Menjadi Bagian dari Cerita: Persiapan Etnografi Menyelami Praktik Pengelolaan Sampah di Kabupaten Malang

Air Pollution

“[…] ethnography is what you do when you try to understand people by allowing their lives to mold your own as fully and genuinely as possible.” — Matthew Desmond, Evicted: Poverty and Profit in the American City

Pukul sebelas siang itu, suasana di Ruang Kelas 401, Lantai 4 Gedung A (GPP) Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya belum benar-benar usai. Seminar hasil sementara penelitian kuantitatif (baseline survey) tentang perilaku lingkungan dalam pengelolaan sampah baru saja ditutup, tetapi energi di ruangan justru beralih arah, dari memaparkan angka menuju menyelami kehidupan.

Tanpa jeda panjang, kursi-kursi tetap terisi. Layar presentasi masih menyala. Namun, fokus hari itu berubah. Bukan lagi grafik dan persentase, melainkan manusia dengan kebiasaan, alasan, dan cerita yang tak selalu bisa dihitung. Di titik itulah persiapan pengambilan data penelitian kualitatif (etnografi) dimulai.

Tim Enumerator Etnografi berpose dengan Tim Sosiologi UB, CEI dan Field Facilitator NIHR UB

Tim Enumerator COM-B, yang sebelumnya bergelut dengan kuesioner dan angka, kini bersiap mengenakan “peran baru.” Mereka akan menjadi Enumerator Etnografi, bukan sekadar pengumpul data, tetapi juga pengamat, pendengar, bahkan bagian dari kehidupan masyarakat di enam desa yang menjadi enumeration area (EA) di Kabupaten Malang.

Selama lima bulan ke depan, mereka tidak hanya datang dan pergi. Mereka akan tinggal, berbaur, dan perlahan memahami bagaimana masyarakat memaknai keseharian mereka, termasuk soal yang tampak sederhana, yaitu membakar sampah.

Dalam pembekalan itu, Dr. phil. Anton Novenanto, S.Sos., M.A. – yang akrab disapa Nino – membuka sesi dengan refleksi dari temuan orientasi lapangan. Ia juga memperkenalkan satu wajah baru dalam tim, Syifa Mawadati, S.Sos., yang akan menggantikan rekan sebelumnya yang masih dalam masa pemulihan pascakecelakaan saat pengumpulan data di Banyuwangi.

Namun, inti dari sesi tersebut bukan sekadar perkenalan. Dr. Nino mengajak tim untuk menggeser cara pandang.

Koordinator COM-B berikan refleksi temuan orientasi lapang bagi Tim Etnografi yang bakal turun lapang

Baginya, tindakan membakar sampah tidak bisa dilihat sebagai satu perilaku tunggal yang berdiri sendiri. Ia mengurai praktik itu dengan pendekatan yang sederhana, tetapi tajam dengan menggunakan elemen dasar jurnalistik: what, who, when, where, dan why.

Apa yang dibakar? Daun kering atau plastik?

Siapa yang melakukannya? Ayah, ibu, atau anak?

Kapan kebiasaan itu terjadi—pagi, siang, atau malam?

Di mana pembakaran berlangsung? Dan yang paling penting: mengapa itu dilakukan?

“Kita tidak bisa menggeneralisasi perilaku membakar sampah itu sebagai perilaku tunggal, melainkan kompleks,” ujarnya. “Kalau kita tahu kompleksitasnya, kita akan mampu memahaminya, dan dari sana, perubahan perilaku bisa mulai dibayangkan.”

Penekanan pada konteks menjadi kunci. Upaya mengurangi pembakaran sampah, seperti melalui pemberdayaan bank sampah oleh NIHR UB, tidak bisa hanya mengandalkan solusi teknis. Ia membutuhkan pemahaman mendalam tentang alasan di balik setiap tindakan.

Suasana pembekalan Tim Etnografi di Ruang Kelas 401, Lantai 4 Gedung A (GPP) Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Sesi kemudian dilanjutkan oleh Ayu Aprilia Ningsih, S.Sos., yang menautkan pendekatan etnografi dengan temuan baseline survey COM-B. Ia menegaskan bahwa etnografi bukan sekadar pelengkap, melainkan ruang untuk mengonfirmasi sekaligus memperdalam hasil kuantitatif.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan di lapangan nanti tetap berakar pada model COM-B sebagai kerangka yang menjelaskan perilaku melalui tiga komponen utama, yaitu kemampuan (capability), kesempatan (opportunity), dan motivasi (motivation). Namun, dalam etnografi, ketiganya tidak lagi hadir sebagai variabel kaku, melainkan sebagai cerita hidup yang saling berkelindan.

Di sinilah peran enumerator berubah secara fundamental. Mereka tidak hanya mencatat jawaban, tetapi juga menangkap makna.

Pembekalan siang itu berakhir pukul 13.00 WIB, ditutup dengan foto bersama, sebuah momen sederhana yang menandai awal perjalanan Panjang, yakni lima bulan tinggal di tengah masyarakat, menyelami ritme hidup yang berbeda, dan belajar melihat dunia dari sudut pandang orang lain.

Salah seorang Pengawas Lapangan berikan orientasi temuan lapangan bagi Tim Etnografi

Seperti yang pernah diungkapkan oleh Matthew Desmond, Profesor Sosiologi Maurice P. During dan Direktur Eviction Lab di Universitas Princeton yang dikenal sebagai ilmuwan sosial dan etnografi perkotaan di Amerika Serikat, dalam Evicted: Poverty and Profit in the American City (2016):

“[…] etnografi adalah apa yang Anda lakukan ketika Anda mencoba memahami orang dengan membiarkan kehidupan mereka membentuk kehidupan Anda sendiri sepenuhnya dan seotentik mungkin.”

Kalimat itu seolah menjadi cermin bagi perjalanan yang akan mereka tempuh. Karena pada akhirnya, etnografi bukan hanya tentang mengamati kehidupan orang lain, tetapi tentang kesediaan untuk ikut berubah di dalamnya. *** [060526]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment