“There is no power for change greater than a community discovering what it cares about.” — Margaret J. Wheatley
Pagi itu, Kamis (12/02), langkah Field Facilitator NIHR UB yang semula hendak menuju Balai Desa Pujon Kidul untuk menghadiri kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk The Impact of Air Pollution Due to Open Waste Burning on Cardiovascular Health in Rural Pedesaan, mendadak berbelok arah.
Sebuah kabar dari kader Lilik Ati mengubah rencana, karena Ketua TP PKK Kecamatan Bululawang dijadwalkan hadir dalam giat Integrasi Layanan Primer (ILP) Posyandu Manggis di Dusun Bulupayung RT 39 RW 07, Desa Krebet, Kabupaten Malang.
Di halaman rumah Kamituwo Bulupayung, H. Saiful – lokasi kegiatan digelar – suasana sudah menggeliat sejak pukul 08.00 WIB. Tujuh kader berseragam rapi tampak sigap menyambut warga. Wajah mereka memancarkan semangat, seolah kunjungan hari itu menjadi energi tambahan dalam rutinitas pengabdian yang mereka jalani.

Posyandu Manggis pagi itu bukan sekadar tempat timbang balita. Ia menjelma ruang temu lintas generasi. Hadir perangkat desa M. Halim, Tim Pendamping Keluarga (TPK), enumerator COM-B Baseline, hingga dua personel MBG (Makan Bergizi Gratis), menyatu dalam satu ikhtiar: mendekatkan layanan kesehatan ke jantung masyarakat.
Melalui skema ILP (Integrasi Layanan Primer), pemerintah mendorong transformasi layanan kesehatan yang lebih inklusif. Tak hanya balita dan ibu hamil, remaja, dewasa, hingga lansia pun mendapat ruang pemeriksaan dan edukasi kesehatan. Di sinilah kesehatan menjadi urusan bersama, bukan sekadar program formal.
Empat meja pelayanan tertata rapi, menjadi alur yang dilalui warga. Di meja pertama, Winarti Anisah menyambut setiap warga yang datang untuk registrasi. Meja kedua dipenuhi aktivitas penimbangan dan pengukuran. Lilis Mufidah dengan telaten mengukur tinggi badan dan lingkar kepala bayi dan balita, sementara Titik Hamzah melayani remaja hingga lansia, termasuk mengukur lingkar perut sebagai deteksi risiko penyakit metabolik.

Meja ketiga menjadi ruang sunyi yang serius, yakni pengukuran tekanan darah oleh Ismatul Izzah dan Izzah Istinaroh. Satu per satu lansia duduk, lengan mereka dipasangi manset tensimeter, berharap angka yang muncul bersahabat.
Tahap terakhir adalah pelayanan kesehatan. Awalnya digelar di halaman depan, lalu dipindah ke ruang tamu rumah kamituwo agar lebih nyaman. Bidan Avanti Roslina, A.Md.Keb., menangani ibu hamil, bayi, dan balita. Sementara Perawat Eka Ilham Adi Waluyo, A.Md.Kep., melayani remaja hingga lansia. Usai pemeriksaan, warga menerima Pemberian Makanan Tambahan (PMT) serta penyuluhan ringan dari kader Lilik Ari dan Jumaroh.
Di sela kesibukan itulah, Ketua TP PKK Kecamatan Bululawang, Avi Hanindyo, hadir. Kunjungannya memang singkat, namun kehadirannya terasa hangat. Ia menyempatkan diri berfoto bersama para kader, menyapa warga, bahkan menyerahkan vitamin A kepada beberapa balita dengan senyum yang tak dibuat-buat.

Bagi para kader, momen itu lebih dari sekadar dokumentasi. Ia adalah pengakuan. Ia adalah dukungan moral. Ia adalah tanda bahwa kerja-kerja sunyi mereka diperhatikan.
Sebagaimana dikatakan Margaret J. Wheatley, seorang penulis, guru, pembicara, dan konsultan manajemen Amerika yang berupaya menciptakan organisasi dan komunitas yang layak huni:
“Tidak ada kekuatan untuk perubahan yang lebih besar daripada sebuah komunitas yang menemukan apa yang mereka pedulikan.”
Di halaman rumah mentereng itu, kutipan tersebut menemukan wujudnya. Kepedulian yang sama terhadap kesehatan warga menyatukan kader, tenaga kesehatan, perangkat desa, hingga TP PKK dalam satu tarikan napas pengabdian.

Turut hadir pula TPK Nuryani dan Siti Khodijah yang melakukan turba (turun ke bawah) sebagai bagian dari pembinaan dan pemantauan 10 Program Pokok PKK, khususnya dalam upaya percepatan penurunan stunting. Kunjungan lapangan seperti ini menjadi penguat jejaring, memastikan program tak berhenti di tataran administrasi.
Pukul 11.10 WIB, pendaftaran layanan ditutup. Rekapitulasi menunjukkan 3 ibu hamil, 30 balita, dan 49 lansia telah mendapatkan layanan hari itu. Angka-angka itu mungkin tampak sederhana. Namun di baliknya ada cerita tentang deteksi dini, tentang pencegahan, tentang harapan hidup yang lebih baik.
Kunjungan singkat Ketua TP PKK Kecamatan Bululawang mungkin hanya sekejap dalam hitungan waktu. Namun bagi kader Posyandu Manggis, ia melekat lebih lama – menjadi bahan bakar semangat untuk terus melayani, terus peduli, dan terus menjaga denyut kesehatan di Dusun Bulupayung. *** [120226]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo