“How we breathe matters” — James Nestor, Breath: The New Science of a Lost Art
Mentari mulai meninggi ketika satu per satu warga tiba di sebuah rumah yang menghadap ke utara. Dari arah persawahan di depan rumah, angin berembus pelan, mengiringi langkah para responden menuju teras rumah kader kesehatan Restining Ayem di Dusun Krajan RT 03 RW 01, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi.
Pagi itu, Sabtu (26/09), rumah tersebut menjadi tempat pelaksanaan pemeriksaan spirometri kelima. Kegiatan yang dimulai pukul 08.20 WIB itu merupakan kolaborasi NIHR UB dan Rumah Sakit (RS) Yasmin Banyuwangi untuk memeriksa warga yang berdasarkan hasil pre-screening terindikasi memiliki faktor risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Sebanyak 27 responden diundang dalam pemeriksaan tersebut, ditambah dengan satu responden reschedule dari pemeriksaan spirometri kedua (19/09) yang dijadwalkan ulang dalam pemeriksaan spirometri kelima ini. Di tengah keterbatasan ruang, halaman rumah, teras, dan naungan pohon nangka berubah menjadi ruang pelayanan kesehatan yang hangat dan akrab.
Tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCD & EC) – Mega Wrida Silvia, SKM; Naylil Nur Amalya Putri, S.Sos.; Sinta Ningrum Widianingsih, SKM – dan tiga kader kesehatan setempat – Nurul Hidayati, Restining Ayem, dan Yuli Wulandari – menyiapkan penyambutan responden dalam pemeriksaan spirometri.
Di teras depan, meja pendaftaran menjadi pintu pertama bagi para responden. Enumerator Naylil Nur Amalya Putri, S.Sos., melakukan registrasi sekaligus memverifikasi data. Setelah itu, responden dipersilakan menunggu di kursi antrean. Sebagian kursi berada di dalam rumah, sementara lainnya ditempatkan di halaman, di bawah tajuk pohon nangka (Artocarpus heterophyllus).

Sambil menunggu panggilan, kader kesehatan Yuli Wulandari membantu responden mempelajari teknik meniup alat spirometri. Sesekali, enumerator yang sedang luang turut memberikan contoh. Latihan sederhana itu penting karena hasil pemeriksaan sangat bergantung pada kemampuan responden menarik dan mengembuskan napas sesuai arahan.
“Cara kita bernapas itu penting. Spirometri membantu melihat seberapa baik paru-paru menghirup dan mengeluarkan udara, termasuk mendeteksi gangguan seperti PPOK,” demikian pesan edukasi yang menguatkan kegiatan ini. Pemeriksaan spirometri memang mengukur volume udara yang dapat dihirup dan dihembuskan serta kecepatan udara ketika dikeluarkan dari paru-paru.
Alur pemeriksaan dimulai dari meja tanda-tanda vital (TTV) yang berada di sisi barat daya ruangan. Ns. Winda Nurhasanah, S.Kep., terlebih dahulu mengukur tekanan darah dan kadar oksigen responden menggunakan oksimeter. Setelah itu, dr. Handri Irawan, MMRS, melakukan anamnesis melalui aplikasi SMARThealth dan pemeriksaan fisik menggunakan stetoskop.

Dari meja TTV, responden berpindah ke meja spirometri yang berada di sebelah selatan. Di sana, Ns. Prisilia Rosa A., S.Kep., memandu manuver pernapasan, sementara Ns. Rizki Indrawangi, S.Kep., mengoperasikan laptop yang terhubung dengan alat spirometri.
Responden diminta mengembuskan napas melalui mouthpiece yang terhubung dengan spirometer. Alat tersebut kemudian mencatat hasil pemeriksaan dalam bentuk grafik dan angka, yang menggambarkan kapasitas vital paru serta kelancaran aliran udara di saluran pernapasan. Dalam pemeriksaan fungsi paru, responden umumnya diminta menarik napas sedalam mungkin, lalu mengembuskannya sekuat dan secepat mungkin melalui corong alat.
Pemeriksaan belum selesai setelah tahap pertama. Seusai menjalani spirometri pre-nebulisasi, responden kembali menuju meja TTV untuk menjalani nebulisasi. Perawat Khusnul Hotimah, A.Md.Kep., memberikan terapi inhalasi dengan mengubah obat cair menjadi kabut halus agar dapat dihirup langsung ke saluran pernapasan dan paru-paru.

Setelah beristirahat sejenak, responden dipanggil kembali untuk menjalani spirometri tahap kedua atau post-nebulisasi. Prosedurnya sama seperti tahap pertama. Perbandingan kedua hasil tersebut membantu tenaga kesehatan melihat respons saluran pernapasan setelah nebulisasi.
Pemeriksaan spirometri kelima di Desa Purwodadi ini juga sempat dihadiri Rahmanurraudhotul Amin, SKM., enumerator baseline survey Desa Kaliploso yang ditunjuk Theme 1: Primary Healthcare Strengthening untuk memotret grafik spirometri pada laptop. Enumerator baseline survey Desa Wringinagung, Muhammad Wisnu Nafiri, S.E., juga terlihat turut hadir mengamati jalannya kegiatan.
Setelah menyelesaikan pemeriksaan, responden kembali ke meja pendaftaran di teras. Di sana, kader Yuli menyerahkan konsumsi, hadiah, dan subsidi transportasi sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka.

Hingga kegiatan berakhir pukul 13.02 WIB, 26 responden berhasil menjalani pemeriksaan. Satu responden tidak hadir karena menolak, sedangkan satu responden yang sebelumnya dijadwalkan ulang tidak dapat datang karena mengalami sakit lambung akut, disertai mual dan muntah.
Di rumah sederhana yang dinaungi pohon nangka itu, napas tidak sekadar diembuskan. Ia diukur, dicatat, dan diperhatikan – sebagai ikhtiar agar gangguan paru dapat dikenali lebih dini dan warga Purwodadi memiliki kesempatan untuk menjaga napasnya tetap panjang. *** [270926]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo