Merawat Sesama, Menjaga Diri: Kisah Giat Posyandu Flamboyan di Desa Sumberejo

As we work to create light for others, we naturally light our own way.” — Mary Anne Radmacher‍

Rabu (04/02) pagi itu, di sebelah timur Masjid Baitul Mu’minin, denyut kehidupan Desa Sumberejo terasa lebih hangat dari biasanya. Teras rumah Hj. Nur Wahidah di Dusun Bendo RT 22 RW 06 disulap menjadi ruang temu Kesehatan. Posyandu Flamboyan kembali berdenyut lewat Giat Integrasi Layanan Primer (ILP).

Sejak pukul 08.00 WIB, warga berdatangan dengan langkah santai namun penuh harap. Bayi digendong, balita digandeng, para lansia berjalan perlahan – semuanya menyatu dalam satu alur pelayanan yang rapi dan bersahaja.

Merawat Sesama, Menjaga Diri: Kisah Giat Posyandu Flamboyan di Desa Sumberejo
Kader Posyandu Falmboyan berpose dengan tenaga kesehatan Ponkesdes Sumberejo dan dokter muda dari FK Unisma

ILP hadir sebagai wajah baru layanan kesehatan dasar, yang menata dan menyatukan peran Puskesmas, Posyandu, dan Ponkesdes dalam pendekatan siklus hidup, dari ibu hamil hingga lansia. Tujuannya jelas, mendekatkan layanan kesehatan berkualitas dengan menekankan upaya promotif dan preventif melalui skrining terpadu dan kunjungan rumah.

Tujuh kader kesehatan Posyandu Flamboyan tampak sigap sejak awal. Mereka bahu-membahu bersama Bidan Irawati, A.Md.Kep. dan Perawat Hari Punomo, S.Kep.Ners. dari Ponkesdes Desa Sumberejo, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang.

Kehadiran tiga dokter muda dari Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang – Fachninza Ibrahim, Salsabila, dan Salsabila Milania – menambah semarak suasana. Balutan baju hijau muda yang mereka kenakan seolah menegaskan peran mereka sebagai insan kesehatan yang siap melayani.

Suasana giat Posyandu Flamboyan di Dusun Bendo RT 22 RW 06 Desa Sumberejo, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang

Meja panjang membujur dari utara ke selatan di sisi timur teras menjadi pusat alur layanan. Di sanalah kader Santi mencatat kehadiran warga satu per satu. Bayi ditimbang oleh kader Fitria, tinggi badannya diukur oleh Mutmainah, sementara balita yang sudah berjalan sendiri dan para lansia menjalani pengukuran antropometri di sisi selatan dekat tiang teras berwarna hijau. Semua hasil pengukuran dicatat teliti oleh Mardiyah dan dibukukan ke dalam KMS (Kartu Menuju Sehat) oleh Qomariah.

Usai proses awal, layanan pun terbagi. Ibu hamil, bayi, dan balita langsung menuju meja bidan untuk pemeriksaan lanjutan dan imunisasi lengkap, dengan vitamin A yang dibagikan penuh perhatian oleh kader Ngatini. Di sisi lain, para lansia diarahkan ke meja para koas. Di sana, tekanan darah diukur, kadar gula darah dicek, dan obrolan ringan berubah menjadi konseling kesehatan yang menenangkan.

Sebelum melayani pemeriksaan bumil dan ibu balita, bidan membantu perawat dalam imunisasi secara bergantian

Setelah seluruh rangkaian dilalui, senyum warga semakin lebar saat menerima Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dari tangan kader Atem. Hingga pukul 11.19 WIB, layanan berjalan tanpa jeda. Catatan rekapitulasi yang dihimpun oleh Field Facilitator Tim NIHR Universitas Brawijaya menunjukkan capaian pemeriksaan, yakni 5 ibu hamil, 25 bayi, 30 balita, dan 20 lansia terlayani.

Menjelang siang, suasana beralih menjadi lebih cair. Para kader yang sejak pagi melayani kini bergantian memeriksakan diri dan berkonsultasi dengan para dokter muda. Sebuah potret sederhana tentang timbal balik dan kepedulian.

Momen kemudian ditutup dengan foto bersama dan makan siang yang meriah. Meja panjang yang tadi menjadi pusat layanan kesehatan berubah menjadi etalase kebersamaan. Ada nasi tiwul dan nasi putih, sayur buncis, sop, dan asem, pindang tongkol, terong balado, sambal jeruk, tahu berontak, tempe dan tahu goreng, telur dadar, hingga weci tersaji tanpa sekat.

Kader berikan vitamin A untuk balita

Apa yang terjadi di Posyandu Flamboyan pagi itu bukan sekadar rutinitas bulanan. Ia adalah wujud kerja sunyi para relawan yang menyalakan terang bagi sesamanya. Seperti kata Mary Anne Radmacher, seorang penulis dan seniman asal Amerika Serikat:

“Saat kita berupaya menciptakan cahaya bagi orang lain, secara alami kita juga menerangi jalan kita sendiri.”

Para kader kesehatan di Desa Sumberejo telah membuktikannya, bahwa melayani dengan tulus, dan pada akhirnya, ikut merasakan hangatnya cahaya itu kembali pada diri mereka sendiri.

Ketiga koas fokus pada pemeriksaan dan konseling kepada lansia

Cahaya yang mereka nyalakan ternyata tidak berhenti pada warga yang dilayani. Di sela lelah yang terurai, para kader perlahan melangkah ke meja pemeriksaan para koas. Bukan lagi sebagai pelayan, melainkan sebagai insan yang juga berhak dirawat. Di sanalah makna kutipan Mary Anne Radmacher menemukan wujudnya. Ketika tangan-tangan tulus membantu sesama, jiwa mereka sendiri ikut diterangi.

Konsultasi singkat, pemeriksaan sederhana, dan obrolan hangat dengan tenaga kesehatan menjadi ruang jeda untuk menengok diri, merawat raga yang selama ini setia menopang pengabdian.

Posyandu Flamboyan pun menjelma lingkar cahaya yang utuh – memberi, menerima, lalu kembali menguatkan – sebuah pengingat sunyi bahwa kepedulian yang dibagikan dengan ikhlas selalu menemukan jalan pulang ke diri sendiri. *** [040226]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment