“Your completion rate is the truest reflection of your reliability.” – Unknown
Tidak semua pengumpulan data dalam penelitian berjalan sebagaimana mestinya. Di enumeration area (EA) Bakalan, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, ada bagian yang sempat tertinggal, sejumlah ratusan partisipan yang belum teridentifikasi pada waktu enumerator melakukan pre-screening. Namun alih-alih menjadi akhir, temuan ini justru menjadi awal dari upaya baru dengan menyisir ulang, mendekat kembali, dan memastikan setiap data menemukan tempatnya.
Dalam dunia riset, completion rate bukan sekadar istilah teknis. Ia adalah cermin dari seberapa jauh sebuah kerja lapangan benar-benar mencapai targetnya. Angka ini menunjukkan persentase tugas yang berhasil diselesaikan dibandingkan dengan rencana awal yang menjadi sebuah indikator sederhana yang menyimpan makna besar, yaitu efektivitas, konsistensi, dan ketekunan.

Namun di Desa Bakalan, angka itu sempat goyah. Tim Theme 1 Primary Health Care Strengthening NIHR Universitas Brawijaya (UB), yang menjalankan dua tahapan penting, berupa Household Listing dan Pre-Screening, menemukan adanya selisih signifikan.
Sebanyak 389 partisipan yang tercatat dalam Household Listing tidak muncul dalam tahap pre-screening. Ketimpangan ini secara langsung menurunkan completion rate, sekaligus menjadi sinyal bahwa pendekatan yang ada perlu diperkuat.
Di titik inilah strategi revisit menjadi penting. Bukan sekadar mengulang kunjungan, tetapi memperbaiki cara mendekat. Tim Theme 1 Primary Health Care Strengthening NIHR UB memilih memberdayakan kader kesehatan setempat, orang-orang yang tidak hanya mengenal wilayah, tetapi juga memahami karakter warganya. Dibandingkan enumerator dari luar daerah, kader memiliki kedekatan emosional yang sulit ditiru.

Sepuluh hari sebelum turun lapangan, sepuluh kader kesehatan telah dibekali pelatihan intensif. Nama-nama seperti Endah Susanti, Farida, Laili Afita, Lilik Nur Aini, Masruroh, Mukasafah, Mulianah, Ning Priyanti, Nur Kholila, dan Riatiningsih, kini menjadi ujung tombak.
Mereka belajar bukan hanya soal teknis pengisian formulir persetujuan, tetapi juga penggunaan aplikasi SMARThealth serta praktik pengukuran kesehatan seperti tensi, laju pernapasan, dan oksimetri. Bekal ini menjadikan mereka lebih dari sekadar perpanjangan tangan tim riset, mereka menjadi representasi kepercayaan di tingkat desa.
Sabtu (18/04) pagi pukul 09.17 WIB, langkah itu benar-benar dimulai. Konsolidasi dilakukan di rumah bidan Ponkesdes Bakalan, Etty Retno Riatnawati, A.Md.Kep.. Di halaman belakang nan luas bekanopi itu, kader dan Tim Theme 1 Primary Health Care Strengthening NIHR UB kembali menyelaraskan langkah.

Hadir dalam kesempatan itu Raissa Manika Purwaningtias, S.Keb., Bid., M.Sc.; Meutia Fildzah Sharifira, SKM, MPH serta Cornelia Feliciana Tedjomuljono (mahasiswa magang NIHR UB), bersama Field Facilitator NIHR UB.
Raissa memimpin review penggunaan aplikasi SMARThealth untuk memastikan setiap kader memahami alur input data yang akan mereka lakukan saat revisit. Diskusi kemudian mengalir pada rencana aksi hari itu dengan rencana menyisir kembali rumah-rumah, mengetuk pintu, dan membuka percakapan yang mungkin sebelumnya belum sempat terjalin.
Menariknya, di tengah keseriusan agenda, suasana tetap terasa akrab. Pukul 10.30 WIB, hidangan lontong pecel tersaji, melengkapi aneka kudapan yang telah lebih dulu tersusun di atas tikar di halaman belakang tersebut. Momen sederhana ini menjadi pengikat, bahwa kerja besar sering kali tumbuh dari kebersamaan kecil.

Tak lama berselang, pukul 10.36 WIB, konsolidasi usai. Para kader bersiap melangkah, membawa misi yang lebih besar dari sekadar angka. Mereka membawa harapan untuk memperbaiki completion rate, sekaligus memastikan bahwa setiap individu yang sebelumnya terlewat kini mendapatkan perhatian yang sama.
Seperti sebuah ungkapan sederhana namun tajam maknanya:
“Tingkat penyelesaian Anda adalah cerminan paling akurat dari keandalan Anda.”
Di Desa Bakalan, kalimat itu bukan sekadar kutipan. Ia menjelma menjadi semangat kerja yang terlihat dalam langkah kaki kader yang menyusuri jalan desa, mengetuk pintu demi pintu, memastikan bahwa tidak ada lagi yang tertinggal dalam data, maupun dalam perhatian. *** [180426]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo