Menajamkan Arah Intervensi: Membaca Temuan Awal Baseline Survey Perilaku Pengelolaan Sampah di Kabupaten Malang

Pemahaman terhadap temuan awal dalam penelitian kuantitatif berupa baseline survey menjadi langkah krusial dalam merancang intervensi yang efektif dan tepat sasaran. Dalam konteks perilaku lingkungan terkait pengelolaan sampah di Kabupaten Malang, hasil awal ini berfungsi sebagai alat diagnosis untuk mengidentifikasi pendorong utama perilaku masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, intervensi yang dirancang tidak hanya berbasis asumsi, tetapi berangkat dari realitas empiris yang mencerminkan kondisi kemampuan, peluang, dan motivasi masyarakat sasaran.

Seminar hasil sementara baseline survey yang dilakukan oleh Tim Sosiologi perihal COM-B diselenggarakan pada Selasa, 5 Mei, di Ruang Kelas 401, Lantai 4 Gedung A (GPP), Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang (FKUB).

Kegiatan yang berlangsung selama satu setengah jam ini menjadi forum penting untuk memaparkan kuantifikasi jawaban responden yang dihimpun di lapangan. Presentasi disampaikan oleh Koordinator Lapangan COM-B, Yuf Tarosur Rohmah, S.Sos., M.A., di hadapan Prof. Dr.dr. Sri Andarini, M.Kes., Sp.KKLP (NIHR UB Head), para peneliti, Tim NIHR UB dari berbagai tema, serta para enumerator yang terlibat langsung dalam pengumpulan data.

Koordinator COM-B paparkan hasil temuan sementara dalam pengumpulan data mengenai Perilaku Lingkungan tentang Pengelolaan Sampah di Kabupaten Malang

Paparan tersebut mengungkap bahwa temuan awal tidak sepenuhnya berbeda dengan hasil eksplorasi sebelumnya melalui metode photovoice dan circle communication. Namun, pendekatan kuantitatif memberikan dimensi baru berupa representasi numerik yang memperjelas pola persepsi masyarakat.

Salah satu sorotan yang menjadi fokus Field Facilitator NIHR UB yang turut hadir di acara ini, terletak pada variabel terkait keseriusan masyarakat dalam menanggapi risiko kesehatan dan lingkungan akibat pembakaran sampah plastik, serta persepsi mengenai tanggung jawab rumah tangga dalam melindungi komunitas.

Data menunjukkan adanya dinamika yang cukup kontras. Di satu sisi, persepsi masyarakat terhadap tingkat keseriusan risiko masih terfragmentasi. Kategori “Serius” dan “Cukup serius” memang mendominasi, tetapi proporsi responden yang menganggap risiko tersebut “Tidak serius” juga tergolong signifikan. Hal ini mengindikasikan adanya celah dalam pemahaman risiko yang berpotensi memengaruhi perilaku pengelolaan sampah.

Suasana Seminar Hasil Sementara Penelitian Data Kuantitatif (Baseline Survey) COM-B di Ruang Kelas 401, Lantai 4 Gedung A (GPP), FKUB

Di sisi lain, terdapat kecenderungan yang lebih konsisten dalam hal tanggung jawab. Mayoritas responden menyatakan bahwa perlindungan terhadap lingkungan dan kesehatan komunitas merupakan tanggung jawab rumah tangga. Tingginya tingkat persetujuan ini menunjukkan adanya modal sosial yang kuat untuk mendorong perubahan perilaku, meskipun belum sepenuhnya diiringi oleh kesadaran risiko yang merata.

Temuan ini menjadi landasan penting dalam merancang intervensi yang adaptif. Dalam sesi lanjutan, Koordinator Intervensi CARE, Sekar Aqila Salsabilla, S.AP., M.AP., mempresentasikan desain program CARE (Community and Household Assistance for Reducing Plastic Waste Burning with Enhanced Waste Management). Intervensi ini dirancang sebagai pendekatan komprehensif untuk mengatasi permasalahan pembakaran sampah plastik, khususnya di wilayah pedesaan.

CARE mencakup tiga komponen utama: penguatan regulasi di tingkat desa, penyediaan fasilitas pengelolaan sampah, serta edukasi dan pelatihan bagi masyarakat dan kader lingkungan. Implementasinya akan melibatkan tim multidisiplin yang bertanggung jawab atas keseluruhan siklus intervensi, mulai dari perancangan hingga evaluasi.

Koordinator Intervensi CARE paparkan agendanya di lapangan

Dalam praktiknya, kader lingkungan akan menjadi aktor kunci di tingkat komunitas, berperan dalam pelatihan, pengelolaan bank sampah, serta mobilisasi partisipasi masyarakat melalui forum sosial dan keagamaan.

Dengan adanya pemaparan ini, tim etnografi yang akan terjun ke lapangan diharapkan mampu menyelaraskan perspektifnya dengan temuan kuantitatif yang telah ada. Integrasi antara data kuantitatif dan pendekatan kualitatif diharapkan dapat memperkaya pemahaman terhadap konteks sosial masyarakat, sekaligus mempertajam strategi intervensi yang akan dijalankan.

Secara keseluruhan, seminar hasil sementara ini tidak hanya berfungsi sebagai forum diseminasi data, tetapi juga sebagai titik temu antara evidensi ilmiah dan perencanaan aksi. Melalui pembacaan yang cermat terhadap temuan awal, upaya perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Malang memiliki peluang lebih besar untuk berjalan efektif, terarah, dan berkelanjutan. *** [060526]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment