Dari Balai Dusun Kalirejo, Ikhtiar Menjaga Kesehatan Warga Sepanjang Siklus Kehidupan

Pagi masih menunjukkan pukul sembilan ketika satu per satu warga mulai mendatangi Balai Dusun Kalirejo, Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring. Sejumlah ibu menggendong balitanya, beberapa lansia datang ditemani anggota keluarga, sementara warga usia produktif menunggu giliran pemeriksaan.

Di pendopo Balai Dusun yang berdampingan dengan Poskesdes itu, pelayanan kesehatan tidak hanya berlangsung sebagai rutinitas bulanan, tetapi menjadi ruang bertemunya kepedulian, edukasi, dan semangat gotong royong.

Gedung Poskesdes Kalirejo yang letaknya berdampingan dengan Balai Dusun Kalirejo

Kamis (16/7), Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB) bersama dua enumerator baseline survey Desa Kaliploso, Rahmanurraudhotul Amin, SKM dan Rafini Aminatul Hidayah, S.Tr.Gz., berkesempatan mengikuti secara langsung pelaksanaan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) Lestari 3 di Dusun Kalirejo RT 02 RW 07.

Posyandu ILP merupakan bagian dari transformasi pelayanan kesehatan primer yang dikembangkan Kementerian Kesehatan RI. Berbeda dengan konsep posyandu konvensional yang selama ini lebih identik dengan pelayanan ibu dan balita, ILP menghadirkan layanan kesehatan yang terintegrasi bagi seluruh kelompok umur. Mulai dari ibu hamil, bayi, anak-anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia memperoleh pelayanan dalam satu sistem yang saling terhubung.

Pelayanan pagi itu berlangsung berkat kolaborasi lima kader Posyandu – Bandiyah, Indah, Novita, Siti Sokiyah, dan Sutiyani – bersama Bidan Poskesdes Kalirejo, Ria Jumiastuti, A.Md.Keb. Masing-masing menjalankan perannya dengan sigap, memastikan setiap peserta memperoleh pelayanan sesuai alur yang telah ditetapkan.

Pengukuran tinggi badan balita yang dibantu orangtuanya

Setelah melakukan registrasi, peserta diarahkan menuju pemeriksaan antropometri dan tanda-tanda vital. Berat badan, tinggi badan, lingkar tubuh, hingga tekanan darah diperiksa secara teliti. Seluruh hasil pengukuran kemudian dicatat sebagai bagian dari rekam kesehatan warga.

Tidak berhenti pada pemeriksaan fisik, layanan ILP juga mengedepankan pendekatan promotif dan preventif. Kader bersama tenaga kesehatan melakukan skrining riwayat penyakit, menilai kondisi kesehatan sesuai kelompok usia, kemudian dilanjutkan dengan konsultasi, pelayanan keluarga berencana, imunisasi, penanganan masalah gizi, hingga pemeriksaan penunjang sederhana apabila diperlukan.

Tahapan terakhir justru menjadi salah satu yang paling penting. Setiap peserta memperoleh penyuluhan kesehatan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Edukasi mengenai pola makan, pencegahan penyakit, hingga langkah tindak lanjut diberikan secara personal sehingga warga tidak hanya mengetahui kondisi kesehatannya, tetapi juga memahami cara menjaganya.

Dua enumerator baseline survey Desa Kaliploso berbincang dengan warga yang hadir dalam giat Posyandu Lestari 3 Desa Kaliploso

Semangat promotif tersebut semakin terasa melalui rangkaian penyuluhan kesehatan yang melengkapi kegiatan Posyandu. Bidan Ria Jumiastuti, A.Md.Keb memberikan edukasi mengenai pentingnya pemeriksaan HPV DNA sebagai upaya deteksi dini kanker serviks, sekaligus mengingatkan pentingnya imunisasi Tetanus Toksoid (TT) bagi Wanita Usia Subur dan calon pengantin. Imunisasi TT menjadi salah satu perlindungan penting bagi ibu dan bayi baru lahir dari risiko tetanus neonatorum.

Sementara itu, Penanggung Jawab Program ISPA Puskesmas Tampo, Winda Eka Bintarini, S.Kep., Ns., mengajak peserta memahami penyebab, gejala, dan cara mencegah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Melalui penyuluhan tersebut, warga diajak membiasakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti mencuci tangan, menggunakan masker ketika sakit, serta menjaga kualitas udara di lingkungan rumah.

Di sela kegiatan, Field Facilitator NIHR UB juga berdiskusi mengenai kondisi ISPA di Desa Kaliploso. Berdasarkan data Puskesmas Tampo, jumlah kasus ISPA di desa ini relatif rendah. Kasus pada balita berkisar dua hingga lima anak, kelompok usia dewasa sekitar lima hingga enam orang, sedangkan lansia sekitar tiga orang.

Salah seorang kader berikan edukasi KMS kepada keluarga balita dalam giat Posyandu Lestari 3

Meski demikian, tantangan kesehatan lingkungan masih menjadi perhatian. Paparan asap rokok terhadap balita serta kebiasaan membakar sampah dan dedaunan di pekarangan rumah masih menjadi faktor yang berkontribusi terhadap munculnya gangguan saluran pernapasan. Edukasi kepada masyarakat pun terus dilakukan agar kebiasaan tersebut perlahan dapat berubah.

Menjelang pukul 10.46 WIB, pelayanan Posyandu ILP Lestari 3 resmi berakhir. Dalam satu pagi, sebanyak 20 balita, 4 ibu menyusui, 5 warga pra lansia, dan 11 lansia telah memperoleh pelayanan kesehatan.

Bagi sebagian orang, Posyandu mungkin hanya dipandang sebagai tempat penimbangan balita. Namun, pagi itu di Balai Dusun Kalirejo memperlihatkan wajah lain dari Posyandu masa kini.

Field Facilitator NIHR UB menyaksikan pengukuran tekanan darah dan cek kadar gula darah yang dilakukan oleh bidan Poskesdes Kalirejo

Melalui pendekatan Integrasi Layanan Primer, Posyandu berkembang menjadi pusat pelayanan kesehatan masyarakat yang menjangkau seluruh siklus kehidupan. Di sana, pemeriksaan kesehatan berpadu dengan edukasi, kader bekerja bersama tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun budaya hidup sehat.

Inisiatif seperti inilah yang menjadi fondasi penguatan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Ketika layanan kesehatan hadir semakin dekat dengan warga, upaya pencegahan penyakit dapat dilakukan lebih dini, kesadaran hidup sehat terus tumbuh, dan kualitas hidup masyarakat desa pun perlahan meningkat. *** [170726]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment