COM-B di Desa Krebet
Field Facilitator NIHR UB menyaksikan jalannya wawancara COM-B di sela-sela menghadiri giat ILP Posyandu Manggis di Dusun Bulupayung, Desa Krebet, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang

Dikutip dari laman The Decision Lab, model COM-B adalah kerangka kerja perilaku yang menyatakan bahwa perilaku (B/Behaviour) terjadi akibat interaksi antara tiga komponen, yaitu Capability (Kemampuan), Opportunity (Kesempatan), dan Motivation (Motivasi).

Model ini dikembangkan oleh Susan Michie, Maartje van Stralen, dan Robert West pada tahun 2011 untuk memahami perilaku sekaligus merancang intervensi perubahan perilaku yang efektif. Kerangka ini menjadi fondasi penting dalam penelitian, termasuk dalam proses pengumpulan data di tingkat desa seperti yang berlangsung hari itu.

Kamis (12/02), enumerator Amanda Dewanata Puteri, S.AP turut menghadiri giat ILP Posyandu Manggis sekaligus menjumpai target respondennya untuk diwawancarai. Responden diperoleh melalui proses sampling dari data Household (HH) Listing, sehingga sasaran sudah jelas dan terpetakan. Strategi lapangan menjadi kunci.

Pemasangan stiker responden ketiga oleh enumerator

Neng Amanda – sapaan akrabnya – yang berasal dari Cirebon, piawai membaca situasi. Ia memahami bahwa posyandu bukan sekadar ruang layanan kesehatan, tetapi juga ruang temu warga. Dengan menghadiri kegiatan Posyandu Manggis, ia dapat menjangkau beberapa responden dalam satu waktu.

Kedekatannya dengan kader kesehatan turut mempermudah akses dan membangun kepercayaan. Relasi sosial di lapangan, sebagaimana dalam konsep Opportunity pada COM-B, menjadi pintu masuk bagi keberhasilan pengumpulan data.

Hasilnya nyata. Di sela layanan pemeriksaan ILP, Amanda berhasil mewawancarai tujuh orang responden. Seluruh responden yang telah diwawancarai juga ditempeli stiker sebagai penanda.

Wawancara dengan responden keempat

Ada kalanya stiker ingin dititipkan kepada responden untuk dipasang sendiri, namun Field Facilitator NIHR UB menyarankan agar enumerator yang menempelkannya langsung guna memastikan validitas dan ketertiban administrasi lapangan.

Dari pengamatan Field Facilitator NIHR UB, Amanda menunjukkan teknik probing yang baik. Ia mampu menggali jawaban secara mendalam tanpa mengarahkan, menjaga netralitas, dan tetap ramah.

Materi wawancara yang terkumpul sesuai dengan ekspektasi instrumen penelitian. Di sinilah Capability dan Motivation bertemu antara kompetensi teknis yang terlatih serta semangat menjaga kualitas data.

Pemasangan stiker di rumah responden keempat

Pernik-pernik lapangan memang gampang-gampang susah. Dinamika responden, waktu yang terbatas, hingga situasi sosial yang tak selalu bisa diprediksi menuntut ketahanan dan ketelitian.

Karena itu, sejak masa pelatihan hingga turun lapangan, setiap enumerator perlu dipantau dan didampingi. Pendampingan bukan sekadar supervisi, tetapi bagian dari manajemen mutu penelitian.

Dalam manajemen lapangan penelitian, terutama yang berdonatur asing – RAND Corporation, CCPR UCLA, USAID, World Bank, Palladium, dan lain-lain – completion rate menjadi indikator penting. Field Facilitator terbiasa menjaga completion rate minimal 90 persen. Namun, demi rasa aman agar peneliti yang menganalisis data tidak “ketar-ketir”, angka 94 persen kerap dijadikan patokan internal.

Enumerator menyusuri gang sempit untuk memasang stiker responden kelima

Membersamai Amanda di Desa Krebet menghadirkan optimisme tersendiri. Dengan strategi yang tepat, kemampuan probing yang terasah, serta jejaring sosial yang terbangun, target sasaran di desa ini tampak berada di jalur yang benar. Tentu, konsistensi menjadi kunci. Skill lapangan harus tetap terjaga dan tidak kendor.

Sebagaimana kutipan inspiratif dari Robin Sharma, seorang penulis Kanada, terkenal karena seri bukunya The Monk Who Sold His Ferrari (1996):

“Memulai dengan baik itu bagus. Mengakhiri dengan baik itu luar biasa.”

Dalam kerja data collecting, memulai dengan semangat adalah langkah awal. Namun menjaga ritme, kualitas, dan capaian hingga garis akhir – itulah yang menjadikan sebuah proses penelitian benar-benar bermakna. *** [130226]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment