Merawat Konsistensi, Menuai Perubahan: Kisah Berkelanjutan Posyandu Anggrek 2 Kepanjen

The ability to change constantly and effectively is made easier by high-level continuity.” — Michael Porter

Pagi itu, halaman Balai RW 01 di Kelurahan Kepanjen tampak hidup seperti biasa. Sabtu (2/5) belum lama dimulai, tetapi denyut aktivitas kesehatan masyarakat sudah terasa. Di ruang sederhana itulah, Posyandu Anggrek 2 kembali menjalankan rutinitasnya. Sebuah rutinitas yang, jika ditarik ke belakang, adalah hasil perjalanan panjang sejak program SMARThealth Extend Indonesia diperkenalkan di Kabupaten Malang pada 9 November 2016.

Apa yang dulu bermula sebagai Posbindu biasa, perlahan bertransformasi. Dari Posbindu konvensional, beralih menjadi Posbindu berbasis SMARThealth, hingga kini menjelma sebagai Posyandu ILP (Integrasi Layanan Primer). Sebuah evolusi yang bukan sekadar perubahan nama, melainkan penguatan cara pandang terhadap layanan kesehatan dasar yang lebih dekat, lebih menyeluruh, dan lebih berkesinambungan.

Di Posyandu ILP Anggrek 2, layanan kesehatan tidak lagi terfragmentasi. Semua siklus hidup dirangkul dalam satu alur pelayanan, mulai dari ibu hamil, bayi, balita, remaja, usia produktif, hingga lansia. Pagi itu, alur layanan berjalan rapi dan terstruktur, digerakkan oleh lima kader yang sudah terbiasa bekerja dalam harmoni.

Kader sedang merekap yang disaksikan oleh bidan Ponkesdes Panji Husada dan pesonil Tim SMARThealth UB

Di meja pertama, kader Indri Astutik menyambut warga dengan pencatatan pendaftaran. Senyum dan sapaan ringan menjadi pintu masuk yang membuat warga merasa nyaman. Berlanjut ke meja kedua, Na’maul Jazilah melakukan pengukuran antropometri, seperti tinggi badan, berat badan, lingkar perut untuk dewasa, dan lingkar kepala untuk balita. Setiap angka yang dicatat bukan sekadar data, melainkan potret kondisi kesehatan masyarakat.

Di tahap berikutnya, kader Agustin Shintowati memeriksa tekanan darah dan kadar gula darah. Proses ini menjadi kunci dalam mendeteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular (PTM), yang sering kali datang tanpa gejala. Semua hasil kemudian dirangkum dengan teliti oleh kader Wiwik Setyo Anggraeni di meja ketiga, yaitu meja pencatatan.

Puncak layanan berada di meja keempat. Di sini, bidan Mamik Makrifatin dari Ponkesdes Panji Husada memberikan pemeriksaan lanjutan sekaligus konsultasi kesehatan. Bagi warga dengan risiko tinggi, sesi ini menjadi ruang penting untuk memahami kondisi tubuh mereka dan langkah apa yang perlu diambil.

Suasana pemeriksaan dalam giat Posyandu ILP Anggrek 2 Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang

Sementara itu, kader Edy Hartutik melengkapi rangkaian layanan dengan penyuluhan kesehatan serta pemberian makanan tambahan (PMT), memastikan bahwa intervensi tidak berhenti pada diagnosis, tetapi juga edukasi dan pencegahan.

Dalam kurun waktu sekitar tiga setengah jam, mulai pukul 08.00 hingga 11.29 WIB, sebanyak 52 warga terlayani. Terdiri dari 10 anak usia sekolah dan remaja, 29 orang dewasa, serta 13 lansia. Sementara itu, pemeriksaan balita dan PAUD dilakukan pada Kamis (30/04) di tempat yang sama berhasil nelayani pemeriksaan balita dan anan PAUD sebanyak 30 jiwa. Angka ini mungkin terlihat sederhana, tetapi di baliknya tersimpan makna besar, yakni konsistensi partisipasi masyarakat yang terus tumbuh.

Yang menarik, perubahan paling nyata justru terlihat pada perilaku warga. Jika dulu pemeriksaan kesehatan gratis sering diabaikan, kini kehadiran di posyandu menjadi kebutuhan. Skrining kesehatan tidak lagi dianggap sebagai kewajiban sesaat, melainkan bagian dari gaya hidup.

Suasana haru ketika kader ketiban sampur dengan melakukan pengukuran tekanan darah pasien yang tak lain adalah “sohib hidupnya”

Pendampingan yang dilakukan Tim SMARThealth yang sekaligus menjadi Field Facilitator NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) dari Universitas Brawijaya, turut memastikan bahwa kegiatan ini tidak berjalan sendiri.

Ada kesinambungan, ada evaluasi, dan ada penguatan kapasitas kader dari waktu ke waktu. Dalam perspektif penelitian global seperti NIHR GHRC NCDs & EC, kesinambungan ini bukan sekadar aspek operasional, melainkan fondasi utama agar intervensi benar-benar berdampak, seperti halnya pada program SMARThealth Extend yang menjadikannya making a difference.

Sebagaimana ditegaskan oleh Maroof Khan, Community Engagement and Involvement Manager di The George Institute for Global Health (TGI), keterlibatan masyarakat yang dijaga secara konsisten adalah inti dari pemberdayaan komunitas. Melalui kesinambungan itulah, penelitian tidak berhenti pada pengumpulan data, tetapi tumbuh menjadi proses yang hidup, relevan, dan berkelanjutan dengan memberi makna nyata bagi masyarakat yang terlibat.

Setiap ikut berkegiatan dengan kader yang selalu diingat adalah “kumpul karo karo kader mesti diajak maem

Dalam konteks inilah, kesinambungan menjadi kunci. Seperti yang pernah diungkapkan Michael E. Porter, ahli terkemuka asal Amerika di bidang strategi kompetitif, daya saing ekonomi, dan solusi kompetitif untuk masalah sosial, dikenal sebagai “Bapak Strategi” serta menduduki peringkat 1 dalam “Thinkers 50“:

“Kemampuan untuk terus berubah secara efektif menjadi lebih mudah berkat kontinuitas tingkat tinggi.”

Kutipan ini terasa relevan dengan perjalanan Posyandu Anggrek 2 Kepanjen, bahwa perubahan yang berdampak tidak lahir dari program sesaat, melainkan dari upaya yang dijaga konsistensinya.

Kini, Posyandu Anggrek 2 bukan hanya tempat layanan kesehatan, tetapi juga ruang pemberdayaan. Tempat di mana kader, tenaga kesehatan, dan masyarakat bertemu dalam satu tujuan dengan menjaga kesehatan bersama. Dari langkah kecil yang dilakukan berulang, lahirlah perubahan besar yang perlahan mengakar.

Dan di setiap Sabtu pagi di awal bulan seperti ini, kesinambungan itu kembali dirawat dalam satu pemeriksaan, satu edukasi, satu warga dalam satu waktu. *** [020526]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment