Pemeriksaan Spirometri Kedua: Tiga Puluh Napas dari Tamanagung

“Inhale to a count of 4; hold 4; exhale 6; hold 2. Repeat.” — James Nestor, Breath: The New Science of a Lost Art

Sabtu (26/09), aktivitas pemeriksaan spirometri berlangsung di dua desa. Setelah menghadiri pemeriksaan spirometri kelima di Desa Purwodadi pagi hingga menjelang siang, Field Facilitator NIHR UB melanjutkan perjalanan menuju Pendopo Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Tepat pukul 11.32 WIB, ia tiba di lokasi pemeriksaan spirometri kedua yang beralamat di Jalan Sraten No. 07, Dusun Krajan, RT 02/RW 04.

Kegiatan di Tamanagung sebenarnya telah dimulai sejak pukul 08.12 WIB. Sebanyak 35 responden hasil pre-screening yang teridentifikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) diundang untuk mengikuti pemeriksaan. Kegiatan ini menjadi wujud kolaborasi antara NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RS NU) Banyuwangi.

Di pendopo desa, tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) – Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos., Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes., dan Nisaul Rofifah, S.Gz. -menyambut para responden.

Pemeriksaan Spirometri Kedua: Tiga Puluh Napas dari Tamanagung
Meja 1: enumerator bersama kader lakukan registrasi dan verifikasi data responden

Mereka bekerja bersama lima kader kesehatan setempat, yakni Ade Fitria Ningsih, Binti Barurotul, Luckyta Anjarsari, Ninik Sutriani, dan Ratna Mujayanah. Para kader inilah yang sebelumnya membantu memobilisasi warga agar hadir dalam pemeriksaan.

Rangkaian pemeriksaan dibagi ke dalam empat meja. Proses dimulai dari meja pendaftaran. Di sana, Dysa bersama kader Binti melakukan registrasi serta memverifikasi data setiap responden. Setelah itu, warga dipersilakan menunggu di bangku antrean. Sambil menunggu giliran, Fauzan memberikan penjelasan mengenai teknik meniup alat spirometri agar pemeriksaan dapat berlangsung optimal.

Panggilan berikutnya datang dari meja 2 atau meja tanda-tanda vital (TTV). Ns. Dwi Rulyantin, S.Kep., mengukur berat badan, tekanan darah, dan kadar oksigen dalam darah melalui oksimetri. Setelahnya, Bidan Fath Syu’araanisa, A.Md.Keb., melakukan anamnesis menggunakan aplikasi SMARThealth untuk menggali kondisi kesehatan responden.

Sambil menunggu panggilan pemeriksaan, enumerator memanfaatkan waktu untuk berikan teknik menyebul kepada responden

Dari meja TTV, responden kembali menunggu atau langsung menuju meja spirometri apabila pemeriksaan sedang memungkinkan. Di meja ketiga, Ns. Marni Erlina, S.Kep., memandu tahap pertama pemeriksaan, yakni tes spirometri sebelum pemberian salbutamol. Dalam tes spirometri, Ns. Marni dibantu oleh Ns. Ratna Lauranida, S.Kep. dalam mengoperasikan alat spirometri MIR SpiroLab milik NIHR UB.

Spirometri merupakan pemeriksaan fisiologis untuk menilai fungsi paru-paru. Melalui alat tersebut, tenaga kesehatan mengukur kemampuan seseorang dalam menarik dan mengembuskan udara secara maksimal. Agar hasilnya sahih, pemeriksaan dilakukan sedikitnya tiga kali dengan metode yang valid dan dapat diulang. Jika hasilnya belum memenuhi kriteria reproduksibilitas, tes dapat diulang hingga delapan kali.

Setelah tahap pertama selesai, responden menerima semprotan salbutamol dan diminta beristirahat selama 20 menit. Obat tersebut diberikan untuk membantu melihat perubahan fungsi paru setelah saluran napas mendapatkan stimulasi. Seusai masa istirahat, responden menjalani pemeriksaan spirometri tahap kedua dengan prosedur yang sama.

Meja 2 atau meja TTV: perawat RS NU Banyuwangi melakukan pengukuran tekanan darah

Kedua tahap pemeriksaan disaksikan langsung oleh Ns. Elik Anistina, S.Kep., yang membantu NIHR UB mengawasi jalannya tes. Sementara itu, Rahmanurraudhotul Amin, SKM, yang ditunjuk oleh Theme 1: Primary Healthcare Strengthening, turut melakukan observasi menggunakan lembar checklist.

Pemeriksaan bagi setiap responden ditutup di meja apresiasi partisipasi. Di meja 4, Nisaul, dibantu kader Luckyta, menyerahkan konsumsi, vitamin, serta subsidi transportasi sebagai bentuk penghargaan atas kesediaan warga mengikuti seluruh rangkaian pemeriksaan.

Kegiatan berakhir pada pukul 13.26 WIB. Dari 35 warga yang diundang, sebanyak 30 orang berhasil menjalani pemeriksaan. Dua warga tidak hadir karena sedang membantu atau rewang di hajatan, dua lainnya sedang sakit, dan satu orang tidak memberikan keterangan. Enumerator dan kader bahkan sempat mendatangi rumah warga tersebut. Pada kunjungan pertama, ia masih menerima tamu, sedangkan saat didatangi kembali, rumahnya sudah tidak berpenghuni.

Tes spirometri

Di tengah rangkaian pemeriksaan yang menuntut ketepatan napas, kutipan James Nestor -jurnalis sains asal Amerika peraih penghargaan dan berkeliling dunia untuk mencari tahu apa yang keliru dalam evolusi car akita bernapas, dan bagaimnana memperbaikinya – dalam Breath: The New Science of a Lost Art (2020), terasa relevan:

“Tarik napas hingga hitungan ke-4; tahan 4; embuskan 6; tahan 2. Ulangi.”

Tarik napas selama empat hitungan, tahan empat hitungan, embuskan selama enam hitungan, lalu tahan dua hitungan – sebuah pengingat bahwa napas yang sehari-hari berlangsung tanpa disadari dapat menjadi pintu untuk mengenali kesehatan paru-paru.

Bagi warga Tamanagung itu, pemeriksaan ini bukan sekadar meniup alat. Di balik setiap tarikan dan hembusan napas, terdapat upaya untuk mendeteksi risiko lebih awal, memahami kondisi tubuh, dan membuka jalan menuju layanan kesehatan yang lebih tepat. *** [280926]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment