“You cannot assume to know someone’s culture by just looking at them… What we’re trying to do is open the aperture so it gets bigger and bigger.” — Jackson, Dean’s Forum on ‘The Pedagogy of Confidence‘
Pagi di Desa Krebet, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, terasa berbeda pada Sabtu (09/05). Di halaman Gedung Koperasi Merah Putih yang masih baru dan belum diresmikan penggunaannya, puluhan tamu dari berbagai fakultas kedokteran di Indonesia Timur berkumpul bersama warga desa.
Di tempat yang berdampingan dengan Bank Sampah Desa Krebet itu, semangat kolaborasi antara dunia akademik dan masyarakat tumbuh dalam suasana hangat dan penuh makna.

Hari itu, peserta Forum Dekan Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (FORDEK AIPKI) Wilayah V tidak hanya datang untuk berdiskusi mengenai pendidikan kedokteran. Mereka hadir untuk belajar langsung dari masyarakat, menyelami kehidupan desa, sekaligus menguatkan upaya kesehatan berbasis komunitas melalui kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk edukasi, pengobatan penyakit tidak menular (PTM) pada lansia, dan eco visit gerakan lingkungan berkelanjutan.
Sebelumnya, pada Jumat (08/05), Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB) sebagai tuan rumah FORDEK AIPKI Wilayah V telah mempertemukan sekitar 22 institusi pendidikan kedokteran dari Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT dalam forum akademik di Grand Mercure Malang Mirama.
Pertemuan tersebut menjadi ruang strategis untuk membahas tantangan pendidikan kedokteran yang semakin dinamis. Namun, di Desa Krebet, gagasan-gagasan itu diterjemahkan menjadi aksi nyata yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

Kegiatan dimulai pukul 08.30 WIB dengan sambutan budaya khas Malang, Tari Topeng Malangan yang dibawakan oleh Ibu Wahyu. Gerak tari yang sarat filosofi penghormatan kepada tamu itu seakan menjadi simbol keterbukaan masyarakat Desa Krebet dalam menerima para akademisi dan tenaga kesehatan. Di balik topeng-topeng yang menggambarkan karakter manusia, tersirat pesan bahwa setiap individu memiliki latar budaya dan pengalaman yang perlu dipahami lebih dalam.
Pesan tersebut selaras dengan kutipan pendidik asal Amerika Serikat, Yvette Jackson, dalam The Pedagogy of Confidence: Inspiring High Intellectual Performance in Urban Schools (2011), yang berbunyi:
“Anda tidak bisa berasumsi mengetahui budaya seseorang hanya dengan melihat mereka… Yang kami coba lakukan adalah membuka celah agar semakin besar dan luas.”

Kehadiran FORDEK AIPKI Wilayah V di Desa Krebet menjadi wujud nyata upaya membuka ruang yang lebih luas antara institusi pendidikan kedokteran dengan masyarakat, agar kesehatan tidak hanya dipahami dari sisi klinis, tetapi juga dari konteks sosial, budaya, dan lingkungan tempat masyarakat hidup.
Kepala Desa Krebet, Drs. H. Nurkholis, M.Si., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas pendampingan berkelanjutan dari NIHR Universitas Brawijaya yang selama ini membantu pengelolaan lingkungan desa. Menurutnya, bantuan 14 alat pendukung pengelolaan sampah bukan sekadar bernilai materi, tetapi juga menghadirkan pemberdayaan melalui pendampingan kader lingkungan.
Hal senada disampaikan Camat Bululawang, Hanindyo Daryawan P., S.STP., MAP. Ia berharap pendampingan tersebut dapat membangun kesadaran masyarakat untuk menghentikan praktik pembakaran sampah dan membuang sampah sembarangan.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Bululawang drg. Lely Kumalasari menyoroti kolaborasi antara NIHR UB, Dinas Kesehatan, dan Puskesmas dalam upaya pencegahan serta intervensi penyakit tidak menular di masyarakat.
Dekan FKUB sekaligus Ketua FORDEK AIPKI, Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si.Med., Sp.A.(K), menegaskan bahwa dunia kedokteran tidak dapat berkembang tanpa kerja sama lintas sektor. Karena itu, kegiatan di Desa Krebet menjadi kesempatan penting bagi insan pendidikan kedokteran untuk belajar langsung dari komunitas.
“Terima kasih karena kami diberi kesempatan belajar bersama masyarakat Desa Krebet,” ujar Prof. Barlianto.
Setelah penyerahan simbolik bantuan kepada kader lingkungan dan kader kesehatan, peserta diajak mengikuti eco visit yang dipandu Koordinator Bank Sampah NIHR UB, Sekar Aqila Salsabilla, S.AP., M.AP. Dengan iringan bantengan sebagai cucuk lampah, rombongan menelusuri berbagai titik pemberdayaan masyarakat yang telah berkembang di desa tersebut.

Mereka mengunjungi rumah produksi olahan pangan yang melayani produksi mie, abon, nugget, hingga jasa selep kopi dan daging. Perjalanan berlanjut menuju green house melon dan kolam budidaya ikan lele yang diharapkan dapat meningkatkan ekonomi warga.
Tak jauh dari sana, Bank Sampah Berkah Jaya Makmur menjadi salah satu titik yang paling menyita perhatian peserta. Di tempat itu, sepuluh kader lingkungan binaan NIHR UB memperlihatkan bagaimana pengelolaan sampah dapat menjadi gerakan ekonomi sekaligus edukasi lingkungan. Di tengah terik matahari, segelas es cendol yang disajikan warga menjadi simbol sederhana dari keramahan desa yang membekas bagi para tamu.
Kegiatan yang dimotori oleh dr. Holipah, Ph.D tersebut kemudian ditutup dengan pelayanan kesehatan gratis berupa skrining faktor risiko penyakit tidak menular bagi lansia. Sekitar 120 lansia tampak antusias mengikuti pemeriksaan yang dilayani oleh empat dokter, terdiri dari dua dokter umum serta dokter spesialis jantung dan saraf.

Pemeriksaan ini menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, terutama kelompok lansia yang selama ini rentan terpapar polusi akibat pembakaran sampah plastik.
Di sisi lain, kegiatan tersebut juga menjadi panggung pembuktian bagi kader kesehatan Desa Krebet yang sebelumnya telah mendapatkan pelatihan dari NIHR UB. Mereka tampak aktif membantu tenaga kesehatan dalam proses skrining, mendampingi warga, hingga memastikan pelayanan berjalan lancar.
Bagi FORDEK AIPKI Wilayah V, pengabdian masyarakat di Desa Krebet bukan sekadar agenda seremonial pendamping forum akademik. Kegiatan ini menjadi refleksi bahwa pendidikan kedokteran yang kuat harus bertumpu pada keberpihakan kepada masyarakat dan lingkungan.
Di Desa Krebet, para dekan dan akademisi belajar bahwa kesehatan tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dari lingkungan yang bersih, komunitas yang bergerak bersama, dan hubungan antarmanusia yang saling memahami. Sebab pada akhirnya, ilmu kedokteran bukan hanya tentang mengobati penyakit, tetapi juga tentang merawat kehidupan. *** [090526]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo