Mengantar Surat, Menjalin Jejak Kolaborasi

To send a letter is a good way to go somewhere, without moving anything but your heart.” — Phyllis Theroux

Ada kalanya sebuah perjalanan dimulai bukan dengan langkah yang panjang, melainkan dengan selembar surat. Surat yang dibawa dengan tangan, disampaikan dengan senyum, lalu membuka ruang percakapan yang mungkin tak pernah direncanakan sebelumnya.

Sehari setelah tiba di basecamp Tim Enumerator Baseline Survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) di Jalan Pahlawan, Dusun Sumberwaru RT 01 RW 06, Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Field Facilitator NIHR UB memulai agenda penting sebelum pelaksanaan pengambilan data berlangsung.

Bukan membawa kuesioner ataupun perangkat penelitian, melainkan surat izin pelaksanaan baseline survey yang harus disampaikan langsung kepada empat puskesmas di wilayah enumeration area.

Dalam dua hari berturut-turut, perjalanan itu menjadi lebih dari sekadar mengantar dokumen. Ia berubah menjadi ruang silaturahmi, perkenalan, sekaligus membangun kepercayaan dengan para mitra pelayanan kesehatan yang kelak menjadi bagian penting dari perjalanan riset.

Hari pertama, Jumat (19/06), langkah diarahkan menuju UPTD Puskesmas Benculuk dan UPTD Puskesmas Tampo. Di wilayah kerja Puskesmas Benculuk terdapat dua desa yang menjadi enumeration area penelitian, yakni Desa Tamanagung dan Desa Sarimulyo. Sementara itu, Desa Kaliploso berada dalam wilayah kerja Puskesmas Tampo.

Keesokan harinya, Sabtu (20/06), perjalanan berlanjut menuju UPTD Puskesmas Jajag dan UPTD Puskesmas Gambiran. Seperti hari sebelumnya, Field Facilitator didampingi Enumerator Desa Tamanagung. Di bawah naungan Puskesmas Jajag terdapat Desa Wringinagung dan Desa Purwodadi sebagai wilayah penelitian, sedangkan Desa Wringinrejo menjadi bagian dari wilayah kerja Puskesmas Gambiran.

Diajak berpose bersama Kapus Gambiran di halaman depan Puskesmas Gambiran, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi

Empat puskesmas telah disinggahi, empat surat telah disampaikan. Namun dari seluruh kunjungan tersebut, hanya satu yang menghadirkan kesempatan bertemu langsung dengan kepala puskesmas. Kesempatan itu hadir di Puskesmas Gambiran.

Di ruang kerja yang menempati bangunan lama dengan nuansa heritage – yang dahulu, menurut cerita, merupakan rumah dinas seorang mantri polisi – Field Facilitator NIHR UB disambut hangat oleh Kepala UPTD Puskesmas Gambiran, dr. Yos Hermawan.

Suasana ruang yang sederhana justru menghadirkan kesan akrab. Sebuah percakapan yang awalnya dimulai dari isi surat perlahan berkembang menjadi diskusi yang lebih luas mengenai kesehatan masyarakat.

dr. Yos Hermawan, yang memimpin UPTD Puskesmas Gambiran sekaligus membawahi wilayah Jajag, dikenal aktif dalam berbagai program kesehatan masyarakat. Ia juga pernah mengemban amanah sebagai Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Banyuwangi periode 2016–2022.

Setelah mendapat penjelasan mengenai tujuan dan pelaksanaan penelitian NIHR-GHRC NCDs & EC, dr. Yos kemudian berbagi cerita mengenai salah satu program yang baru saja diluncurkan, yakni program DEKSI (Desa/Kelurahan Sehat Iklim).

Program yang diluncurkan di Desa Wringinrejo pada Rabu (17/06) tersebut bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat desa dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Melalui pendekatan partisipatif, DEKSI mendorong masyarakat untuk melakukan aksi adaptasi sehingga berbagai penyakit sensitif iklim seperti demam berdarah, malaria, diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga berbagai risiko kesehatan lainnya dapat dicegah sedini mungkin.

Percakapan itu memperlihatkan bahwa penelitian dan program pelayanan kesehatan sesungguhnya berjalan pada jalur yang saling beririsan. Keduanya sama-sama berangkat dari keinginan memahami persoalan kesehatan masyarakat agar dapat menghasilkan solusi yang lebih tepat sasaran.

Bermula dari mengantar surat izin data coleccting baseline survey, menjadi diskusi

Di sela diskusi, Field Facilitator NIHR UB juga diperkenalkan kepada Koordinator Kesehatan Lingkungan (Kesling) Puskesmas Gambiran, Ulwi. Perkenalan singkat tersebut menjadi awal terbentuknya jejaring komunikasi yang akan mendukung pelaksanaan penelitian di lapangan.

Suasana semakin cair ketika pandangan dr. Yos tertuju pada nama salah satu peneliti yang tercantum dalam surat, dr. Asri Maharani, MMRS, Ph.D. Rupanya nama itu tidak asing baginya. Ia mengenal dr. Asri sebagai sosok yang energik dan visioner.

Kesamaan jejaring profesional itu seolah menjadi jembatan yang mempererat perbincangan. Apa yang semula merupakan kunjungan administratif berubah menjadi dialog yang penuh keakraban, saling berbagi pengalaman, sekaligus memperkuat semangat kolaborasi.

Bahkan ketika waktu berpamitan tiba, percakapan belum benar-benar ingin berakhir. Sebelum meninggalkan halaman puskesmas, Field Facilitator NIHR UB diajak berfoto bersama di depan bangunan Puskesmas Gambiran, sebuah penutup sederhana yang mengabadikan awal dari kerja sama yang diharapkan terus bertumbuh.

Perjalanan mengantar empat surat itu mungkin hanya berlangsung dua hari. Namun makna yang dibawanya jauh melampaui fungsi selembar kertas. Setiap surat menjadi pembuka pintu, setiap kunjungan menjadi awal perkenalan, dan setiap percakapan menjadi fondasi kepercayaan.

Seperti ungkapan Phyllis Theroux, seorang penulis esai, kolumnis, guru, dan penulis asal Amerika:

“Mengirim surat adalah cara yang baik untuk pergi ke suatu tempat, tanpa menggerakkan apa pun kecuali hatimu.”

Di Banyuwangi, surat-surat itu tidak hanya menghubungkan institusi, tetapi juga mempertemukan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama, yaitu menghadirkan penelitian yang bermakna bagi kesehatan masyarakat. *** [120726]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment